Jembatan Kaca Pertama di Indonesia Sudah Dibuka, Berani Coba?


SURATKABAR.ID – Terinspirasi dari pemukiman di Rio De Jeneiro Brazil, Kampung Warna-warni di Kelurahan Jodipan dan Kampung Tridi di Kelurahan Kesatrian, Malang, saat ini menjadi sangat tersohor di mata dunia. Betapa tidak, perkampungan nan colourful tersebut mampu membuat kunjungan wisatawan menyemut dan merubunginya. Kini Kampung Warna-warni bahkan dipercantik dengan kehadiran sebuah jembatan kaca bernama Ngalam Indonesia. Jembatan inilah yang menghubungkan Kampung Warna-warni dan Kampung Tridi tersebut.

Wali Kota Malang M. Anton meresmikan jembatan Ngalam Indonesia pada Senin pagi (9/10/2017). Kehadiran jembatan ini tentu sangat berarti bagi warga kampung Jodipan dan Kesatrian. Pasalnya, pengelolaan jembatan itu diserahkan kepada mereka. Demikian seperti dikutip dari reportase JawaPos.com, Selasa (10/10/2017).

Jembatan kaca Ngalam Indonesia sendiri merupakan jembatan kaca pertama di Indonesia. Tingginya mencapai 9,5 meter atau 427 meter di atas permukaan laut. Jembatan yang menghabiskan dana Rp 1,2 miliar itu dibangun dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana), yang bekerja sama dengan Pemkot Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Melintas di atas jembatan penyeberangan mungkin sudah biasa. Saat kaki melangkah naik turun tangga, letih pasti terasa. Namun sensasinya tentu berbeda jika alas jembatan yang kita pijak terbuat dari kaca.

Baca juga: APBD Daerah Ini Ludes Hanya untuk Gaji PNS

Kampung Jodipan terletak di sisi Selatan Jembatan. Ada 49 anak tangga untuk mencapai puncak. Setibanya di atas, Anda akan langsung disuguhi pemandangan berwarna dari atap-atap rumah warga kedua kampung tersebut. Saat tiba di atas, Anda harus bergantian untuk melintasi jembatan. Ini dikarenakan jembatan yang dibangun dari bahan kaca tempered dan laminated itu hanya bisa menahan beban hingga 250 kg atau kira-kira sebanyak 50 orang.

Setelah menunggu antrean, tim wartawan sempat ikut berjalan ke tengah jembatan. Sekeliling mata memandang ke depan, panoramanya sungguh indah. Warna-warni cerah atap rumah warga bisa jadi sarana cuci mata. Jembatan berwarna kuning keemasan itu seolah melengkapi gradasi warna kampung Jodipan dan Kesatrian.

Namun bukan berarti menyeberangi dua kampung lewat jembatan kaca itu tidak ada tantangannya. Anda takut ketinggian? Jangan sampai melihat ke bawah. Karena tentu saja dengan alas kaca, Anda akan merasa melayang di atas. Lutut pun bisa ngilu dan gemetaran dibuatnya. Namun sebagai upah dari keberanian Anda, Anda bisa melihat semua pemandangan indah yang ada yang di bawah, mulai daratannya bahkan sampai aliran sungai Brantas.

Bayangan orang yang phobia ketinggian tentu aneh-aneh. Namun jembatan ini seperti jembatan kaca Zhangjiangjie yang berada di Tiongkok—meski tidak persis sama (jembatan kaca Zhangjiangjie seluruhnya full terbuat dari kaca, jembatan Ngalam Indonesia tidak). Bayangkan saja rasanya, dengkul jadi lemas saking deg-degannya.

Sampai di tengah, tim media makin merinding. Terpaan angin cukup membuat jembatan bergoyang. Di sisi Utara jembatan itu memang dipasang tali baja sebanyak enam buah. Jadi desain jembatan ini seolah seperti separuh jembatan beton dan separuhnya lagi jembatan gantung.

Ternyata ada juga warga yang sempat takut saat berada di tengah. “Ayo cepetan, foto-fotone nang pinggir ae. Medeni tibake,” ujar seorang perempuan yang mengajak teman-temannya agar segera bergegas dari tengah jembatan.

Peresmian jembatan kaca sepanjang 20 meter itu dimanfaatkan pengunjung untuk mengabadikan momen. Ada yang berswafoto, ada pula yang wefie. Sayang rasanya jika keelokan warna Jodipan dan Kesatrian dilewatkan begitu saja. Bahkan kalau pas momennya, pengunjung bisa berfoto dengan latar belakang kereta api yang tengah melintas di jembatan yang lokasinya sekitar 200 meter dari jembatan kaca.

Wali Kota Malang M. Anton berpesan agar warga kedua kampung tersebut bisa merawat jembatan kaca dengan baik. “Ini jadi impian warga kampung Jodipan dan Kesatrian. Semoga semakin Go Internasional,” pesannya saat memberikan sambutan.

Senada dengan Anton, Vice President PT Indana, Steven Sugiharto menuturkan, kehadiran jembatan tersebut semakin melengkapi pariwisata Kota Malang. Dulu, kedua kampung itu terlihat kumuh. “Sekarang kesan (kumuh) itu hilang. Semoga semakin meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar,” tandas Steven.

Apa yang dilakukan PT Inti Daya Guna Aneka Warna (Indana) bersama Pemkot Malang dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) merupakan bentuk perubahan dalam memberikan pelayanan akses untuk masyarakat di dua kampung yang selama ini terpisah dengan sungai. Gerakan dari Pemkot Malang ini dapat dikatakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang melakukan perubahan mental. GNRM ini bagian dari program oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Baca juga: Karena Hal Ini, Menteri Rini Minta Jasa Marga Jual Jalan Tol Atas Laut Bali

Melansir laporan Detiknews.com, untuk bisa menikmati sensasi berjalan di atas jembatan kaca dan melihat keindahan Kampung Warna-Warni, Anda hanya perlu mengeluarkan uang sebesar Rp 4.000 saja. Jika Anda penasaran untuk berkunjung, Anda tak perlu takut karena tidak semua alas jembatan terbuat dari kaca. Kaca hanya terpasang pada bagian tengah dan dinding jembatan. Berani coba?