Lengkap! Ini 5 Fakta Penting Kasus Dugaan Penganiayaan yang Menjerat Bahar bin Smith


    SURATKABAR.ID – Aparat kepolisian terus melakukan penyelidikan terhadap kasus dugaan penganiayaan terhadap dua remaja, di mana Bahar bin Ali bin Smith menjadi terduga pelaku. Beberapa bukti kuat berupa foto dan video dari ponsel milik ayah salah seorang korban dibeberkan polisi.

    Foto tersebut, seperti yang dilansir dari laman Kompas.com pada Kamis (20/12/2018), menjelaskan suasana penjemputan paksa yang dilakukan oleh para tersangka terhadap CAJ. Hingga berakhir pada aksi penganiayaan oleh Habib Bahar.

    Polisi juga mengantongi informasi bahwa Bahar bin Smith memiliki niatan untuk kabur dan bahkan sampai mengganti namanya menjadi Rizal. Pihak kepolisian menegaskan kasus yang menjerat Bahar kali ini sama sekali tak ada kaitan dengan profesinya.

    1. Bukti Foto Ketika Bahar Menganiaya Dua Anak

    Direskrimum Mapolda Jabar Kombes Iksantyo Bagus menunjukkan barang bukti berupa foto yang semakin menguatkan alasan penetapan tersangka terhadap Bahar bin Ali bin Smith di Mapolda Jabar, pada Selasa (18/12) malam.

    Bagus menuturkan bahwa foto-foto tersebut diambil diam-diam menggunakan ponsel milik orangtua CAJ. Foto-foto itu memperlihatkan dari awal kedatangan para tersangka menjemput paksa CAJ hingga penganiayaan oleh para tersangka.

    Baca Juga: Habib Bahar Disebut Berniat Kabur dan Sempat Ganti Nama, Pengacaranya Langsung Buka Suara

    Selain itu, Bagus juga mengungkapkan dalam bukti foto terlihat kendaraan Toyota Land Cruiser bernopol B 1 MPR yang dikendarai para tersangka ketika menjemput paksa korban CAJ. “Ini belum kami lakukan penyelidikan apakah nomor polisinya asli atau palsu,” tuturnya.

    Berbekal foto-foto tersebut, penyidik menduga BS memelintir tangan korban dan lutut yang masuk sampai mengenai wajah korban. “BS diduga kuat melakukan penganiayaan. Maka kami kenakan Pasal 351 Ayat 2 karena luka berat. Pidana penjara paling lama 5 tahun,” ujar Bagus.

    2. Alasan Foto dan Video Tak Dibeberkan Seluruhnya

    Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto memberikan alasan mengapa tayangan foto dan video yang disita pihak penyidik tak diperlihatkan secara utuh. Ia menjelaskan bahwa, semua barang bukti tersebut hanya digunakan untuk kepentingan penyidikan di pengadilan.

    “Kami tak mungkin membuka karena itu (foto dan video) selain kami gunakan untuk kepentingan penyidikan di pengadilan saat sidang, juga kami tak boleh melanggar UU ITE,” demikian penjelasan Irjen Agung Budi Maryoto.

    “Jadi supaya kami paham, videonya lengkap sekali. Kami sita untuk berita acara dan diserahkan ke jaksa penuntut umum untuk persidangan. Termasuk juga keterangan dua orang tersangka yang sudah kami tahan di Bogor, mengaku dia diperintahkan saudara BS,” tambahnya.

    3. Rencana Pelarian Diri Hingga Berhanti nama

    Polisi berhasil menggagalkan rencana Bahar bin Smith untuk melarikan diri dari jeratan kasus dugaan penganiayaan dua remaja di Bogor. Menurut informasi yang didapatkan polisi, jika bisa meloloskan diri, ia diduga bakalan mengganti namanya menjadi Rizal.

    “Adanya informasi tersangka BS akan melarikan diri dan adanya perintah dari pimpinan tertingginya untuk diamankan,” terang Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo pada Selasa (18/12) malam.

    Ia menambahkan, dari informasi tim penyidik di lapangan, Bahar diketahui menggunakan alat komunikasi dan menggunakan nama inisial Rizal. Menurut Dedi, informasi tersebut semakin menguatkan penyidik untuk segera menahan Bahar bin Smith.

    “(Penahanan) untuk kasus penganiayaan dilakukan oleh tiga orang dan korban masih di bawah umur,” imbuh Dedi.

    4. Kronologi Penganiayaan MZ (17) dan CAJ (18)

    Kombes Iksyanyo Bagus menjelaskan, pada Sabtu (1/12) lalu, lima orang tersangka suruhan Bahar bin Smith mendatangi korban CAJ. Kelima tersangka tersebut datang dengan mengendarai dua mobil Toyota Avanza warna hitam dan Toyota Land Cruiser.

    “Penjemputan ini atas perintah BS, menurut BAP dari keterangan saksi, saksi korban, termasuk orangtua CAJ,” tutur Bagus sembari memaparkan bukti foto penyidikan.

    Ketika itu, orangtua CAJ sebenarnya sempat menghalangi kelima tersangka. Akan tetapi atas perintah Bahar, CAJ dan orangtuanya ikut digiring ke pondok pesantren. Dalam perjalanan menuju pondok pesantren, para tersangka sudah melancarkan penganiayaan kepada korban.

    Begitu tiba di pondok pesantren, Bahar diduga melakukan penganiayaan kepada CAJ. Sama halnya dengan korban CAJ, MZ juga dianiaya di belakang pondok pesantren. Tak berhenti menganiaya, para tersangka menggunduli korban-korbannya.

    Pukul 23.00 WIB, kedua korban akhirnya dipulangkan setelah tubuhnya dipenuhi luka. “Ini semua (penganiayaan) dilakukan di pondok pesantren,” jelas Kombes Iksantyo.

    5. Dukungan KPAI atas Tindakan Tegas Polisi

    Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan pihaknya mendukung Kepolisian Daerah Jawa Barat yang menetapkan status tersangka terhadap Bahar bin Ali bin Smith dan melakukan penahanan.

    “Polisi tidak boleh kalah dengan tekanan pihak tertentu. Hukum harus ditegakkan,” tandas Komisioner KPAI Retno Listyarti melalui keterangan tertulisnya pada Rabu (19/12).

    Retno lebih lanjut mengungkapkan bahwa pihaknya sangat menyesalkan dan mengecam keras atas terjadinya dugaan penganiayaan alias kekerasan fisik oleh Bahar bin Smith. Terlebih lagi adanya dugaan penjemputan paksa terhadan korban dari rumahnya hingga mengalami penyiksaan selama beberapa jam.