Bacakan Kebijakan Donald Trump Soal Imigran Gelap, Presenter Berita Ini Langsung Nangis


SURATKABAR.ID – Rachel Maddow, seorang presenter berita dari MSNBC tiba-tiba begitu emosional dan menangis ketika membacakan kebijakan imigrasi yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

Dilansir tribunnews.com, Kamis (21/6/2018), Daily Mirror mengungkapkan, presenter ini awalnya membacakan berita yang baru masuk dari Associated Press.

Saat membacakan berita tersebut, Maddow langsung terkejut saat mengetahui bahwa Trump berencana memisahkan anak-anak imigran gelap dari orangtuanya.

Kebijakan ini menyebutkan, anak-anak imigran gelap akan ditempatkan di sebuah penampungan “usia muda” yang terletak di Combes, Raymondville, dan Brownsville di Texas Selatan.

“Wow, ini sangat menakjubkan,” ujarnya tercekat.

Baca juga: Mengejutkan! AS Nyatakan Mundur dari Dewan HAM PBB

Sebelum melanjutkan membaca berita tersebut, Maddow sempat terdiam beberapa saat. “Pemerintahan Trump baru saja mengirim bayi dan anak-anak ke Texas Selatan,” lanjutnya.

Setelah membacakan bagian ini, Maddow kembali terdiam dan terlihat emosional. Dia sempat meminta produser menayangkan gambar.

Namun, karena tak ada gambar yang disiapkan, ia melanjutkan membaca berita tersebut. Tapi, lagi-lagi Maddow terdiam. Tak sanggup menahan emosinya yang meluap, Maddow membaca berita tersebut terbata-bata karena menahan tangis.

Ia kemudian memutuskan menyudahi program yang dipandunya tersebut lebih awal. Setelah peristiwa itu, penyiar asal California ini meminta maaf melalui cuitan di Twitter.

“Adalah pekerjaan saya untuk membacakannya di televisi. Namun, saya tidak sanggup untuk membacanya. Sekali lagi saya minta maaf,” tulisnya.

Sebagai permintaan maaf, ia pun membagikan berita yang seharusnya ia bacakan melalui enam kicauan di Twitter. Dalam berita itu disampaikan bahwa AS memisahkan anak-anak dari orangtuanya di perbatasan.

Sementara kuasa hukum dan penyedia layanan kesehatan yang mengunjungi tiga tempat penampungan anak yang telah disiapkan mengatakan bahwa ruang bermain untuk anak prasekolah dalam kondisi krisis.

Sebelumnya, Jaksa Agung Jeff Session mengumumkan kebijakan “toleransi nol” sebagai tindakan terhadap imigran gelap pada 7 Mei 2018 lalu.

Kebijakan ini memutuskan bahwa orang-orang yang melintasi perbatasan secara ilegal akan ditangkap dengan tuduhan kriminal. Kemudian, anak-anak juga akan dipisahkan dari orang tuanya.

Hanya dalam waktu lima minggu setelah kebijakan ini diumumkan, lebih dari 2.300 anak dipisahkan dari orang tua dan kerabat mereka untuk diserahkan ke Pusat Penampungan Pengungsi (ORR) milik Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan.

Usia anak-anak ini pun beragam mulai dari 1 hingga 18 tahun. Di tempat penampungan tak sedikit yang tidur di atas tikar pada lantai beton yang dikelilingi pagar layaknya kandang.