Jadi Tradisi Rutin saat Lebaran. Sudah Tahu Asal-Usul Mudik? Kamu Ngga Akan Nyangka!


SURATKABAR.ID Khusunya di Indonesia, tradisi mudik atau pulang kampung bukanlah hal yang asing lagi menjelang atau setelah Lebaran. Meski mereka tahu bahwa lalu lintas biasanya sangat padat bahkan hingga terjadi macet panjang, itu tak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap kembali ke kampung halaman merayakan Lebaran.

Ada yang mudik dengan trasportasi umum, ada pula yang rela bermacet-macet ria menggunakan kendaraan pribadi.

Dilansir dari laman Tribunnews.com pada Senin (11/6/2018). Sebenarnya, Tradisi mudik ini telah ada sejak zaman kerajaan Majapahit. Mudik merupakan tradisi para petani Jawa yang dulu merantau dan akan pulang ke kampung halamannya untuk membersihkan makan leluhur.

Hal tersebut dilakukan untuk mememinta keselamatan dan mencari rezeki. Akan tetapi istilah mudik baru dikenal setelah tahun 70-an.

Mudik memang tiadak haya ada di Indonesia, namun kata mudik benar-benar asli Indonesia.

Baca Juga: Kreatif! Ditinggal Mudik Desainernya, Spanduk Lebaran Produk Minuman ini Bikin Ngakak

Terkusus Jawa. Mudik merupakan kegiatan perantau atau pekerja migran yang kembali ke kampung halamannya.

Namun kenyataanya mudik berasal dari bahasa Jawa yang merupakan singkatan dari “mulih dilik”. Dalam bahasa Indonesia “mulih dilik” diartikan sebagai pulang sebentar.

Istilah mudik pun juga dihubungkan dengan kata ‘udik’ yang berarti kampung, dusun, atau desa.

Ada pula pendapat yang mengatakan jika mudik berasal dari Bahasa Betawi yang artinya ‘menuju udik’ atau menuju kampung. Jadi sebenarnya kata mudik ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Lebaran.

Diketahui, Jakarta adalah tempat mengubah nasib untuk mencari kerja. Jelang Idul Fitri, para pekerja yang merantai di Jakarta pun mendapatkan libur panjang untuk bisa pulang

Mudik bagi perantau di ibu kota juga bertujuan untuk menunjukkan keberhasilannya kepada orang-orang di kampung halamannya.

Alhasil memen ini pun akhirnya berkembang dan dikenal banyak orang.