Menakar Usia Ideal Untuk Menikah Menurut Riset Ilmiah, Kapan Waktu yang Tepat?


    SURATKABAR.ID – Salah satu hal yang paling mengenaskan untuk para lajang adalah ketika berbicara soal menikah dan ditanya, “kapan?”. Meski demikian, tiap orang tentu punya jawabannya masing-masing dan hal itu sifatnya relatif. Pasalnya, menikah mungkin mudah, tapi lain halnya dengan membangun rumah tangga. Itu bukanlah perkara mudah.

    Diperlukan kesiapan, kematangan dan kemantapan dari kedua belah pihak dalam berbagai aspek kehidupan mereka—terutama secara mental, emosional dan finansial. Jadi mustahil jika waktunya harus selalu sama—setidaknya demikianlah jika mempertimbangkan preferensi setiap orang yang berbeda-beda. Tapi apa kata sains soal ini? Dilansir dari iflscience, ternyata ada perhitungan optimalnya lho kapan seharusnya seseorang menikah.

    Baca secara lebih lengkap di sini, seperti dikutip dari laporan IDNTimes.com, Kamis (10/05/2018).

    1. Sebuah penelitian khusus tentang pernikahan di tahun 2015 melakukan penjaringan data online yang serius

    Ada 3 macam analisis dari hasil pengumpulan data tersebut dan para peneliti berusaha menemukan waktu optimal untuk seseorang menikah, secara rata-rata. Dari data tersebut, salah satu catatan yang perlu digarisbawahi adalah tingkat perceraian semakin rendah bagi mereka yang menikah di usia 20-an.

    Baca juga: Orang yang Selingkuh Pasti Akan Merasakan Ini, Jangan Sampai Anda Salah Satunya!

    2. Pernikahan di usia remaja tercatat memiliki risiko perceraian lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya

    Ini bukan hal mengejutkan mengingat memang banyak faktor pemicu perceraian dari pernikahan dini. Misalnya stigma sosial, ketidaksetujuan orangtua dan kepribadian yang drastis berkembang dari kedua belah pihak. Sedikit pemicu akan bisa menggoyahkan rumah tangga hasil pernikahan dini.

    3. Menginjak usia 25 tahun ke atas, risiko perceraiannya bervariasi, sementara menikah di atas usia 40 tahun menunjukkan risiko tingkat perceraian yang paling rendah

    Tingkat perceraian terendah ada pada mereka yang menikah pada usia 20-an akhir atau awal 30-an. Sedangkan untuk usia 30-an tengah sampai 40 tahun, tingkat risiko perceraiannya sama tingginya dengan pernikahan dini/remaja. Melewati usia 32 tahun, risiko perceraian meningkat 5% tiap 1 tahun usia yang lebih tua.

    4. Ada beberapa jawaban usia optimum untuk menikah, tergantung dari tujuan utama dan apa yang kamu cari

    Menurut penelitian dari University of Maryland, usia menikah terbaik jika dilihat dari tingkat risiko perceraian terendah adalah pada saat usia 45-49 tahun. Ya, untuk mayoritas budaya, itu adalah usia menikah yang sudah sangat terlambat. Namun kalau kamu mencari usia yang paling aman dari perceraian dibandingkan usia lainnya, itulah jawabannya.

    Aturan “37 %”

    Sedangkan analisis terbaru oleh ilmuwan kognitif menyatakan bahwa kita perlu menggunakan “aturan 37%”. Kita harus menghabiskan 37% dari jangka waktu kita mampu menjalin hubungan spesial dengan seseorang, untuk akhirnya memutuskan bisa mantap dengannya dan mendapatkan cukup pengalaman untuk berinteraksi secara spesial.

    Usia normal rata-rata seorang berkencan adalah mulai 18-40 tahun. Jadi, jika menggunakan “aturan 37%” pada jangka waktu tersebut, maka usia optimal rata-rata bagi seseorang untuk menikah adalah pada umur 26 tahun.

    Itulah pandangan sains soal usia menikah, berdasarkan perhitungan yang mempertimbangkan aspek psikologis, kesehatan, adat, struktur keluarga, pendidikan, tradisi agama dan catatan aktivitas seksual. Penelitian ini diadakan utamanya oleh Institute of Family Studies (IFS).

    28-32 Tahun

    Sementara itu, melansir laporan Wolipop.Detik.com, sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti dari University of Utah, AS, menunjukkan bahwa usia terbaik seseorang untuk menikah adalah antara 28-32 tahun. Menikah dalam rentang usia ini diyakini akan menurunkan risiko perceraian di lima tahun pertama usia pernikahan.

    Dipublikasikan juga dalam Institute of Family Studies, studi ini menguatkan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa menikah di usia matang akan membuat hubungan rumah tangga lebih stabil. Oleh karena itu risiko perceraian pun bisa diminimalisir.

    Untuk menyelesaikan penelitian ini, Nick Wolfinger, seorang sosiolog dari University of Utah menggunakan data dari National Survey of Family Growth pada 2006-2010 dan 2011-2013. Dari analisa data, Nick melihat adanya pola yang berbentuk seperti huruf ‘U’.

    Ujung huruf ‘U’ di sebelah kiri didefinisikan sebagai masa kanak-kanak sedangkan ujung ‘U’ sebelah kanan menggambarkan masa tua. Seperti dikutip dari Self, Nick melaporkan bahwa posisi ‘U’ ketika Anda menikah bisa menentukan seberapa kuat pernikahan Anda bertahan. Dan risiko perceraian paling kecil jika Anda menikah saat usia berada di bagian paling bawah huruf ‘U’ (bagian huruf ‘U’ yang melengkung).

    Bagian tersebut, ternyata diisi oleh usia 28 hingga 32 tahun dan dinyatakan sebagai usia ideal untuk menikah. Dengan catatan, apabila Anda ingin meminimalisir risiko bercerai, bukan faktor lainnya.

    Perlu diperhatikan, dalam penelitian ini usia ideal yang dimaksud, tidak berkaitan dengan kondisi fungsi reproduksi atau faktor-faktor fisik lainnya. Tapi lebih fokus pada penekanan angka perceraian di lima tahun pertama pernikahan.

    Orang-orang yang sudah berusia 28 tahun umumnya lebih bijaksana, matang dalam berpikir dan memiliki kehidupan ekonomi yang lebih mapan. Dua hal tersebut tentu dibutuhkan untuk mempertahankan rumah tangga. Namun usia ideal untuk menikah memang bisa berbeda pada masing-masing orang, tergantung dari kesiapan dam kematangan mental serta berbagai faktor lainnya yang tak kalah penting dan juga signifikan.