Kisah Heroik Diplomat Iran Muslim yang Selamatkan Yahudi dari Holocaust


SURATKABAR.ID – Pada Perang Dunia II, ada banyak umat muslim yang turut memberikan kontribusi. Banyak dari mereka yang ikut menyelamatkan nyawa orang-orang Yahudi dalam tragedi Holocaust. Menurut catatan sejarah, ada 70 pahlawan muslim yang menyelamatkan banyak orang Yahudi dari Holocaust. Salah satunya adalah Abdol Hossein Sardari, seorang diplomat Iran yang menyelamatkan ribuan Yahudi Prancis dengan menyebut mereka sebagai warga Iran.

Melansir laporan Tirto.ID, Kamis (01/03/2018), bayangan kisah kemanusiaan pada periode terburuk sejarah Eropa pada Perang Dunia II selama ini hampir selalu menyasar pada sosok Oskar Schindler. Seorang pengusaha yang juga dikenal aktif sebagai anggota Partai Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau yang lebih dikenal dengan singkatannya: NAZI.

Sepak terjang Schindler dalam menyelamatkan ribuan Yahudi saat kampanye anti-semit NAZI selama periode Perang Dunia II memang begitu melegenda. Apalagi setelah Steven Spielberg meriwayatkannya kembali ke panggung Hollywood melalui film Schindler’s List pada 1993.

“Mereka telah mempertaruhkan hidup mereka untuk menyelamatkan kami,” tutur Johanna Neumann (86 tahun), seorang Yahudi yang tengah mengenang orang-orang hebat tersebut kepada Time.

Neumann tak hanya mengenang kisah Schindler yang menyelamatkan Yahudi dengan menyelundupkan mereka sebagai buruh pabriknya di Krakow, Polandia. Upaya menyelamatkan 1.300 Yahudi di Polandia ini hanyalah satu dari banyak kisah penyelamatan ratusan ribu (beberapa sumber menyebut jutaan) Yahudi yang dibantai saat itu.

Neumann juga mengenang juga aksi orang-orang muslim di banyak wilayah yang membantu penyelamatan orang-orang Yahudi dari tragedi Holocaust.

Kisah-kisah mereka tak banyak direkam sejarah. Salah satunya adalah kisah Abdol Hossein Sardari, seorang diplomat/ konsulat dari Iran.

“Schindler dari Iran” Selamatkan 2000 Orang Yahudi

Apa yang dilakukan Konsulat Iran untuk Prancis ini sama heroiknya dengan aksi Schindler. Itulah sebabnya Sardari juga dijuluki “Schindler dari Iran” oleh orang-orang Yahudi yang berhasil diselamatkannya.

Meski tentu berisiko, cara Sardari mengelabui petinggi-petinggi NAZI di Prancis sungguh brilian. Jika Schindler awalnya memanfaatkan orang-orang Yahudi sebagai “budak” untuk pabriknya, maka saat itu Sardari menggunakan celah undang-undang anti-semit NAZI untuk menyelamatkan—setidaknya—lebih dari 2.000 orang Yahudi Prancis.

Sejak Prancis diduduki oleh NAZI pada 1940 dan undang-undang anti-Yahudi mulai diterapkan, Sardari mencoba meyakinkan petinggi-petinggi NAZI di Perancis bahwa Yahudi Prancis sebenarnya adalah warga negara Iran. Dengan argumentasi sejarah, Sardari meyakinkan bahwa Yahudi Prancis (yang berhasil ia selamatkan) merupakan Ras Arya yang sebenar-benarnya karena nenek moyang mereka berasal dari Iran.

Dengan landasan logika tersebut, artinya para Yahudi yang disebut orang Iran ini bukanlah orang-orang yang harus tunduk pada “The Reich’s Racial Laws” atau Hukum Ras Reich buatan NAZI sendiri. Guna memperkuat alibinya, Sardari bahkan tak keberatan mengeluarkan ribuan paspor Iran untuk Yahudi-Yahudi Prancis itu. Alhasil, paspor pun menjadi batas antara kematian dengan kehidupan.

Untuk itulah nama Sardari masuk pada “Holocaust Remembrance Day” di Jenewa dalam peringatan mengenang salah satu genosida paling kelam dalam sejarah Eropa.

Kisah Khaled Abdul Wahab

Selain Sardari, sejarah juga mencatat nama Khaled Abdul Wahab. Wahab merupakan seorang muslim Arab, dan ia menjadi orang Arab pertama yang dihargai karena jasanya menyelamatkan lebih dari 24 orang Yahudi Tunisia.

Saat NAZI menduduki Tunisia pada November 1942, Khaled berumur 32 tahun. Pada periode ini, ada sekitar ratusan ribu Yahudi yang tinggal di Tunisia. Mereka diharuskan mengenakan atribut Bintang Daud dan—seperti yang terjadi di Eropa pada tahun-tahun sebelumnya—harta kekayaan mereka juga diambil paksa oleh NAZI sebelum akhirnya mereka dibantai.

Pada 2007 silam, putri Khaled yang bernama Faiza Abdul-Wahab menceritakan kesaksian ayahnya sebelum meninggal pada 1997.

“Ya, saya menyembunyikan beberapa keluarga di ladang pertanian selama perang, keluarga Yahudi,” ujar Khaled seperti ditirukan Faiza.

“[…T]ak masalah, sebab kami semua hidup bersama di Tunisia—Yahudi, bukan Yahudi, orang Italia, orang Prancis, orang Arab,” imbuh Faiza seperti direkam oleh United States Holocaust Memorial Museum.

“Ikatan utama kami yang pertama adalah kami orang Tunisia. Kami makan makanan yang sama, kami memiliki hal yang sama dan berbagi banyak hal. Jadi bagi saya, ketika dia mengatakan itu, saya tidak tahu dia telah mengambil risiko dengan hidupnya—tentu saja—karena ayah saya tidak memberitahukan semuanya kepada saya. Baginya itu normal, dan itu saja.”

Kisah Saide Arifova

Kisah penyelamatan orang Yahudi oleh muslim juga dilakukan Saide Arifova, seorang wanita yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak di Bakhchisaray, Crimea (saat ini masuk wilayah Ukraina). Wilayah Crimea merupakan salah satu area brutal pada Perang Dunia II karena menjadi pertempuran berdarah antara tentara Soviet dengan NAZI.

Dengan sekuat tenaga, perempuan muslim beretnis Turki ini menyelamatkan anak didiknya yang Yahudi dengan membuat identitas palsu untuk mereka. Dengan keberanian yang besar, Arifova juga memberikan kesaksian palsu bahwa anak-anak di sekolahnya bukanlah anak-anak Yahudi. Meski ia harus mengalami berbagai siksaan dahsyat saat interogasi Gestapo (Polisi NAZI Jerman), tapi Arifova tetap kukuh menutup rapat-rapat rahasia ihwal anak-anak Yahudi yang disembunyikannya.

“Apakah hal ini mengerikan bagi saya? Tidak, bagi saya sudah tidak ada lagi rasa takut dan ngeri. Tulang-tulang saya sudah terlanjur patah setiap kali bertemu Gestapo,” ucap Arifova. Berkat keteguhannya, Arifova berhasil menyelamatkan 88 Yahudi Crimea beserta 70 anak asuhnya.

Ucapan Terima Kasih untuk Muslim Albania

Mengutip laporan Sindonews.com, beberapa tokoh Muslim lain penyelamat warga Yahudi yang dikenang selain deretan daftar di atas adalah Raja Ahmed Zog I dari Albania yang dikenal sebagai penyelamat ribuan orang Yahudi dari kekejaman rezim Adolf Hitler.

Melalui Yad Vashem di Israel, kisah penyelamatan semacam ini kemudian diabadikan oleh orang-orang Yahudi. Sebuah museum peringatan akan peristiwa Holocaust ini sekaligus merupakan penghargaan bagi 20 ribuan orang-orang pahlawan non-Yahudi dari berbagai negara atas jasa mereka menyelamatkan orang-orang Yahudi.

Nama-nama seperti Sardadi, Khaled, dan Arifova menjadi beberapa di antara banyak muslimin dan muslimah penyelamat orang Yahudi yang jumlahnya mencapai 70 orang. Sebanyak 63 orang adalah orang Albania. Di tahun 2007 lalu, telah diadakan pameran fotografi khusus untuk mengenang para muslim atas jasa mereka menyelamatkan orang-orang Yahudi.

Pameran fotografi yang terjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah ini menyasar beberapa muslim Albania yang mempertaruhkan keselamatan keluarganya untuk menyembunyikan keluarga-keluarga Yahudi.

Saat NAZI masuk ke Albania pada 1943, negeri ini menjadi satu-satunya negara yang penduduknya menolak untuk mematuhi undang-undang anti-semit NAZI. Hal inilah yang mengakibatkan jumlah Yahudi Albania justru melonjak semasa perang karena pencari suaka memilih lari ke Albania.

“Kisah luar biasa Albania, di mana seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun penduduk, bertindak untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi sungguh luar biasa,” ujar Yehudit Shendar, pengelola Yad Vashem, pusat peringatan resmi Israel untuk orang-orang Yahudi korban Holocaust.

Hampir semua orang Yahudi yang tinggal di negara tersebut berhasil diselamatkan.

“Ini adalah kisah yang jarang dipublikasikan, kisah tentang suatu negara yang menyelamatkan semua orang Yahudi,” ujar Ya’acov Altarat, salah satu orang Yahudi yang selamat.

Sepuluh tahun kemudian, warga Yahudi di New York, Amerika Serikat kembali mengenang para tokoh muslim yang mereka anggap pahlawan.

“Peringatan ini menunjukkan bahwa kita masih bisa memiliki harapan bahkan pada saat-saat seperti Holocaust,” tukas Mehnaz Afridi, Profesor Manhattan College, menyambut upacara tersebut.

“Mengapa ayah saya menyelamatkan orang asing dengan mempertaruhkan hidupnya dan kehidupan seluruh desa?” tutur Enver Alia Sheqer, anak laki-laki dari Ali Sheqer Pashkaj, muslim Albania yang mendapatkan penghargaan.

Ia lantas menjawabnya sendiri, “Ayah saya adalah seorang muslim yang taat. Dia percaya bahwa dengan menyelamatkan satu kehidupan, ganjarannya adalah surga.”