Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Pembantaian Ulama Oleh PKI


SURATKABAR.ID – Peristiwa Madiun tahun 1948 adalah salah satu catatan kelam Bangsa Indonesia. Pemberontakan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) 69 tahun silam itu adalah salah satu peristiwa yang telah merenggut banyak nyawa ulama dan tokoh-tokoh pemerintahan. Tragedi itu tentu tidak akan pernah tenggelam dari catatan sejarah Bangsa.

Peristiwa Madiun 1948 itu menggambarkan atau menjadi bukti betapa hebatnya ancaman komunisme di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa tragedi pembunuhan atas ulama-ulama itu dilakukan oleh anggota PKI dan partai-partai kiri lain yang tergabung dalam organisasi bernama Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Dilansir dari sindonews.com, Yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa Madiun 1948 itu adalah jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin saat itu.kejatuhan kabinet Amir Syarifuddin itu tidak lepas dari kegagalannya dalam perundingan Renville dimana berimbas pada kerugian yang harus ditanggung Indonesia. Lantas, guna merebut kembali kedudukannya, 28 Juni 1948 Amir Syarifuddin menginisiasi Front Demokrasi Rakyat (FDR).

FDR ini diisi atau didukung oleh Pemuda Sosialis Indonesia, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Saat itu, setelah kejatuhan Amir, mereka melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan pemogokan kerja bagi buru, hingga melakukan pembunuhan ulama dan pejuang kemerdekaan. Tujuan mereka adalah untuk meruntuhkan NKRI yang berlandaskan Pancasila dan menggantinya dengan ideology Komunis. Mereka melancarkan segala cara untuk mencapai tujuannya itu.

Sebelum peristiwa Madiun, PKI telah melancarkan aksinya terlebih dahulu di Solo (Surakarta). Di sana mereka hendakmembuat kekacauan. Perwira TNI AD dan tokoh pejuang 45 di sana dibunuh. PKI ingin menjadikan Surakarta sebagai daerah yang kacau dan nantinya Madiun dijadikan PKI sebagai basis gerilya.

Kemudian tanggal 18 September 1948, salah satu pentolan PKI, Musso, memproklamirkan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Sejak saat itu, PKI menguasai dan menduduki tempat-tempat penting di Madiun.

Sejarawan Agus Sunyoto mnceritakan fakta-fakta bagaimana PKI melakukan maker dan melancarkan pemberontakannya. Agus mengungkapkan bahwa ada ribuan nyawa umat Islam termasuk para ulama NU menjadi korban dan symbol-simbol Islam dihancurkan. Saat itu, keberhasilan PKI menguasai Madiun juga disertai dengan tindakan-tindakkan penjarahan, penangkapan sewenag-wenang terhadap musuh mereka, bahkan tak jarang mereka tidak segan untuk menembak hingga masyarakat Madiun saat itu ketakutan.

Baca Juga: Ilham Aidit Beberkan Kisah Hidupnya Sebagai Putra Tokoh PKI

Agus mengisahkan, tahun 1948, pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap dan dibunuh. Pada masa itu, orang-orang dengan pakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan keleang menembak atau membunuh siapapun yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Bendera merah putih dirobek dan diganti degan bendera merah berlambang palu arit, bahkan potret Soekarno diganti degan potret Musso.

Dilansir dari laman sindonews.com, kekejaman komunis ini terkam dalam sebuah liputan wartawan ‘Sin Po’ yang berada di Madiun. Ia menulis sebuah reportase yang memperlihatkan kekejaman PKI dalam sebuah tulisan berjudul ‘Kekedjeman Kaoem Communist, Golongan Masjoemi menderita paling heibat, Bangsa Tionghoa “ketjipratan” djoega’.

Tangga 18 September 1948, sebelum fajar,  sekitar 1.500 orang pasukan FDR/PKI di mana 700 di antaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono bergerak ke pusat Kota Madiun. Lalu, kesatuan CPM, TNI< Polisio dan aparat pemerintahan sipil tak menduga terkejut ketika diserang mendadak. Dengan perlawanan singkat, Pasukan Pesindo akhiornya menguasai tempat-tempat strategis di madiun. Saat terbit fajar, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan.

Penyerangan tak berhenti di Madiun. Di waktu yang sama, di Kota Magetan, sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI bergerak menyerbu kabupaten, kantor desa, Kodim, Koramil, kantor polisi, rumah kepala pengadilan, dan juga kantor pemerintahan sipil Magetan. Di sini juga sama, tokoh-tokoh pemerintahan, komandan Kodim, jaksa, bupati patih , sekretaris kabupaten, kapolres ditawan. Ulama-ualam, santri, tokoh masyumi dan PNI di b***h.peristiwa ini juga terekam dalam sebuah liputan seraong wartawan bernama Gadis Rasid yang mana kemudian termuat dalam surat kabar Merdeka 1 November 1948.

Beberapa wilayah lainnya pun mendapat serangan FDR/PKI ini. Beberapa di antaranya adalah Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, dan Cepu. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang dating ke Jawa Tengah pada tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintahan, melainkan juga penduduk, terutama ulama dan santri serta mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam. Masjid dan madrasah yang didalmnya dikunci ulama serta santrinya dibakar.

Serangan yang dilakukan FDR. PKI ini pun menyulut kemarahan Soekarno. Dalam pidatonya, Bung Karno pernah mengatakan, “Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh Negara apa pun juga. Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali.”

Tercata, antara tanggal 18 higga 21 September 1948, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negarta baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. Baru pada tahun 1950 awal Januari, setelah FDR/PKI dilumpuhkan, sumur-sumur ‘neraka’ yang dighunakan untuk mengubur para korban dibongkar oeh pemerintah yang juga disaksikan langsung oleh masyarakat. Di salah satu sumur ‘neraka’, di sumur tua Desa Soco, ditemukan sekitar 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 diketahui dan berhasil diidentifikasi sementara sisanya tidak. Salah satu yag dapat diidentifikasi itu adalah jenazah KH Soelaioman Zuhdi Affandi, pimpinan Ponpes Ath-tohiri Mojopurno, Magetan. Kemudian lainnya ada Kyai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran. Jasadnya ditemukan di Sumur ‘neraka’ II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan/ ada juga Kyai Zoebair, Kyai Malik, Kyai Noeroen dan Kyai Moch Noor. Di sumur yang sama ditemukan juga jasad R Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan, R Doerjat (Inspektur Polisi Magetan), Kasianto, Soebianto, Kholis, Soekir (keempatnya anggota Polri), dan masih banyak pejabat serta ulama lainnya.

Aksi FDR/PKI dalam membantai ini adalah sejarah yang tidak akan bias terlupakan dengan sumur-sumur di Magetan dan Madiun sebagai saksinya. Dan kejadian pemberontakan PKI terulang ketika Jenderal TNI AD diculik dan dibunuh secara sadis. Mayatnya kemudian ditemukan di sumur ‘neraka’ Lubang Buaya di dekat Bandara Halim, Jakarta Timur. Ini terjadi pada 1 Oktober 1965.