Miris! Bayi Rohingya Lahir di Hutan, Ini yang Dilakukan Orangtuanya


    SURATKABAR.ID – Dari hari ke hari, kisah menyedihkan kehidupan etnis Rohingya yang mencoba melarikan diri dari kejaran militer Myanmar terus berdatangan.

    Bukan cuma tak adanya makanan dan tempat tinggal, untuk mendapatkan air bersih pun sangat sulit bagi mereka. Bahkan, mereka terpaksa mengungsi ke wilayah Bangladesh.

    Sejumlah warga Rohingya kini terpaksa tinggal di kamp pengungsian. Namun, kebutuhan logistik seperti makan dan minum tetap saja sulit didapatkan.

    Dilaporkan republika.co.id dari portal berita ABC, Sabtu (9/9/2017), banyak bayi yang lahir dalam perjalanan mengungsi. Bayi-bayi mungil ini lahir di tengah kesulitan mendapatkan tempat berlindung, air, dan makanan.

    Baca juga: Terungkap! Begini Komentar Tak Terduga Suu Kyi Soal Rohingya

    Salah satunya adalah bayi dari pasangan Ali Johar dan Khuthija. Khutija yang terlihat lelah dan hanya diam, terus memegang bayi perempuan berusia dua hari tersebut.

    Bayi yang belum diberi nama ini lahir di sebuah hutan ketika orangtuanya mengungsi menuju Bangladesh. Tanpa bantuan apapun, bayi ini dilahirkan dengan selamat oleh Khuthija.

    “Saya tiba di Bangladesh dua hari yang lalu karena beberapa orang datang menikam banyak warga dan membakar rumah-rumah di desa kami, rumah saya habis terbakar,” ungkap Ali Johar.

    Saat ini, satu-satunya yang bisa dilakukan Ali dan Khuthija adalah berjuang keras untuk menjaga bayi mereka di kamp pengungsian. Pasalnya, tak ada air bersih, sanitasi, atau hal-hal lain yang dibutuhkan untuk membuat si bayi bertahan hidup. Ali juga mengaku, ia tak sempat membawa apapun ketika lari dari Rakhine.

    Tak jauh dari Ali dan Khuthija, duduk Hafizullah Muhammad dan Senwara Begum. Pasangan ini membawa kelima anak mereka setelah rumahnya di tembaki oleh tentara yang datang.

    “Tentara menembaki rumah kami, kami semua keluar dan menyerah,” tutur Hafizullah.

    Baca juga: Tegas! Erdogan Sebut Kasus Rohingya Sebagai Genosida di Rakhine

    Setelah diizinkan melarikan diri, Hafizullah dan keluarganya sempat tinggal di sebidang tanah di balik bukit. Mereka juga menyaksikan kejamnya para tentara ketika memancung orang di dekat perbatasan Myanmar dan Bangladesh.