Louis Van Gaal Pensiun, Inilah Alasannya


SURATKABAR.ID – Selasa (17/01/2017), Louis van Gaal memutuskan mengakhiri sepak terjangnya sebagai kontributor sepakbola. Setelah menerima penghargaan dari pemerintah Kerajaan Belanda, ia mengatakan tidak akan kembali lagi ke lapangan sebagai pelatih. Pernyataannya tersebut pun langsung menyebar dengan cepat.

Pelatih yang dikenal mahir membawakan trofi kepada tim asuhannya tersebut mengungkapkan bahwa keluarga menjadi faktor utamanya untuk hengkang dari dunia persepakbolaan. Di umurnya yang sudah mencapai 65 tahun ini, van Gaal mengungkapkan betapa keluarganya memerlukan kehadiran dirinya untuk berada di tengah-tengah mereka. Terutama setelah salah satu anak perempuannya baru saja kehilangan orang yang ia cintai.

Seperti dilansir dari Republika, diketahui salah satu menantu van Gaal baru saja wafat bulan lalu. Hal ini tentu memukul keluarga anak perempuannya. Oleh sebab itu ia merasa perlu memberikan perhatian ekstra kepada putrinya.

“Saya bisa saja kembali ke lapangan dan mengambil pekerjaan, tapi ada beberapa masalah terjadi di keluarga saya dan saya pikir saya tahu mana yang harus diutamakan,” beber van Gaal dalam The Telegraph, Selasa (17/01/2017).

Sekarang, mantan pelatih Barcelona, Bayern Muenchen, Manchester United, Ajax, serta timnas Belanda itu mengklaim sudah membuat keputusan yang tepat.

“Setelah yang terakhir, MU, saya tidak akan kembali,” ucap Van Gaal.

Van Gaal terakhir kali mendidik MU musim lalu. Meski diberhentikan sehabis musim 2015/ 2016 berakhir, namun pelatih kelahiran Belanda, 8 Agustus 1951 ini pensiun dengan terhormat. Dia mampu memberikan trofi Piala FA bagi MU yang saat itu sedang limbung dikarenakan menjalani masa transisi usai ditinggal Sir Alex Ferguson.

Ada pun sejak 6 Juli 2012, van Gaal kembali dipercaya untuk menangani Belanda, menggantikan Bert van Marwijk. Van Gaal selama ini dikenal selalu menggunakan sistem yang sama, yaitu 4-3-3 menyerang dengan peran yang jelas untuk setiap posisi. Itulah yang biasanya timnya akan mainkan. Tidak peduli apapun yang terjadi.

Namun khusus dalam menangani Manchester United kali terakhir, diketahui van Gaal merombak habis taktik dan keteguhan filosofinya. Ia bukan saja mengubah formasi sebanyak lima kali, formasi favoritnya 4-3-3 hanya digunakannya sekali saja. Dia juga telah memilih pemain tidak sesuai dengan posisi alaminya.

Van Gaal juga menyukai pemain multi-fungsi, sesuai dengan kesukaannya pada saat fleksibilitas taktis (berbeda dari formasi). Dia bukan penggemar pemain satu-dimensi. Dia obsesif dalam menyikapi “pemain harus memiliki ketajaman keseimbangan” dan khususnya, bek tengah berkaki kiri. Dia ingin pemain yang bisa mengoper bola keluar dari belakang dan tidak menyukai pemain yang egois.