Budaya Marah-Marah dan Memarahi Budaya


ensiklopedia-indonesia

Sudah sejak lama Bangsa Indonesia digambarkan sebagai masyarakat yang penuh ramah tamah, toleransi dan juga gotong royong. Bahkan hal ini juga menjadi salah satu ‘alat’ promosi pariwisata di Tanah Air.

Jelas, hal ini tidaklah salah, bila kita merunut sejarah memang hampir tidak ada catatan sejarah yang mengatakan bangsa ini pernah berperang demi Ras Suku dan Agama atau SARA. Bahkan hal tersebut juga diwujudkan dalam salah satu lambang negara Bhineka Tunggal Ika.

Demi menyelesaikan masalah pun masyarakat Indonesia pada masa dahulu selalu mengenal kata musyawarah menuju mufakat. Dimana artinya jelas, demi mencapai suatu tujuan Bangsa Indonesia lebih mengedepankan dialog demi mencapai permufakatan tertentu. Tanpa meninggalkan aspirasi dari orang lain.

Namun bagaimana dengan saat ini? Entahlah kapan dimulainnya juga terlihat sangat absurd, namun budaya ramah masyarakat sedikit-demi sedikit sudah mulai bergeser, berganti dengan budaya marah – marah.

Buktinya, ada masalah sedikit, orang kita sekarang demo, teriak – teriak orasi dan bawa massa seabrek. Padahal tujuan akhirnya, ya hanya dialog dengan pemimpin atau objek yang didemo.

Lha kalau begitu kenapa tidak datang baik –baik tanpa harus bikin jalanan macet dan membuat roda ekonomi seret, lalu musyawarah dan menyampaikan aspirasi?

Belum lagi kalau ada masalah antar masyarakat, para individu yang sebelumnya bernama mahluk sosial ini selalu curhat, membully di media sosial, hingga akhirnya pemerintah harus bikin aturan baru masalah hate speech alias berbicara kebencian. Hmm akhirnya jadi mahluk media sosial deh bukan mahluk sosial lagi.

Namun bisa jadi kelakuan masyarakat yang berbudaya marah-marah ini juga meng-copy paste apa yang dilakukan pemimpinnya.

Saat ini sudah jadi pemandangan yang umum, khususnya di media, ada pemimpin yang marah-marah saat menemukan kejanggalan di lapangan. Ehm bapak-ibu yang terhormat, tujuannya sih memang bagus untuk bisa memerangi penyimpangan. Namun apakah masalahnya harus diselesaikan dengan marah-marah? Ya semoga bukan pencitraan saja.

Atau penyebabnya mungkin karena, pelajaran PMP/PPKN/ Budi Pekerti sudah ditiadakan dari kurikulum? Padahal disanalah segala budaya dan karakter ramah tamah khas Indonesia selalu diajarkan.

Memarahi Budaya

tarian-moyang

Budaya merupakan kharakter dan identitas suatu masyarakat atau komunitas. Budaya lahir dari kebiasaan komunitas tersebut dalam menyikapi suatu masalah atau suatu kondisi tertentu di dalam komunitas itu sendiri.

Seperti dalam penjelasan saya sebelumnya di atas, ramah tamah sudah sejak lama menjadi karakter dan budaya bangsa Indonesia.

Namun yang terjadi kini, ketika seorang pemimpin berusaha bersikap ramah tamah dan mengedepankan kekeluargaan dalam menyelesaikan masalah, mereka dianggap bukan pemimpin yang baik.

Dan lagi-lagi endingnya didemo, dengan gaya marah-marah, tanpa mengingat budaya ramah-tamah kita.

Belum lagi di suatu daerah di Indonesia, ada pula sekelompok orang yang menghancurkan banyak patung yang merupakan identitas budaya daerah tersebut, dengan alasan agama.

Atau ada pula kelompok masyarakat tertentu yang entah darimana, tiba-tiba membenci keris yang merupakan hasil budaya khas Indonesia, sampai-sampai keris-keris tersebut dihancurkan.

Kenapa harus budaya nya yang dimarahi? Padahal budaya sendiri telah lahir jauuh sebelum masyarakat marah-marah ini ada di Indonesia. Mereka seperti berusaha menolak budaya asli mereka, entah mau digantikan dengan budaya apa?

Sehingga tampaknya dengan situasi ini bisa jadi budaya ramah tamah bangsa akan semakin terkikis hari demi hari. Digantikan budaya marah-marah yang senang memarahi budaya.

Hal inilah yang harus menjadi perhatian semua element, mulai dari pemerintah sampai komunitas kecil di masyarakat.  Pendidikan karakter berbangsa harus kembali ditanamkan kepada murid-murid sekolah, demi mengembalikan karakter budaya bangsa Indonesia.

  http://credit-n.ru/zaymyi-next.html