Biarpun Mayoritas Buddha, Raja Baru Thailand Beri Perhatian Lebih ke Komunitas Muslim di Selatan


    vajiralongkorn

    Pada hari Kamis (13/10/2016) kemarin, Raja Thailand yang telah menduduki tahta selama 70 tahun, Bhumbibol, meninggal dunia. Sontak, seluruh masyarakat dari segala penjuru Thailand berduka cita atas meninggalnya Bhumbibol.

    Secara otomatis, karena sang ayah meninggal, maka Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn langsung ditetapkan sebagai penggantinya.

    Walaupun belum bersedia melakukan upacara serah terima jabatan untuk menjadi pengganti raja yang telah meninggal di usia yang ke 88 tahun tersebut karena masih dalam masa berduka, namun ada satu hal yang menjadi perhatian besar oleh masyarakat.

    Hal tersebut adalah sikapnya yang toleran dan memberikan perhatian kepada masyarakat Islam di Thailand walaupun mayoritas penduduk di Negara Gajah Putih itu menganut agama Buddha (Theravada Buddhism).

    Memang, secara hitung-hitungan berdasarkan sensus yang pernah dilakukan pada tahun 2000 lalu, 94,6% masyarakat Thailand menganut agama Buddha, sedangkan umat muslim di negara tersebut menduduki urutan 2 dengan jumlah sekitar 4,6% dari total populasinya.

    Walaupun begitu, Vajiralongkorn tetap memberikan perhatian kepada seluruh umat muslim di Thailand tanpa membeda-bedakan agama atau rasnya.

    Perhatian Vajiralongkorn terhadap orang muslim di negara tersebut juga dibenarkan oleh Ahmad Umar, seorang wakil rektor Universitas Fatoni, Patani, Thailand bagian selatan. Dia mengatakan bahwa calon pengganti Bhumbibol ini banyak memberikan perhatian lebih kepada masyarakat minoritas di selatan yang mana mayoritas menganut agama Islam.

    “Beliau banyak memberi perhatian pada masyarakat Islam, mengenai banyak hal dan memberi perhatian dan sokongan. Sebagai contoh, kampus Universitas Fatoni diresmikan (sekitar 10 tahun lalu) oleh beliau, hubungan kita dengan putra mahkota sudah lama,” seperti yang dituturkan Umar, dikutip dari BBC (14/10/2016).

    Sebelumnya, Bhumbibol saat masih hidup juga berusaha mempersatukan Thailand dan segala aspek di dalamnya dengan memberikan perhatian dan ‘pendekatan lunak’ terhadap kelompok separatis muslim yang ada di kawasan selatan.

    Hal ini merupakan tindakan yang tepat dilakukan oleh Bumbibol karena dalam 10 tahun terakhir, sejumlah aksi teror berupa serangan bom. Bahkan di tahun 2004 silam, kelompok militan tersebut juga terus melakukan aksi teror mereka khususnya di daerah selatan.

    Namun, dengan perhatian lebih tersebut, akhirnya Bhumbibol dapat meredam aksi para militan dan mempersatukan Thailand. Hal ini ternyata juga diteruskan oleh Vajiralongkorn.

    Umar juga berharap agar nantinya, ketika Vajiralongkorn sudah menjabat sebagai Raja Thailand, dia dapat meneruskan langkah sang ayah lebih baik lagi dalam menanggapi isu dari daerah selatan.

    “Secara formal (Vajiralongkorn adalah) sebagai simbol … namun raja punya pengaruh dalam menentukan arah politik di Thailand. (Vajiralongkorn) lebih positif dan boleh (bisa) memahami isu di selatan secara baik. Kalau majelis (kantor) peringkat negara, beliau dipertua, dan majelis agama Islam di Thailand ada (memiliki) hubungan dengannya,” lanjut Umar.