Turki Ancam Perangi Amerika Jika Lindungi Dalang Kudeta


perdana-menteri-turki-recep-tayyip-erdogan-dan-presiden-amerika-_130517155620-209

Buntut dari percobaan kudeta di Turki semakin meluas. Pemerintah Turki menuduh ulama senior Fethullah Gulen sebagai dalang dari aksi percobaan penguningan kekuasaan dari Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Dengan tegas Erdogan menyebut Gulen telah berkhianat kepada negara dan masyarakat Turki. Seperi diketahui jika Gulen saat ini sedang hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat.

“Cukup sudah, pengkhianatan yang kau tunjukkan kepada negara dan komunitas ini. Kalau kau berani, kembali ke negaramu. Kau tidak akan mampu mengacaukan negara ini dari tempatmu sekarang,” ujar Erdogan, Sabtu (16/7/2016), dikutip dari jpnn.com.

Penyataan serupa juga dikeluarkan oleh Perdana Menteri Binali Yildrim. Ia bahkan mengancam negara asing yang coba melindungi Gulen. Yildrim dalam siaran televisi menyatakan perang kepada negara yang membela Gulen.

“Setiap negara yang melindungi Fethullah Gulen akan menjadi musuh bagi Turki,” ujar Yildrim.

Ia menegaskan jika negara manapun yang melindungi Gulen berarti bukan teman Turki. “Dan akan dianggap memerangi Turki,” ujar dia.

Penyataan tersebut diterjemahkan publik sebagai ungkapan kepada Amerika Serikat sebagai tempat Gulen berlindung selama ini. Seperti diketahui jika Faetullah Gulen saat ini tinggal di Pensylvania, Amerika Serikat.

Gulen lari ke Amerika pada tahun 1990 untuk menghindar dari tuduhan makar. Bahkan pemerintah Turki sejak dua tahun lalu menempatkan Gulen sebagai buronan atas tuduhan terorisme.

Sementara itu Amerika yang dianggap Turki telah melindungi Gulen menanggapi dengan serius. Mereka menyatakan bersedia membantu Turki untuk menangkap Gulen dengan catatan Turki bisa memberikan bukti keterlibatan pria berusia 75 tahun tersebut dalam aksi kudeta militer di Turki.

“Amerika Serikat tentunya akan mendukung semua bentuk penyelidikan resmi dan sesuai proses hukum, kami akan membantu pemerintah (Turki) sepenuhnya jika diminta,” ujar Menteri Luar Negeri AS John Kerry di sela-sela kunjungannya ke Luxemburg, Sabtu (16/7/2016).

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa terjadi aksi kudeta militer di Turki pada Jumat (15/7/2016) malam waktu setempat. Dilaporkan kendaraan tempur milik militer telah mengepung Ankara, Ibu Kota Turki.

“Kami melakukan ini demi demokrasi di negara ini. Hak-hak Asasi Manusia tetap dijunjung tinggi,” demikian pernyataan militer yang mencoba menggulingkan pemerintahan Erdogan.

Akan tetapi aksi kudeta tersebut hanya berumur pendek. Hanya dalam hitungan jam, percobaan makar itu berhasil digagalkan.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaParah! Bukannya Berprestasi, Mantan Pemain Timnas Ini Justru Jadi Begal
Berita berikutnyaKisah Mengenaskan Mahasiswa Papua di Yogyakarta setelah Gagal Gelar Aksi Dukung Papua Merdeka