Biadab! Seorang Ayah di Jambi Ajak Putrinya Threesome Bareng Ibu Kandungnya, Dijanjikan Ini


    SURATKABAR.ID – Perbuatan asusila terhadap anak di bawah umur menggegerkan warga Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi. Seorang pria yang berinisial JP (54) menggagahi anak tirinya selama dua tahun terakhir. Ia melakukan perbuatan bejat tersebut pertama kali ketika korban berusia 16 tahun.

    Seperti yang dirangkum dari laman Tribunnews.com pada Jumat (6/9/2019), perbuatan bejat tersebut terus-menerus dilakukan pelaku meski korban sudah menolak untuk berhubungan badan. Untul melancarkan aksinya, JP mengiming-imingi korban dengan sejumlah uang.

    Kasubdit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jambi Kompol Yuyan Priatmaja mengungkapkan bahwa awalnya si pelaku menjanjikan akan memberi uang sejumlah Rp 300 ribu kepada korban. Namun tawaran itu ditolak gadis remaja tersebut.

    “Mulanya korban tidak mau (diajak berhubungan badan) walaupun diberikan uang. Tapi pelaku kembali membujuk korban dengan berjanji akan mengobati pamannya yang sedang sakit,” Kompol Yuyan Priatmaja menjelaskan.

    Baca Juga: Polisi Gerebek 2 Wanita Tanpa Busana di Pesta Threesome Serang, Begini Kronologinya

    Yuyan menyebut, mulanya kejadian terjadi pada 2017 silam. Pada saat itu paman korban memang sedang sakit dan sangat membutuhkan uang untuk biaya berobat. Diketahui, keloarga dari paman korban mengalami kesulitan keuangan. Situasi ini pun dimanfaatkan oleh JP.

    “Pelaku sempat meminta izin kepada ibu korban untuk menyetubuhianaknya, dan pelaku juga mengatakan akan memberikan uang Rp 300 ribu kepada korban,” jelas Yuyan.

    Bukannya melarang, ibu korban justru merestui permintaan pelaku. Saat itu korban tetap menolak.

    “Tak kehabisan akal, akhirnya pelaku minta izin kepada tante korban, istri paman korban yang sedang sakit itu. Akhirnya setelah dijanjikan uang untuk mengobati paman yang sedang sakit itu, korban mau menuruti ajakan itu,” ungkapnya.

    Korban diduga bersedia melakukan perbuatan tersebut lantaran terpaksa.

    “Setelah dilakukan pemeriksaan pada alat vitalkorban, dokter mengatakan terjadi sobekan dua kali dan sobek tidak beraturan. Maka diduga pelaku juga memaksa korban untuk berhubungan badan,” papar Yuyan.

    Menurut hasil penyelidikan sementara, pelaku beserta istrinya yang merupakan ibu kandung korban diduga bekerja sama untuk melakukan perbuatan terlarang itu. Bahkan dari pengakuan pelaku kepada polisi, mereka pernah melakukan hubungan badan bertiga alias threesome.

    “Pengakuan pelaku seperti itu, pernah lakukan bertiga. Latar belakang keluarga ini memang tidak pernah bersekolah. Kami melakukan pemeriksaan secara perlahan. Nantinya ibu korban juga akan kita panggil. Jika memang benar, ibu korban juga akan kita kenakan hukuman,” tegasnya.

    Dari keterangan yang berhasil dihimpun penyidik, JP melakukan aksinya setiap hari. Beberapa kali ibu kandung korban memergoki perbuatan bejat pelaku, namun ia sama sekali tidak melarang.

    “Dalam sehari satu kali pelaku menyetubuhianak tirinya. Bahkan beberapa kali aksi tersebut juga dilihat langsung oleh ibu korban, namun tak dilarang,” ungkap Yayan.

    Pelaku mengaku telah memaksa anak tirinya tersebut berhubungan intim sejak anak tirinya itu masih berusia 16 tahun dan sekarang korban berusia 18 tahun. Ia mengaku ingin menikahi anak tirinya tersebut dan bahkan sudah meminta restu kepada istrinya.

    “Aku sudah janji sama korban ingin nikahi dia. Aku juga sudah bilang ke mamaknya untuk setubuhianaknya,” jelas JP yang juga mengaku ia melakukan perbuatan haram itu secara terang-terangan.

    Selama ini pelaku melakukan aksi tak terpujinya itu di dalam rumah tanpa peduli apakah ada istri atau ibu kandung dari korban atau tidak. Terkahir kali perbuatan bejat itu dilakukannya pada Rabu (5/9) sore, sekitar pukul 17.30 di kediamannya.

    Biadabnya, ternyata pelaku tak hanya melakukan aksi bejat tersebut pada anak tirinya seorang. Ia juga mengajak RR, tante dari anak tirinya itu berhubungan badan. JP merayu RR dengan janji akan membiayai pengobatan suami, paman dari anak tirinya, yang sedang sakit dan butuh biaya pengobatan itu.

    Dilaporkan, suami RR tengah sakit patah tulang.

    Akhirnya karena merasa tertekan, korban pun mengungkap pengalaman pahit tersebut kepada keluarganya.

    “Kita lalu amankan pelaku di kediamannya di Kecamatan Alam Barajo. Pelaku selama ini melakukan aksinya di rumah tersebut,” jelas Yuyan.

    Yuyan mengungkapkan pihaknya saat ini telah ebrkoordinasi dengan P2TP2A untuk memberikan bimbingan psikologi terhadap korban.

    Lantaran perbuatannya tersebut, pelaku terancam dijerat UU Perlindungan Anak, yakni Pasal 81 dan Pasal 82 UU RI Nomor 35 Tahun 2004, sebagaimana yang diubah dalam UU RI Nomor 32 Tahun 2012.