Terjerat Rasuah, Bupati Talaud Tak Jadi Dapat Hadiah Tas Mahal Saat Ultah


SURATKABAR.ID – Karena terjerat rasuah, Bupati cantik Kabupaten Kepulauan Talaud Talaud, Sri Wahyumi Maria Manalip, terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK menjelang hari ultahnya. Seharusnya, di momen spesial itu ia bisa merayakan ulang tahun bersama orang-orang terkasihnya. Terlebih mengingat dalam momen sakral tersebut, ada ‘kado istimewa’ berupa tas mewah hingga jam tangan bernilai ratusan juta Rupiah.

Namun kenyataan berkata lain. Menukil Detik.com, Rabu (01/05/2019), sepekan sebelum usianya bertambah menjadi 42 tahun pada 8 Mei mendatang, Bupati Kepulauan Talaud itu resmi menyandang status tersangka akibat dugaan penerimaan suap.

“Diduga sebagai penerima, SWM (Sri Wahyumi Maria Manalip), Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud periode 2014-2019,” tukas Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (30/04/2019).

Diduga, Sri Wahyumi ‘bermain mata’ dengan seorang pengusaha bernama Bernard Hanafi Kalalo. Demi suap berupa barang mewah, si bupati yang sempat viral karena beranjangsana ke Amerika Serikat (AS) tanpa izin ini disebut KPK menjualbelikan proyek di kabupaten yang dipimpinnya pada pengusaha tersebut.

“Barang dan uang yang diberikan diduga terkait dengan dua proyek revitalisasi pasar di Kabupaten Kepulauan Talaud, yaitu Pasar Lirung dan Pasar Beo,” tutur Basaria.

Baca juga: Geger Setya Novanto Kepergok Makan di Restoran Padang, Terungkap Fakta Mencengangkan di Baliknya

Lantas, barang mewah apa yang diduga KPK sebagai rasuah untuk Sri Wahyumi?

Menurut KPK, setidaknya ada 2 tas, 1 arloji, serta perhiasan yang diperuntukkan bagi bupati cantik ini. Berikut daftarnya:

  1. Tas tangan Chanel senilai Rp 97.360.000;
  2. Tas Balenciaga senilai Rp 32.995.000;
  3. Jam tangan Rolex senilai Rp 224.500.000;
  4. Anting berlian Adelle Rp 32.075.000;
  5. Cincin berlian Adelle Rp 76.925.000; dan
  6. Uang tunai Rp 50 juta.

Dalam transaksi haram tersebut, KPK menduga ada peran seseorang bernama Benhur Lalenoh yang merupakan tim sukses Sri untuk mencarikan kontraktor yang menggarap proyek-proyek di Talaud, termasuk pada Bernard.

Melalui Benhur, Sri Wahyumi diduga meminta 10 persen dari nilai proyek yang ditawarkan pada Bernard. Barang-barang mewah itulah yang disebut KPK sebagai bagian dari 10 persen yang dimintanya tersebut.

Lalu apa hubungannya dengan ulang tahun Sri Wahyumi?

Rupanya Benhur sempat memberi saran pada Bernard agar barang mewah itu diserahkan kepada Sri Wahyumi pada saat ulang tahunnya. Tujuannya tak lain agar Sri Wahyumi merasa senang.

“Dari hasil kita periksa BNL (Benhur Lalenoh), dia memang menyarankan untuk membeli tas-tas bermerek ini supaya yang bersangkutan juga merasa senang saat ulang tahun awal Mei,” ungkap Basaria.

Alhasil Sri Wahyumi, Bernard, dan Benhur pun dijerat KPK sebagai tersangka. Namun terlepas dari segala sangkaan KPK, Sri Wahyumi mengaku bingung lantaran merasa tidak menerima barang-barang terkait.

“Saya bingung karena barangnya nggak ada saya terima. Tiba-tiba saya dibawa ke sini. Tidak benar saya terima hadiah,” tandas Sri Wahyumi sewaktu tiba di KPK usai dibawa dari Talaud.

Namun KPK tetap yakin dan juga sudah memegang bukti bahwa Sri Wahyumi memang berniat menerima suap tersebut. Keyakinan KPK itu bersumber dari komunikasi aktif dari Sri Wahyumi.

“KPK mengidentifikasi adanya komunikasi yang aktif Bupati dengan BNL (Benhur Lalenah) atau pihak lain,” tutur Basaria.

Ia melanjutkan, komunikasi aktif itu antara lain yakni adanya pembahasan mengenai proyek di Talaud. Tak hanya itu, Sri juga tak segan berbicara langsung mengenai permintaannya terhadap barang, yang merupakan bentuk imbal balik proyek di Talaud. Komunikasi tersebut dilakukan Sri melalui Benhur kepada Bernard.

“Komunikasi terkait dengan pemilihan merek tas dan ukuran jam yang diminta. Sempat dibicarakan permintaan tas bermerk Hermes dan Bupati tidak mau tas yang dibeli sama dengan tas yang sudah dimiliki oleh seorang pejabat perempuan lain di sana,” ungkap Basaria.