Ahok Marah-Marah Saat Akan Mencoblos di Jepang. Ternyata Ini Sebabnya


SURATKABAR.ID – Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok terekam lensa kamera marah-marah ketika akan mencoblos di satu tempat pemungutan suara di Osaka, Jepang, pada Minggu (14/4) kemarin.

Berdasarkan rekaman video yang luas beredar di media sosial, seperti dihimpun dari laman Viva.co.id pada Senin (15/4/2019), terlihat Ahok melayangkan protes kepada Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Osaka.

Pasalnya, ia merasa ada seorang warga negara Indonesia yang sebenarnya belum terdaftar dalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTb) malah dipersilahkan untuk mencoblos. Padahal saat itu seharusnya adalah giliran Ahok.

“Tadi kan kesannya, walau saya di nomor 8, kalau ini duluan kertas suara habis, hilang hak suara saya,” ujar pria yang ingin dipanggil BTP tersebut di dalam video rekaman.

Menurutnya, yang wajib dilayani terlebih dahulu adalah mereka yang sudah terdaftar dalam DPTb. Baru setelah itu warga yang belum terdaftar mendapatkan urutan belakangan.

Baca Juga: Di Hadapan Ratusan WNI di Jepang, TGB Beberkan Alasannya Dukung Jokowi. Ternyata…

“Itu buat yang belum terdaftar, Pak. Saya terdaftar, Pak. Beda. Layanin yang punya ini dulu, baru mereka,” celetuk BTP penuh emosi.

WNI Dihalangi Mencoblos

Di Australia, petisi yang mendesak agar gelaran pemilu Indonesia di Sydney diulang, menyusul adanya laporan tentang dugaan kecurangan dalam penyelenggaraan pemungutan suara di sana, Minggu (14/4) kemarin.

Sebagaimana dikutip Viva.co.id dari laman petisi online, Change.org, sebuah akun bernama The Rock mengklaim ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang memiliki hak pilih tak mendapatkan izin mencoblos. Padahal sejak siang antrean sudah mengular di depan TPS Townhall.

Proses yg panjang dan ketidakmampuan PPLN (Panitia Pemilihan Luar Negeri) Sydney sebagai penyelenggara menyebabkan antrian tidak bisa berakhir sampai jam 6 sore waktu setempat. Sehingga ratusan orang yg sudah mengantri sekitar 2 jam tidak dapat melakukan hak dan kewajibannya untuk memilih karena PPLN dengan sengaja menutup TPS tepat jam 6 sore tanpa menghiraukan ratusan pemilih yg mengantri di luar,” tulis akun The Rock.

“Untuk itulah komunitas masyarakat Indonesia menuntut pemilu ulang 2019 di Sydney Australia. Besar harapan kami KPU, Bawaslu dan Presiden Joko Widodo bisa mendengar, menyelidiki dan menyetujui tuntutan kami. Sekian dan Terimakasih.”

Hingga Senin (15/4), petisi berjudul ‘Pemilu ulang pilpres di Sydney Australia’ tersebut telah berhasil mengumpulkan tandatangan dari 16.646 orang sejak kali pertama diunggah pada Minggu (14/4) kemarin.

Seorang WNI, bernama Linggawati Suwahjo, sebelumnya melaporkan dugaan kecurangan dalam gelaran pemilu di Sydney. Ia mengaku tak dapat menunaikan kewajiban memberikan hak suara karena dirinya terdaftar dalam Daftar Pemilih Khusus (DPK). Pasalnya, Lingga pindah dari Jakarta Barat ke Sydney.