Di Vietnam Daging Tikus Jadi Santapan Favorit, Bahkan Harganya Sampai Segini


SURATKABAR.ID – Menyantap daging tikus. Pernahkah terbersit di benak Anda untuk melakukannya? Atau sudah pernah? Beberapa waktu lalu, publik tanah air sempat dihebohkan dengan berbagai pemberitaan mengenai bakso yang menggunakan daging tikus. Dalam sekejap, sontak semua orang menjadi tekun berpuasa makan bakso. Alasannya tak lain karena mereka takut kalau ternyata bakso yang disantapnya terbuat dari daging tikus.

Memang benar bahwa di Indonesia, tikus kerap dianggap sebagai hewan yang menjijikkan. Namun tahukah Anda, nyatanya hal ini tak berlaku di beberapa negara. Seperti dilansir dari laporan Intisari.Grid.ID, Senin (25/03/2019), di India, orang terbiasa makan daging tikus.

Hal ini diketahui dari pemberitaan di halaman DailyMail.co.uk pada Desember 2018. Disebutkan bahwa di wilayah Timur Laut India, daging tikus yang masih segar merupakan menu hidangan utama.

Bahkan, lanjut kabar tersebut, terkadang warganya malah mengonsumsi daging tikus sebagai makanan sehari-hari. Mereka menyantap tikus layaknya orang kita memakan ayam atau ikan setiap hari.

Tak hanya di India, masyarakat pertanian di utara dan selatan Vietnam rupanya juga tergila-gila pada daging tikus. Menurut mereka, tikus merupakan panganan favorit yang menjadi sumber protein teramat baik. Makanan olahan dari hewan pengerat ini pun dapat ditemukan pada menu yang disajikan di wilayah perkotaan Vietnam, termasuk Hoi Chi Minh City.

Baca juga: Mengapa Lapar Bisa Memicu Amarah? Berikut Fakta dan Penjelasannya

Harganya Jauh Lebih Mahal dari Daging Ayam

Bahkan, di delta Mekong, harga daging tikus dibanderol jauh lebih mahal dari harga daging ayam.

Menurut Grant Singleton selaku ilmuwan yang mempelajari ekologi hewan pengerat dari International Rice Research Institute, delta Mekong sendiri memproduksi hingga 3.600 ton tikus setiap tahunnya, dengan keuntungan mencapai 2 juta dollar AS.

Diketahui, ternyata ada lusinan spesies tikus di dunia ini. Namun, warga Vietnam hanya mengonsumsi dua jenis tikus. Di antaranya yakni tikus sawah dengan berat setengah pound, dan bandicoot, yang bisa berkembang hingga dua pound.

Sementara itu, Robert Corrigan yang merupakan ahli binatang pengerat di perkotaan dari RMC Pest Management Consulting menyebutkan, bukan hal aneh jika kita makan tikus.

Setidaknya ada 89 spesies hewan pengerat yang dikonsumsi penduduk dunia, mulai dari Asia, Afrika, hingga Amerika.

Sebagai contoh, tupai sendiri saat ini sudah menjadi makanan utama di beberapa wilayah.

“Hampir semua jaringan otot mamalia pada dasarnya mengandung protein yang sama, baik dari daging sapi atau bahkan kaki tikus,” tukas Corrigan.

Mirip rasa daging kelinci?

Ian Teh, fotografer National Geographic, mencoba mengikuti kegiatan penangkap tikus yang ia sebut sebagai “Mr. Thy”.

Terutama ketika Thy memburu hewan pengerat itu di area pertanian di Quang Ninh, sebuah provinsi di timur laut Vietnam. Penangkap tikus menjadi pekerjaan sampingan yang penting bagi para petani Vietnam. Biasanya mereka menjebak tikus dengan kandang kawat atau bambu, lalu membunuh dan menjual dagingnya ke pasar lokal.

Thy mempunyai bisnis musiman menangkap tikus. Sebagian dibawa pulang untuk makan malam keluarganya, sementara sisanya dijual.

Singleton melanjutkan, di wilayah pedesaan Vietnam, tikus sering diolah dengan bir atau wiski beras. Teknik memasak hewan ini memang cukup bervariasi. Ia sendiri pernah melihat tikus dibunuh dengan menempatkannya di air panas atau dengan pukulan keras di kepala.

Jika sudah mati, bangkai tikus kemudian dibakar, digoreng, dikukus, direbus, atau dipanggang. Tikus kukus digadang-gadang mempunyai cita rasa yang lebih kuat. Sementara tikus besar dianggap memberikan sensasi makan yang lebih puas.

“Orang asing yang mencicipi daging tikus mengatakan bahwa rasanya seperti ayam. Namun, hewan ini memiliki daging gelap dengan rasa yang lebih tajam. Menurut saya, itu seperti rasa daging kelinci,” beber Singleton memaparkan.

Risiko Kesehatan yang Mengintai

Kendati kebanyakan tikus liar di Vietnam sangat sehat dan rendah parasit, namun ada beberapa risiko kesehatan yang bisa muncul setelah melakukan kontak dengannya sebelum dimasak.

Pasalnya, mamalia ini membawa lebih dari 60 penyakit yang bisa memengaruhi manusia. Selain itu, di tempat-tempat di mana tikus menjadi hama tanaman, khususnya sawah di Vietnam, petani biasanya akan memasang racun tikus.

Ketakutan akan racun tikus ini membuat warga Vietnam lebih senang membeli tikus hidup di pasar sehingga dapat menentukan sendiri hewan sehat mana yang akan mereka pilih untuk dimakan.

Dan yang terpenting, imbuh Singleton, memasak daging tikus dengan benar ialah cara terbaik guna menghindari infeksi penyakit yang ditularkan hewan tersebut.