Jarang yang Tahu! Rupanya Diet Mediterania Bisa Pengaruhi Sistem Pencernaan Anda Karena 6 Hal Ini


SURATKABAR.ID – Usus yang memiliki 100 juta neuron seringkali dianggap sebagai ‘otak’ kedua. Dengan angka tersebut, bahkan jumlah neuron di dalam usus jauh lebih banyak ketimbang sumsum tulang belakang atau sistem syaraf tepi.

Apa yang kita rasakan tak bisa dilepaskan dengan sistem pencernaan kita. Oleh karena itu, menjadi sangatlah penting untuk memperhatikan kesehatan usus. Dan diet mediterania, seperti yang dilansir dari laman Kompas.com pada Sabtu (9/2/2019), diklaim sebagai diet paling sehat.

Dalam diet mediterania, lebih ditekankan asupan dari makanan alami dan non-olahan. Mulai dari buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian utuh, kacang, biji-bijian, hingga lemak sehat yang didapatkan dari olive oil non-olahan serta minyak ikan.

Lantaran diklaim sebagai pola makan yang sehat, seperti apakah dampak yang diberikan diet mediterania terhadap usus kita?

1. Melancarkan Pencernaan

Pola makan diet mediterania mengharuskan pelakunya untuk mengkonsumsi banyak sumber nabati. Misalnya kacang-kacangan dan legume, ketimbang daging merah. Menurut ahli gizi klinik Dina Merhbi, daging merah memang diperkaya zat mesi dan protein, namun lebih sulit untuk dicerna.

Baca Juga: Dahsyatnya Diet Militer, 10 Kilogram Bisa Turun Hanya 3 Hari! Tertarik Coba?

“Jadi, pilihlah sumber protein yang lebih mudah dicerna, seperti ikan dan legume, yang bisa melancarkan pencernaan serta membuatmu terhindar dari kembung setelah makan,” tutur Dina Merhbi.

2. Mengatasi Sembelit

Bagi Anda yang memiliki masalah konstipasi, diet mediterania bisa menjadi solusi cerdas. Sebelum memulai dengan mengkonsumsi serat, sebaiknya Anda mencoba terlebih dahulu memenuhi mangkuk dengan sereal dan beberapa potong buah-buahan segar atau beku.

“Asupan sayur dalam jumlah banyak akan meningkatkan sistem pencernaan. Karena merupakan sumber serat yang baik, makanan pada diet mediterania bisa membantu memenuhi kebutuhan serat harian yang akan berdampak pada pencernaan dan konstipasi,” jelasnya lebih lanjut.

3. Menurunkan Risiko Peradangan Usus

Asupan minyak nabati, seperti minyak zaitun dalam diet mediterania, terbukti baik bagi kesehatan saluran pencernaan. Terutama yang tengah mengalami iritasi. Direkomendasikan memperbanyak mengkonsumsi minyak zaitun dan menjauhi minyak nabati olahan.

“Lemak sehat terbukti mampu melindungi saluran pencernaan dan menurunkan peradangan internal yang terkait dengan sindrom iritasi usus dan asam lambung,” jelas Merhbi. yang menyarankan menjadikan minyak Zaitun sebagai dressing untuk salad.

4. Makan Bareng Tingkatkan Pencernaan

Bukan cuma pola makan mediterania saja yang memiliki pengaruh. Karena rupanya budaya yang menyertainya juga menawarkan efek positif. Kunci dari pola diet mediterania adalah sesi makan sebagai bagian dari situasi sosial.

Gastroenterolog tersertifikasi, Dr. Samantha Nazareth mengungkapkan, sistem pencernaan merupakan bagian dari sistem syaraf parasimpatik. Sistem ini juga memiliki sebutan lain, yakni istilah “istirahat dan mencerna”.

“Ketika kita sedang dalam keadaan istirahat, mencium, dan merasakan makanan, artinya kita mempersilakan tubuh kita untuk menyerap dan mencerna makanan secara optimal,” jelas Dr. Samantha Nazareth.

Dengan mempraktekkan pola makan mediterania ini sama dengan bagaimana kita menghabiskan waktu sembari menikmati makanan bareng orang lain. Dalam kondisi seperti ini, tubuh akan menjadi lebih rileks, yang kemudian membantu melancarkan pencernaan.

5. Menjaga Usus Tetap Sehat

Ada sebanyak 300 sampai 500 spesies bakteri baik di dalam usus yang bertugas membantu sistem pencernaan kita untuk bisa berjalan secara optimal. Bakteri-bakteri baik inilah yang memberikan dampak besar bagi kesejahteraan kita.

Mempraktekkan pola makan mediterania akan membantu menjaga kesehatan bakteri-bakteri tersebut. Anna Rosales, RD mengungkapkan, makanan yang dikonsumsi dalam pola diet satu ini sebagian besar adalah kelompok makanan yang tinggi serat.

Di dalamnya ada biji-bijian utuh, buah-buahan, sayur-sayuran, legume, dan kacang-kacangan. Makanan fermentasi seperti acar atau yogurt juga baik untuk kesehatan bakteri usus. “Makanan kaya serat akan memberikan ‘makanan’ bagi bakteri baik tersebut. Sehingga kesehatan usus terjaga,” jelas Rosales.

6. Mengkonsumsi Sayuran Mentah Berpotensi Menimbulkan Iritasi Perut

Penuh dengan jenis makanan menyehatkan, rupanya sayur-sayuran mentah dalam diet mediterania memiliki dampak negatif. Bagi beberapa orang, mengkonsumsi sayuran mentah dapat menyebabkan iritasi perut.

“Sayuran mentah tidak diperuntukkan bagi semua orang. Sayuran memang sangat baik, namun bagi beberapa orang, sayuran mentah bisa mengiritasi sistem mereka dan menyebabkan keram perut,” jelas Merbhi.

Jadi, jika Anda merasakan perut perih usai memakan sayuran mentah, jangan lanjutkan pola makan tersebut. Di lain kesempatan, pilih sayuran matang. Untuk tetap mendapatkan manfaat maksimal dari sayuran meski telah dimasak, mengukus adalah cara terbaik menjaga rasa dan nutrisi sayuran.