Sama-Sama Keluar Bui Pekan Depan, PSI Sebut Ada Benang Merah di Balik Bebasnya Ahok dan Ba’asyir


SURATKABAR.ID – Rencana bebasnya Abu Bakar Ba’asyir dan Basuki Tjahaja Purnama pekan depan menjadi sorotan Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli. Ia menilai, kedua hal tersebut memiliki kaitan erat.

“Berita bebasnya Abu Bakar Ba’asyir dari penjara menyedot perhatian publik, meskipun masih proses beberapa hari Ba’asyir akan keluar penjara sudah memantuk kontroversi. Selain bebasnya Ba’asyir juga bebasnya Ahok pada tanggal 24 Januari nanti telah menyita perhatian publik,

“Dua momen ini beriringan dengan perjalanan opini publik terkait tensi politik Indonesia yang terus memanas. Saya melihatnya tiga momen ini saling terkait,” ujar Guntur Romli melalui keterangan tertulisnya pada Sabtu (19/1), seperti yang dikutip dari laman Detik.com.

Seperti yang diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengeluarkan izin atas pembebasan Abu Bakar Ba’asyir setelah menimbang melalui kacamata kemanusiaan. Namun, menurut Romli, pembebasan ini ada kaitannya dengan kondisi Ba’asyir yang terus menurun.

Lantaran alasan kesehatan pimpinan sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah yang tak kunjung ada perubahan, dikhawatirkan ia meninggal dunia ketika masih menjalani masa hukuman.

Baca Juga: Jokowi Setujui Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir, Ma’ruf Amin: Sisi Kemanusiaan Pemimpin Negara

“Menurut saya pribadi ada alasan lain yang lebih kuat, meskipun masih menjadi kemungkinan tapi ini kemungkinan besar bisa terjadi. Kondisi kesehatan ABB yang terus memburuk dan dikhawatirkan meninggal dalam penjara,” imbuh Romli.

Romli menyebut, apabila hal yang dikhawatirkan tersebut benar-benar terjadi, maka itu bisa digunakan sebagai senjata bagi lawan politik Jokowi. Kondisi tersebut ditakutkan akan semakin membuat suhu pemilihan presiden (pilpres) makin panas. Apalagi Ahok juga bebas usai menjalani masa hukuman.

“Kalau sampai hal ini terjadi, ABB meninggal dalam penjara, sementara BTP bebas yang bagi lawan-lawannya tetap dituduh ‘penista agama’. maka akan menjadi amunisi lawan-lawan politik Jokowi untuk menyerang dan menjadi gorengan panas untuk Pilpres 2019,” tulisnya.

“Lawan-lawan Jokowi memang sangat pandai mengemas isu dan fitnah, apapun bisa dikemas menjadi isu politik. Mulai dari isu bencana, isu hukum, isu pribadi, isu keluarga, hingga yang tidak ada sama sekali alias hoax dan fitnah pun bisa dibikin-bikin untuk menyerang Jokowi,” sambung Romli.

Terkait kondisi Ba’asyir yang ditakutkan akan kembali menyebarkan paham terorisme, Romli menilai, hal itu tak akan terulang. Pasalnya kondisi Ba’asyir saat ini kerap jatuh sakit. Namun, jika Ba’asyir tetap menyebarkan paham tersebut, Romli menegaskan, ada aparat hukum yang akan memprosesnya.

“Saya ingin membantu dengan dua prediksi. Pertama, ABB sudah sangat sepuh, lemah dan sakit-sakitan maka akan lebih fokus pada kesehatan dan ibadah mendekatkan diri pada Allah SWT daripada hal-hal lainnya,” ungkap Romli menjawab ketakutan Ba’asyir kembali menyebar paham terorisme.

Romli menambahkan, selain itu Ba’asyir juga telah menjalani sebagian dari masa tahanannya. “ABB juga telah menjalani 2/3 masa tahanan, keluarga ABB pastilah akan menjaganya dan tidak mau lagi terpisah dan menderita lagi masuk penjara,” tuturnya.

“Kedua, apabila benar itu terjadi, masih ada tanda-tanda mendukung atau masih berani terlibat terorisme maka aparat penegak hukum dalam hal ini Densus 88 tidak ada keraguan akan menangkapnya lagi,” imbuhnya lagi.

Diberitakan sebelumnya, Jokowi menyatakan memberi izin atas pembebasan Ba’asyir dengan alasan kemanusiaan. Selain itu, Jokowi juga mengaku sudah menampung berbagai pertimbangan dari Kapolri hingga kuasa hukumnya, Yusril Ihza Mahendra.

“Faktor kemanusiaan. Artinya, beliau sudah sepuh. Ya faktor kemanusiaan. Termasuk kondisi kesehatan,” ujar Jokowi ketika ditemui di Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Arqam, Garut, pada Jumat (18/1) lalu.

“Ini pertimbangan yang panjang. Pertimbangan dari sisi keamanan dengan Kapolri, dengan pakar, terakhir dengan Pak Yusril. Tapi prosesnya nanti dengan Kapolri,” pungkas Jokowi.