Ada Kemiripan dengan Tsunami Palu, Ini Fakta-Fakta Gelombang Tinggi di Banten dan Lampung


SURATKABAR.ID – Gelombang tsunami menerjang kawasan Anyer, Banten dan Lampung. Sejumlah bangunan di dua kawasan tersebut mengalami kerusakan akibat terjangan gelombang air. Jumlah korban tewas akibat tsunami mencapai angka di atas 20 orang hingga Minggu (23/12) pukul 04.30 WIB.

Dilansir dari Detik.com pada Minggu (23/12/2018), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menduga tsunami terjadi bukan karena gempa, melainkan longsor dari erupsi Anak Gunung Krakatau. Berikut beberapa faktanya:

Gelombang Tinggi Tercatat pada Sabtu Pagi

Sebelum terjadi tsunami, BMKG telah mencatat adanya gelombang air laut pada Sabtu (22/12) sekitar pukul 09.00 WIB. Lalu pada pukul 21.03 WIB, BMKG berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Geologi pukul 21.27 WIB terjadi kenaikan muka air pantai.

“Tanggal 22 Desember pukul 09.00 WIB sampai pukul 11.00 WIB, tim BMKG kebetukan berada di perairan Selat Sunda melakukan uji coba instrumen. Dan di situ terverifikasi bahwa terjadi hujan lebat dengan gelombang dan angin kencang,” ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono ditemui di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Minggu (23/12).

“Oleh karena itu, tim kami kembali ke darat dan akhirnya masih di tanggal 22 Desember pukul 21.03 WIB, Badan Geologi mengumumkan terjadi erupsi lagi anak Gunung Krakatau. Kemudian 21.27 WIB Tidegauge badan informasi geospasial yang terekam oleh BMKG menunjukkan adanya tiba-tiba ada kenaikan muka air pantai,” imbuh Rahmat.

Baca Juga: Korban Terus Bertambah, BMKG Beberkan Penyebab Pasti Tsunami di Anyer

Tinggi Gelombang Tsunami Mencapai 3 Meter

Musibah yang terjadi di Anyer, Banten, seperti yang diungkapkan oleh BMKG, merupakan gabungan dari gelombang tinggi dengan tsunami. Tinggi gelombang air laut yang terbentuk, disebut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, mencapai angka 3 meter.

“BMKG sebelumnya memberikan warning ancaman tinggi gelombang Selat Sunda 2 meter. Kalau ditambahkan setinggi 3 meter. Pada jam sama, gelombang tsunami 0,9 meter. Bisa disimpulkan sekitar 3 meter tentunya menyebabkan bagaimana tsunami masuk ke daratan,” jelas Dwikorita.

Sementara itu, terkait tsunami ini, Dwikorita mengaku masih diperlukan pengecekan lebih lanjut. Pasalnya, data-data yang didapatkan BMKG dirasa masih belum cukup. “Kami melakukan koordinasi segera dengan Badan Geologi dan akhirnya kami sepakat bahwa ini diduga, kenapa ini diduga, karena datanya belum cukup.

“Waktu saat ini kami cek di lapangan masih gelap, jadi kami mencoba menggunakan alat, nanti Pak Kepala Badan Geologi masih membutuhkan data lagi, namun ada indikasi yang terjadi, memang pada hari yang sama ada gelombang tinggi ada bulan purnama. Tapia da juga terjadi erupsi Anak Gunung Krakatau yang diduga itu mengakibatkan tsunami,” jelasnya.

Diduga Akibat Erupsi Anak Gunung Krakatau

Tsunami di Pantai Anyer, Banten dan Lampung diduga diakibatkan oleh erupsi anak Gunung Krakatau. Ada dugaan bahwa tsunami yang disebabkan gabungan gelombang tinggi itu karena adanya longsor di bawah laut.

“Tsunami yang terjadi itu bukan karena seperti yang dipantau oleh BMKG. Biasanya ada gempa lebih dahulu baru terjadi tsunami. Tadi kami cek tak ada gejala sesmisitas. Jadi tak ada gejala tektonik yang memicu tsunami, sehingga kami butuh waktu koordinasi dengan Badan Geologi bahwa diduga erupsi tersebut, kemungkinan bisa langsung atau tidak langsung memicu terjadinya tsunami,” ungkap Dwikorita.

Siang nanti, BMKG akan kembali melakukan pengecekan ulang terkait adanya gelombang tinggi air laut. BMKG melihat tsunami di Banten dan Lampung memiliki kemiripan dengan tsunami yang terjadi di Palu beberapa waktu lalu.

“Jadi sehingga kalau sudah terang apakah benar erupsi tadi mengakibatkan longsor. Kami mencurigai longsor, karena pola grafik tsunaminya ini periodenya pendek seperti yang terjadi di Palu, akibat dipicu oleh longsor,” tuturnya lebih lanjut.