Skuter Listrik Gesits Tegas Menolak Dijadikan Alat Politik


SURATKABAR.ID – Dengan tegas, Muhammad Al Abdullah selaku CEO Garansindo Group menyampaikan bahwa eksistensi skuter listrik Gesits bukan merupakan alat politik. Ia juga menegaskan bahwa pemanfaatan skuter listrik tersebut bukan untuk kepentingan yang bisa dipolitisir. Apalagi jika mengingat Indonesia tengah menjelang pemilihan presiden yang akan digelar tahun depan. Otomotif satu ini bisa dijadikan bahan untuk kampanye.

Mengutip laporan Kompas.com, Senin (12/11/2018), pria yang akrab disapa Memet itu memaparkan, kehadiran Gesits itu sendiri sejak awal hanyalah kolaborasi antara Garansindo dan juga akademisi. Sampai akhirnya BUMN dan pihak swasta tanah air ikut mendukung.

“Kalau dijadikan bahan politik, saya sendiri juga bingung. Tetapi sudah jelas dari awal kita bukan untuk politik,” tandas Memet pada akhir pekan lalu di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Memet menyebutkan bahwa dari segi kesiapannya, produksi sudah sangat siap sekali. Hanya tinggal menunggu momen atau mencari waktu untuk diluncurkan. Dia juga bingung apakah harus meluncur tahun ini atau tahun depan.

“Semuanya sudah oke, bahkan kemarin juga kami coba lagi di pabrik, sudah siap semuanya. Saya percaya kalau skuter listrik ini bakalan laris,” imbuh Memet kemudian.

Baca juga: Safari Politik, Jokowi Pakai Motor Street Tracker ke Pasar Anyar

Berdasarkan Info Iptek Dikti, Gesits diharapkan bisa diperkenalkan pada Presiden Joko Widodo di Istana Negara dalam waktu dekat. Skuter listrik ini sudah melalui seluruh tahapan, sebelum dilepas ke pasaran atau dikomersialkan.

Yamaha Ikut Siapkan Skuter Listrik

Setelah Gesits skutik listrik buatan Indonesia dicoba Presiden RI Ir. Joko Widodo dan mendapat sambutan positif, diketahui bahwa sepeda motor listrik juga menjadi arah yang dituju pemerintah di masa depan.

Target 2,1 juta unit motor listrik dan penambahan Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) diharapkan dapat dicapai hingga 2025 nanti. Produsen roda dua pun bersiap menghadapi road map ini. Seperti dilansir dari motorplus.gridoto.com, salah satunya ialah Yamaha yang juga memiliki industri di Indonesia.

Presiden Direktur Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Minoru Morimoto, pihaknya mendukung keputusan pemerintah soal motor listrik dengan sedikit catatan untuk diperhatikan.

“Kami setuju soal motor listrik. Namun bagaimana membuat masyarakat secara ekonomi tidak terpengaruh. Kalau berpindah ke motor listrik secara tiba-tiba, banyak orang akan menganggur (sebab suplier yang memasok akan kehilangan bagian),” tukas Morimoto saat ditemui beberapa waktu lalu.

Morimoto mengingatkan, Yamaha di Indonesia memiliki kerja sama dengan para pemasok produksi. Yamaha bertanggung jawab akan keberlangsungan bisnis para rekannya tersebut. Yamaha sendiri bukannya tinggal diam.

Melalui Asosiasi Industri Sepeda motor Indonesia (AISI) mereka terus berdiskusi khususnya terkait segi teknis.

“Kami membicarakan keamanan dari baterai motor listrik karena baterai pasti butuh diganti. Industri kita perlu belajar. Kalau dalam dua tahun (berganti) tidak akan mudah. Mungkin tiga sampai lima tahun saat teknologi baterai meningkat, bisa. Ini tidak hanya di Indonesia, tapi dunia,” sebut Morimoto.

Yamaha dikenal dengan produk motor listriknya E-Vino yang tahun lalu diperlihatkan untuk kepentingan studi kendaraan listrik. Dengan kecepatan 50 kpj, skutik ini menggunakan baterai 50V- 10 Ah 550 Wh.