Pose 1 Jari Luhut Dipermasalahkan, Ma’ruf Amin Singgung Gesture SBY


SURATKABAR.ID – Lantaran pose satu jarinya di acara IMF-World Bank, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dilaporkan ke Bawaslu. Gesture tersebut dianggap berhubungan dengan kampanya politik yang berkenaan dengan capres-cawapres nomor urut 01—Jokowi-Ma’ruf Amin. Terkait hal ini, KH Ma’ruf Amin lantas menyinggung gesture bicara Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga kerap mengacungkan telunjuk.

“Pak SBY tuh sering ngomong begini-begini (memperagakan gesture mencamkan dengan jari telunjuk) apa itu kampanye juga? Belum tentu orang begini (mengacungkan telunjuk) itu kan kampanye,” ungkap KH Ma’ruf Amin di kediamannya, Jalan Lorong, Koja, Jakarta Utara, Sabtu (20/10/2018). Demikian sebagaimana dilansir dari laporan Detik.com, Minggu (21/10/2018).

KH Ma’ruf Amin juga mengungkapkan, bagi umat Islam, saat tahiyatul awal maupun akhir dalam salat juga menunjukkan gesture menunjuk dengan telunjuk. Hal itu tentu bukan kampanye. Maka dari itu, ia menambahkan, membaca makna gesture tertentu juga harus dilihat dari konteks keadaan.

“Kalau orang tahiyat akhir, Asyhadu alla illaha illallah, orang kan pasti nunjuknya satu,” tukas Ma’ruf.

KH Ma’ruf Amin berpendapat, pose satu jari atau semacamnya harus dilihat dulu dari konteksnya dengan jelas. Mantan wantimpres era SBY ini menyebut, SBY juga sering memeragakan pose satu jari sambil mengacungkan telunjuk.

Baca juga: Kabinet Kerja Kurang Koordinasi, Elektabilitas Jokowi Mandek 60%?

Coba lihat Pak SBY kalau ngomong mesti begini-begini (mengacungkan jari telunjuk), ada yang memang dia kebiasaan,” ujar KH Ma’ruf Amin kemudian, dilansir reportase Kumparan.com.

KH Ma’ruf Amin kemudian melanjutkan, itulah sebabnya, belum tentu orang yang berpose satu jari atau semacamnya termasuk kampanye.

“Belum tentulah,” tandasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Luhut dan Menkeu Sri Mulyani dilaporkan ke Bawaslu karena pose satu jari tersebut. Hal ini juga sempat viral di media sosial, di mana Luhut dan Sri Mulyani terlihat mengarahkan Direktur Pelaksana IMF, Christine Lagarde dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. Padahal di saat yang bersamaan mereka mengacungkan dua jari.

“Jangan pakai dua, bilang not two,” ujar Sri Mulyani. Luhut kemudian menyampaikan hal itu ke Lagarde dan Kim. Lantas Lagarde dan Kim pun mengubah pose jarinya menjadi satu jari. “Two is for Prabowo, one is for Jokowi,” tukas Sri Mulyani kepada Lagarde.

Insiden ini telah dilaporkan ke Bawaslu. Kini Bawaslu masih mendalami pelaporan tersebut. Jika diperlukan, Bawaslu akan memanggil Luhut dan Sri Mulyani untuk dimintai keterangan. Jika terbukti melanggar UU Pemilu, Luhut dan Sri Mulyani dapat terancam sanksi pidana.

Bagaimana pendapat Ma’ruf?

“Itu kan bisa dilihat itu, urusan negara, kok [dihubungkan dengan] kampanye? Urusan IMF kan urusan negara bagaimana membangun pemerintahan,” jelas Ma’ruf.

Luhut dilaporkan ke Bawaslu oleh Dahlan Pido selaku masyarakat, karena pose satu jari saat penutupan IMF-WB. Selain Luhut, Sri Mulyani juga dilaporkan. Dalam laporannya, Dahlan juga melampirkan pemberitaan media sebagai bukti. Ia menuding Sri Mulyani dan Luhut melakukan perbuatan yang melanggar Undang-undang.

“Undang-undang pemilu itu nomor 1 tahun 2017 itu ada pelanggarannya. Pasal 282 dan 283 sanksinya ada di pasal 547. Isinya Pejabat negara dilarang melakukan tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu peserta pemilu, itu poinnya. Sanksinya pasal 547, 3 tahun penjara pidana dan denda 36 juta,” ungkap Dahlan di kantor Bawaslu, Jl MH Thamrin, Jakata Pusat, Kamis (18/10/2018).

Melalui Kementerian Keuangan, Sri Mulyani, telah menepis pose tersebut sebagai bagian dari kampanye.

“Kami rasa tindakan yang dilakukan oleh Menteri Keuangan tidak memenuhi kriteria atau definisi dari kampanye pemilu menurut UU Pemilu,” tukas Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kemenkeu Nufransa Wira Sakti kepada jurnalis, Kamis (18/10/2018).

Indonesia Number One

Mengetahui dirinya dilaporkan, Luhut tidak mempermasalahkan mengenai hal itu. Ia kemudian menyampaikan dengan tegas bahwa dirinya tidak berkampanye saat itu.

“Ya nggak apa-apa, kan Indonesia nomer satu,” imbuh Luhut saat dimintai tanggapan di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta Selatan, semalam.

Indonesia nomor satu juga diamini oleh stafsus Menko Kemaritiman, Atmadji Sumarkidjo. Menekankan hal serupa, Atmadji menyebut pose satu jari Luhut itu memiliki arti Indonesia number one.

“Penjelasannya sudah clear, [pose satu jari artinya] Indonesia number one, emang nggak boleh? Kan beliau nggak bilang pilih nomor satu,” tegas Atmadji saat dihubungi awak media, Kamis (18/10/2018).

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.