China Jual Paket Wisata Murah ke Bali, Ternyata Untuk Lancarkan Praktik Terselubung Ini


    SURATKABAR.ID – Banyaknya wisatawan asing yang datang ke Indonesia, tentu menjadi prestasi tersendiri karena dianggap dapat meningkatkan pendapatan ekonomi daerah.

    Namun, beberapa waktu belakangan kedatangan wisatawan asing ke Bali malah menjadi gangguan yang cukup menjengkelkan. Sebab, sejumlah agen pariwisata China menjual paket wisata dengan harga yang sangat murah alias ‘diobral’.

    Ketua Bali Liang (Komite Tiongkok Asita Daerah Bali) Elsye Deliana mengungkapkan, wisatawan China memang doyan berwisata ke Bali. Bahkan, wisatawan asal negara tersebut menduduki peringkat pertama jumlah kunjungan ke Bali.

    Namun, dibalik tingginya kunjungan tersebut, ada sejumlah praktik terselubung yang tak pantas. Bahkan, fenomena ini telah berlangsung sekitar 2-3 tahun belakangan. Menurut Elsye, paket wisata ke Bali sebelumnya dijual 999 RMB (Renminbi) atau sekitar Rp 2 juta.

    “Coba dibayangkan, dengan uang Rp 2 juta orang Tiongkok sudah bisa ke Bali, menginap di Bali 5 hari 4 malam dan sudah dapat makan,” terangnya, seperti dilansir dari jawapos.com, Senin (15/10/2018).

    Baca juga: Selingkuh Berujung Maut! 5 Fakta CRV Masuk Jurang, Istri Sah Sempat dapat Firasat Ini

    Angka ini pun terus turun menjadi 777 RMB atau RP 1,5 juta. Kemudian turun lagi menjadi 499 RMB atau sekitar Rp 1 juta, dan terakhir menyentuh 299 RMB atau Rp 600 ribu.

    “Coba dipikir, dengan Rp 600 ribu bisa dapat tiket ke Bali dan balik lagi ke Tiongkok. Dapat makan dan hotel selama 5 hari 4 malam. Jadi kualitasnya seperti apa,” tegasnya.

    Harga murah yang tak masuk akal ini secara tak langsung berkaitan dengan adanya seorang pengusaha asal China yang membangun usaha Art shop di Bali. Toko-toko inilah yang memberikan subsidi wisatawan dengan biaya murah tersebut. Namun, para wisatawan asal China tersebut wajib menyambangi art shop itu.

    “Ada subsidi dari art shop besar yang punya beberapa di Bali. Subsidi ini yang bisa membuat harga murah,” tuturnya.

    Wisawatan ini pun akhirnya membeli beragam barang berbahan latex seperti kasur, sofa, bantal, dan barang lainnya.

    “Dengan alasan bahwa Indonesia penghasil karet, sehingga barangnya jauh lebih murah. Padahal barang itu sebenarnya barang buatan Tiongkok juga,” ungkap Wakil Ketua Bali Liang, Bambang Putra.

    Ironisnya, selama lima hari empat malam di Bali, para wisatawan ini hanya berbelanja dari toko-toko milik orang China saja. Pembayaran pun dilakukan dengan sistem barcode milik China.

    “Jadi transaksinya berputar saja, datang ke Bali dari Tiongkok, belanja ke toko Tiongkok, kemudian sistem pembayaran masih ala Tiongkok,” tukas Elsye.