Dituding Sebar Doktrin Anti-Jokowi, Guru N Ternyata Pernah Tulis Buku Kontroversial


    SURATKABAR.ID – Seorang guru di SMA Negeri 89 Jakarta mendadak jadi sorotan setelah dilaporkan menyebarkan doktrin anti-Joko Widodo (Jokowi) saat pelajaran berlangsung.

    Guru berinisial N tersebut dikabarkan mengumpulkan siswanya dan memutar video bencana Palu. N disebut-sebut menyalahkan Jokowi atas banyaknya korban dalam bencana tersebut.

    Ternyata, N sebelumnya juga sempat terlibat kasus yang cukup kontroversial pada 2015 lalu. Kasus ini berkaitan dengan buku yang ditulisnya.

    Kepala Sekolah SMAN 87, Patra Patiah, mengaku tak tahu menahu soal kasus di tahun 2015 tersebut. Sebab, ia baru bertugas di SMA tersebut selama dua tahun.

    “Kejadiannya tahun berapa? (Bu N) mengajar di sini menurut info yang saya dengar sudah 4 tahun ya, saya sendiri baru 2 tahun,” terang Patra, Jumat (12/10/2018), seperti dilansir dari tribunnews.com.

    Baca juga: Heboh Guru Agama Sebar Doktrin Anti-Jokowi, Fakta Dibaliknya Mengejutkan

    Patra mengungkapkan, selama dua tahun dirinya menjabat sebagai kepala sekolah di SMAN 87, baru kali ini N terlibat dalam kasus yang tergolong berat. Patra mengaku bahwa dirinya hanya pernah menegur N secara lisan berkaitan dengan cara mengajarnya.

    Sementara itu, buku karya N yang pernah menjadi kontroversi tersebut berjudul ‘Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti’ untuk siswa kelas 10. Buku yang diterbitkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kemendikbud dengan cetakan pertama pada tahun 2014 tersebut terdiri dari 202 halaman.

    Buku yang ditulis oleh N dan Endi Suhendi ini menggunakan Kurikulum 2013 dan terdapat 12 BAB di dalamnya.

    Permasalahan utama buku tersebut terletak pada Bab 11 yang berjudul ‘Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah SAW di Madinah’ dengan sub-bab ‘Mengkritisi Sekitar Kita’.

    Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) yang kala itu dimpimpin oleh Anies Baswedan menemukan narasi yang dianggap kurang tepat mengenai kekerasan terhadap muslim Rohingya.

    … muslim Rohingya yang sejak lama dianiaya, diusir dan rumah-rumah mereka dibakar massa penganut Buddha,” bunyi narasi tersebut.

    Narasi ini dianggap kurang berhati-hati dan dapat memicu konflik antar agama. Padahal, seharusnya penulis mengungkapkan pesan dengan konteks yang lebih positif. Sehingga dapat mengajarkan semangat toleransi dan perdamaian.

    Oleh karena itu, buku tersebut sempat ditarik dan ditutup akses unduhnya di situs Buku Sekolah Elektronik milik Kemendikbud. Kemudian, diterbitkan kembali setelah dievaluasi.