Dilema Hadapi Pilpres 2019, Yusril: Koalisi Keummatan Hanya Fatamorgana


SURATKABAR.ID – Ketua Umum Partai Buna Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra buka suara di internal partainya tentang dinamika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Ia menyinggung-nyinggung dilema politik, antara mendukung Prabowo Subianto atau Joko Widodo (Jokowi).

Dilansir dari laman Detik.com pada Rabu (15/8/2018), rupanya dilema Yusril berawal mula dari tinjauannya terhadap rekomendasi dukungan pencapresan terhadap Prabowo Subianto dari hasil Ijtima’ Ulama yang digelar oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama.

Seperti yang diketahui, dalam ijtima’ tersebut ada dua nama yang direkomendasikan sebagai calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi Prabowo. Dua nama itu adalah politisi senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al Jufri dan Ustaz Abdul Somad.

Prabowo dapat memilih satu dari dua kandidat cawapres tersebut. Namun alih-alih memilih salah satunya, Prabowo justru menjatuhkan pilihan pada Sandiaga Uno, politisi Partai Gerindra yang menduduki jabatan sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Padahal jelas-jelas Sandiaga bukan ulama.

Di kalangan ulama peserta ijtima’ di Hotel Peninsula, sikap Prabowo yang tidak memilih UAS (Ustaz Abdul Somad) atau USA (Ustaz Salim Segaf Al Jufri) juga masalah. Sekarang, siapa yang tidak taat kepada ulama?” ungkap Yusril melalui akun Instagram @yusrilihzamhd, Selasa (14/8).

Baca Juga: Jokowi atau Prabowo, Yusril Akhirnya Memilih: Kami, PBB Manut kepada…

Yusril sendiri terang-terangan mengaku bahwa akun Instagram @yusrilihzamhd yang memuat tulisan terkait keberatan mengenai hasil Ijtima’ Ulama tersebut bukanlah miliknya. Pasalnya ia tidak punya akun media sosial Instagram.

Ia berharap akan ada hasil yang lebih bijak dari Ijtima’ Ulama II. Menurut Yusril, keputusan Prabowo memilih sosok pengusaha dan bukan ulama sebagai cawapres bertolak belakang dengan keputusan Jokowi yang malah memilih Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin yang juga merupakan Rais Aam PBNU.

“Itulah yang menjadi dilema dan mengapa sebabnya kami sementara ini menempatkan diri berada di tengah. Jokowi yang tidak dikomando ulama manapun memutuskan memilih ulama sebagai pendampingnya. Sementara Prabowo yang dikomando ulama untuk memilih ulama, malah memilih pengusaha,” tukas Yusril, Selasa (14/8).

Terlepas dari dilema tersebut, PBB sendiri merupakan partai politik yang diasosiasikan dekat dengan massa Islam. PBB, bersama Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dikelompokkan dalam Koalisi Keummatan. Namun ia kini malah menilai koalisi tersebut palsu.

“Koalisi Keummatan hanya fatamorgana yang tidak pernah ada di alam nyata. Partai Bulan Bintang tidak pernah terlibat di sana, bahkan kita complain nama kita dibawa-bawa tanpa pernah diajak bicara,” seloroh Yusril ketika menyampaikan materinya di hadapan kader internal PBB.

Ia bahkan blak-blakan mengaku dikecewakan setelah Gerindra, PKS, dan PAN memutuskan bergerak sendiri tanpa berembuk dengan pihaknya terlebih dahulu terkait koalisi. Yusril kemudian menyinggung Prabowo yang pernah memfitnah dirinya.

“Apalagi Ketua Umum Gerindra secara terbuka memfitnah saya dengan mengatakan bahwa beliau memang mengaku terus terang tidak pernah berbicara dengan Ketua Umum PBB karena ‘tiap kali dihubungi beliau selalu berada di luar negeri’. Mana ada aktivis PBB yang membela ketua umumnya yang diperlakukan seperti itu?” ungkap Yusril.

Ada dugaan, disampaikan Yusril, bahwa kubu Gerindra, PAN, dan PKS memiliki harapan tak baik terhadap PBB. “Kesan saya, bagi Gerindra, PKS, dan PAN, PBB ini lebih baik masuk liang lahat daripada tetap ada.”

“Kita sudah sering bantu Gerindra, tetapi ketika partai kita terpuruk dikerjain KPU, apakah ada sekadar salam menunjukkan simpati kepada kita? Baik Gerindra maupun PKS, PAN, yang disebut Koalisi Keummatan itu tidak pernah ada,” pungkas Yusril.

Pada Pilpres 2019, pasangan mana yang bakal kalian pilih?#PollingPilpres2019

Posted by SuratKabar.ID on Sunday, August 12, 2018