Diperkosa Kakak Kandung, Gadis Jambi 15 Tahun Kini Dibui karena Aborsi


SURATKABAR.ID – Gadis remaja asal Batanghari, Jambi, divonis penjara setelah terbukti mengaborsi bayi di kandungannya. Yang memilukan, remaja berinisial WA itu hamil setelah diperkosa oleh kakak kandungnya sendiri yang berusia 18 tahun berinisial AA. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Muarabulian kemudian menjatuhkan hukuman lebih berat untuk AA.

Melansir reportase thejakartapost.com, Sabtu (21/07/2018), sang adik menjadi hamil setelah diperkosa sebanyak delapan kali. Menurut pengakuan WA, sang kakak sudah melakukan hal tak senonoh itu sebanyak delapan kali. Seperti kebanyakan kasus p*emerkosaan, AA mengancam adiknya agar tidak membocorkan soal p*emerkosaan kepada siapapun. AA juga menggunakan ancaman saat WA menolak meladeni hasratnya yang sudah tak lagi terbendung.

Mengutip jambi-independent.co.id, kasus ini terungkap sewaktu warga Muara Bulian menemukan tubuh bayi dengan tali pusarnya di sekitar kebun setempat pada 30 Mei 2018. Yang mengenaskan, kepala sang bayi sudah tidak ada.

AA Dituntut 7 Tahun, WA Dituntut 1 Tahun Penjara

Jaksa penuntut membacakan tuntutan untuk kakak-beradik dalam sidang pada Rabu (18/07/2018). Sang kakak, AA, dituntut tujuh tahun penjara dengan alasan perbuatan di luar batas. Sedangkan WA dituntut satu tahun penjara karena telah melakukan aborsi yang telah dilarang dalam undang-undang. Pertimbangan lainnya karena WA menjadi korban atas tindakan sang kakak.

Baca juga: Buah Hati Denada Divonis Leukimia, Ortu Wajib Kenali Gejala Kanker Darah Pada Anak

Namun, berdasarkan putusan majelis hakim pada Kamis (19/07/2018), WA divonis enam bulan penjara, sedangkan kakaknya dua tahun penjara. Selain itu, mereka juga akan menjalani rehabilitasi di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).

Mengenai vonis ini, para terdakwa dan pengacara menyatakan sepakat dan tak berniat untuk mengajukan banding.

Ortu Korban Ikut Bantu Aborsi

Sebelumnya, orangtua kedua terdakwa mengaku tak mengetahui kasus p*emerkosaan itu. Sang ibu juga tak tahu anak perempuannya tengah mengandung janin hasil perbuatan keji AA. Setelah kasus ini mengemuka, si ibu mengakui terpaksa ikut membantu proses aborsi karena malu dengan tetangga.

Menanggapi kondisi ini, Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati menyampaikan, besar kemungkinan ibu kedua terdakwa ini juga bisa dijerat pasal pidana.

“Iya, sang ibu bisa jadi tersangka (bila terbukti),” katanya, Sabtu (21/07/2018).

KPAI: Aborsi Sebetulnya Boleh Tapi…

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan ketidaktahuan publik perihal aturan aborsi, terutama setelah menjadi korban p*emerkosaan. Sebetulnya, tindakan aborsi dibolehkan oleh hukum, namun dengan syarat tertentu. Demikian sebagaimana mengutip laporan IDNTimes.com.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua KPAI Rita Pranawati menanggapi vonis 6 bulan untuk remaja berusia 15 tahun berinisial WA. Dia dihukum karena melakukan aborsi setelah diperkosa kakak kandungnya sendiri.

Rita menjelaskan, aturan untuk melakukan aborsi sebetulnya sudah diatur jelas di Undang-Undang Kesehatan. Aborsi menjadi tindakan yang diperbolehkan, selama janin belum menginjak hari ke-40.

“Dengan catatan, itu terbukti tindak p*emerkosaan, kemudian korban nanti dikonseling. Tentu harus ada pernyataan dari polisi ya, kalau itu benar-benar diperkosa. Ini juga sudah sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI),” ungkap Rita.

“Jadi kadang-kadang masyarakat kita gak tahu kalau diperkosa terus hamil, harus bagaimana. Padahal aborsi boleh dengan syarat tertentu,” sambungnya.

Meskipun demikian, Rita memahami bahwa tak mudah bagi WA untuk mengakui perbuatan kakaknya. Di samping itu, kasus inses memberikan rasa depresi dan tekanan yang begitu mendalam karena si korban bertemu dengan pelakunya setiap hari.

“Pasti situasinya berat bagi si korban karena dia setiap hari bertemu pemerkosanya. Menurut riset saya, kasus inses itu minimal terungkap lima tahun. Ada juga sih (yang terungkap) dua tahun, tapi harus ada korban lain yang mengaku,” ujarnya.

Untuk itu, Rita meminta kasus WA dilihat secara keseluruhan agar bisa memberi keadilan, khususnya bagi korban. Ia menambahkan, KPAI akan mendalami lebih lanjut kasus tersebut dan siap memberikan bantuan hukum dan pendampingan.

Imbauan bagi Ortu agar Inses Tak Terulang

Rita mengatakan, p*emerkosaan oleh hubungan sedarah bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Untuk itu, dia mengimbau kepada orang tua agar memberikan pendidikan seksual kepada sang anak.

“Bisa jadi hal ini terjadi karena si kakak tidak tahu mengekspresikan organ reproduksi yang sudah aktif, ini jadi problem juga karena orangtua kadang gak sadar bagaimana memberi pelajaran seksual. Misalnya, kalau anak sudah usia baligh, jangan sampai tidur sama orang tuanya atau dengan saudaranya yang lain jenis kelamin,” imbaunya.