Ridwan Kamil Tak Khawatir Meski Kemenangannya Terancam


SURATKABAR.ID – Ridwan Kamil yang merupakan kandidat Gubernur Jawa Barat versi quick count alias hasil hitung cepat mengaku tak merasa khawatir mengenai kemungkinan hasil penghitungan yang berbeda dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) atas hasil Pilkada Jawa Barat.

Sebelumnya, diketahui bahwa pesaing pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, yakni pasangan Sudrajat-Ahmad Syaiku yang diusung Gerindra, PAN, dan PKS meyakini bahwa merekalah yang merupakan pemenang Pilkada.

Mengutip reportase Kompas.com, Sabtu (30/06/2018), berdasarkan quick count sejumlah lembaga survei, suara Ridwan-Uu (Rindu) unggul 3-4 persen dari pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik).

“Enggak (khawatir). Saya dari dulu saat meniatkan luar biasa tegang dinamikanya, saat mendaftar juga sama, saat berkompetisi sama, detik akhirnya positif. Berita belum pasti ini tidak akan menggelisahkan karena saya meyakini angka kita yang benar,” ungkap Ridwan saat ditemui di kediaman Solihin GP, Jalan Cisitu, Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/06/2018).

Kang Emil, demikian sapaan akrab Ridwan Kamil, juga merasa tak khawatir jika kemenangannya di Pilkada Jabar digugat. Ia berpendapat, hal itu wajar terjadi dalam proses demokrasi. Apalagi jika mengingat bahwa dulu pun ia pernah digugat pada Pilkada Kota Bandung 2013 lalu.

Baca juga: Coblos di Pilkada 2018, Ayu Ting Ting Ungkap Harapan Besarnya Untuk Gubernur dan Wagub Jabar Mendatang

“Sama, saya 2013 bayangin menang 45 persen digugat oleh mereka yang 17 persen. Jadi beda jauh juga ada yang ingin meluapkan rasa penasarannya dengan tidak logis. Ya kalau terjadi lagi, saya ulang kaset 2013. Ada tim lawyer-nya kita debat di MK. Nanti juga ada titik berhentinya,” beber Kang Emil kemudian.

Sembari menantikan hasil penghitungan resmi KPU, Kang Emil berkomitmen untuk terus melanjutkan kewajibannya memimpin Kota Bandung.

“Saya kan Wali Kota Bandung, saya akan menyibukkan diri mengurus Kota Bandung,” tambahnya yang saat ini memang masih menjabat sebagai petahana Wali Kota Bandung.

Meski demikian, ia tetap menginstruksikan kepada timnya untuk terus mengawal proses penghitungan langsung oleh KPU.

“Tapi terus memonitor, menitipkan kepada tim gabungan untuk menjaga suara yang akan dihitung manual. Jangan sampai ada rekayasa yang terjadi. Karena hasil quick count ini sama ke semua konsultan, 3-5 persen. Akan jadi ke MK kalau perbedaannya 0,5 persen,” jelasnya.