Astaga! Mabuk dengan Rebusan Air Pembalut Kini Jadi Tren di Jateng dan Jakarta


SURATKABAR.IDTren terbaru dari penyimpangan perilaku anak dan remaja kini ditemukan oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah (BNNP Jateng). Yang tak beradab, para remaja disinyalir mabuk dengan cara meminum air rendaman pembalut yang telah direbus. Tren fly ini diketahui dari informasi yang tersebar di masyarakat. Berdasarkan info tersebut, BNNP Jateng kemudian menelusurinya.

Ditukil dari reportase CNNIndonesia.com, Kamis (08/11/2018), kendati cara ini tak bisa dibilang sebagai gaya baru, namun kemunculannya kini tengah santer di masyarakat Jawa Tengah. Hal ini berjalan seiring dengan semakin sulit dan mahalnya konsumen mendapatkan narkoba jenis sabu.

“Sebenarnya ini bukan cara baru, di luar Jateng sudah beredar. Nah kalau di sini kami dapat dari informasi masyarakat yang kemudian kami telusuri. Kebanyakan terjadi di daerah Pantura pinggiran seperti Demak, Kudus, Pati dan Rembang,” ungkap Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jateng Ajun Komisaris Besar Suprinarto, Rabu (07/11/2018).

Berdasarkan hasil penelusuran, mereka yang mengkonsumsi air rendaman pembalut yang direbus ini terdiri dari anak-anak dan remaja jalanan yang selama ini biasa fly dengan menghirup lem, minum obat batuk cair atau pil koplo. Ironisnya, awalnya pembalut yang digunakan merupakan pembalut lama di tempat-tempat pembuangan sampah.

Tapi, atas pembersihan kebersihan dan higienis, pembalut yang digunakan sekarang merupakan pembalut baru.

Baca juga: Masyarakat Yaman Punya Tradisi Minum Air Seni Unta, Apa Khasiatnya?

“Kebanyakan mereka itu anak-anak dan remaja jalanan yang biasa ngelemngomix (mabuk dengan obat batuk Komix) dan ngoplo. Karena sekarang sabu mahal dan susah, lem pun juga harganya naik, dan pil koplo juga naik, mereka ini beralih ke pembalut. Awalnya pembalut bekas yang di tempat sampah, tapi sekarang ke yang baru karena bersih,” imbuh Suprinarto kepada awak wartawan.

Atas tren yang berkembang ini, pihak BNNP Jateng tak bisa memberikan tindakan kepada pelakunya karena barang yang digunakan merupakan barang legal.

Kendati begitu, BNNP Jateng akan mengedukasi para pelaku bahwa perilaku mereka ini menyimpang serta tentunya dapat merugikan kesehatan.

“Kami tidak bisa menindak mereka, tindakan hukum tidak bisa karena barang yang digunakan legal dan bukan narkotika atau psikotropika. Langkah kami yang bisa ya memberikan edukasi kepada mereka bahwa itu perilaku menyimpang yang merugikan kesehatan,” tukas Supri.

Juga Merebak di Jakarta

Lebih lanjut, Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Inspektur Jenderal Arman Depari mengungkapkan, tren ‘fly’ dengan air rebusan pembalut ini tak hanya terjadi di Jawa Tengah. Menurutnya, mabuk dengan cara ini juga menjadi tren di sejumlah daerah lain, termasuk beberapa wilayah di sekitar Jakarta.

“Tidak hanya di Jawa Tengah, tapi di Jawa Barat, dan sekitar Jakarta juga,” sebut Armand di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (08/11/2018).

“Di Karawang, Jakarta Timur, dan Bekasi kami sudah dapatkan informasi,” lanjutnya kemudian.

Ia menambahkan, saat ini BNN tengah mendalami berbagai aspek, termasuk kandungan zat di dalamnya, dan hukum penggunaannya. BNN juga masih meneliti dampak penggunaan air rebusan pembalut untuk teler.

Ditambahkan Armand, mayoritas pemabuk air rebusan pembalut ini merupakan remaja yang belum dewasa. Mereka, tutur Armand, menilai di dalam pembalut itu terdapat zat adiktif yang bisa membuat orang merasa teler jika dikonsumsi.

“Menurut mereka pembalut wanita itu di dalamnya mengandung bahan-bahan psikoaktif. Mungkin sebagai pengawet atau bahan yang lain. Tapi ini masih perlu pendalaman dan pemeriksaan laboratoris,” tandas Armand.