Unik! Mengintip Tradisi Malaman Masyarakat Lampung Barat untuk Menyambut Idul Fitri

SURATKABAR.IDTiap negara memiliki tradisi Idul Fitri yang berbeda. Salah satunya di Indonesia, tradisi mudik jadi salah satu yang paling besar.

Namun, di setiap daerah juga memiliki tradisi Lebaran yang berbeda. Seperti di Liwa, Lampung Barat. Tradisi dimulai sejak malam takbir.

Untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri, sejumlah penduduk biasanya menyediakan rendang sebagai menu buka puasa terakhir.

Berbicara soal rendang, kita tak bisa meninggalkan kelapa sebagai salah satu bahan pokok pembuatan rendang. Karena hampir setiap keluarga memasak rendang, tak heran jika tumpukan sabut kelapa ada di sudut-sudut rumah.

Namun, jangan anggap sabut kelapa itu onggokan sampah. Sabut kelapa itu akan digunakan untuk melakukan tradisi Malaman di malam takbir.

Baca juga: Seru! 10 Tradisi Lebaran Unik Dari Berbagai Penjuru Dunia. Ada yang Gunakan Tradisi Jawa

Tradisi Malaman disiapkan sejak siang pada hari terakhir puasa. Anak-anak dan remaja laki-laki akan menyusun batok-batok kelapa itu di halaman depan rumah.

Batok kelapa akan dilubangi dengan alu. Setelah itu, batang cabang dari pohon kopi ditancapkan ke tanah. Batok kelapa yang sudah berlubang tadi disusun di batang kopi hingga menjulang setinggi 1 meter atau bahkan lebih.

Sepulangnya dari shalat di masjid, anak-anak dan remaja membakar sabut kelapa tersebut. Api pun mulai menjalar dari atas hingga ke bawah ”menara sabut kelapa”.

”Apinya harus dijaga, jangan sampai mati. Kadang harus saya tiup biar baranya jadi api. Kadang harus saya siram minyak tanah biar apinya membesar,” kata Zikri Ricko Mulhaq (11), bocah Liwa, Lampung Barat, dikutip dari National Geographic Indonesia, Selasa (21/7/2015).

Butuh waktu sekitar 60 menit hingga semua sabut kelapa terbakar dan menyisakan bara yang memerah terserak di tanah.

Dulu, bara tersebut dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam setrika besi dan digunakan untuk menyetrika baju yang akan dipakai untuk shalat Ied, keesokan harinya.