Bocah dalam Insiden di Mapolrestabes Surabaya Selamat, Kapolri: Itu Saksi Paling Penting


SURATKABAR.ID – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyebutkan bahwa seorang bocah yang selamat dari insiden pengeboman di Mapolrestabes Surabaya saat ini masih menjalani perawatan. Menurutnya bocah tersebut adalah saksi paling penting dalam tragedi ini.

Jenderal Tito Karnavian, seperti diwartakan Detik.com, dalam jumpa pers yang digelar di Mapolda Jawa Timur, Senin (14/5) menyampaikan dengan tegas, sebagai saksi terpenting, si bocah harus mendapatkan perawatan hingga pulih. “Ini saksi yang paling penting. Biarkan dia dulu dirawat,” tuturnya.

Menurut dugaan, bocah selamat dari pengeboman di Mapolrestabes Surabaya merupakan anak dari pelaku. Disebutkan, pelaku pengeboman berjumlah 4 orang yang datang mengendarai dua buah sepeda motor. Masing-masing pengendara membonceng. Si bocah duduk di boncengan motop paling depan.

“Setelah nanti bisa diajak bicara, kita akan tanya,” ungkap Tito lebih lanjut.

Tak hanya bocah itu saja. Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan ada 3 saksi penting lain dari lokasi pengeboman yang terjadi di rusunawa di Sidoarjo. Ketiganya juga merupakan anak dari terduga teroris yang tewas bernama Anton.

Baca Juga: Bom yang Meledak di Polertabes Surabaya Berasal dari Pengendara Sepeda Motor

“Bom itu dimiliki ayahnya dan meledak sendiri. Kita akan sampaikan nanti. Tiga anak itu tentu dia tahu persis,” jelas Tito Karnavian.

Lebih lanjut terkait aksi pengeboman di sejumlah lokasi di Surabaya dan Sidoarjo, menurut  pihak kepolisian, bom yang digunakan pelaku tergolong dalam jenis bom pipa. Pelaku menggunakan bahan peledak triacetone triperoxide (TATP), dengan daya ledak high explosive.

Disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, 3 ledakan yang menyasar gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi, dan ledakan yang terjadi di rusunawa di Sidoarjo menggunakan jenis bom serupa, berbahan peledak TATP, yang mana sangat erat kaitannya dengan kelompok ISIS.

“Bahan peledaknya diduga TATP yang dikenal di kalangan kelompok ISIS di Suriah dan Irak,” ujar Tito Karnavian dalam temu pers di Mapolda Jawa Timur pada Senin (14/5).

Mengingat TATP yang sangat berbahaya, bahan peledak tersebut dijuluki ‘The Mother of Satan’. Jenis bom ini juga tidak memerlukan detonator. “Saking bahayanya, dinamakan ‘The Mother of Satan’ karena daya ledaknya tinggi. Di sini (TATP) dengan guncangan atau panas bisa meledak sendiri,” pungkas Kapolri dengan tegas.