Prabowo dan Tragedi Trisakti, Ini Kata Masyarakat


SURATKABAR.ID – Hasil survei mengenai Prabowo Subianto yang cukup mengejutkan dirilis oleh Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI).

Survei yang dilakukan pada 19-27 Maret 2018 tersebut bersifat nasional dengan 1.135 responden. Mereka kemudian ditanya soal Prabowo.

Setiap responden akan ditanya “Apa yang Anda pikirkan pertama mendengar Prabowo Subianto?”. Namun, 65 responden tak merespon pertanyaan ini.

“Ditanyakan ke 1135 responden, yang tidak merespon 65 responden,” terang Direktur KedaiKOPI, Vivi Zabkie, Sabtu (5/5/2018), dilansir tempo.co.

Menurut Vivi, dari 1.070 responden yang menjawab, 29,9 persen mengingat Prabowo sebagai pribadi yang tegas. Selanjutnya 21,1 persen militer, 13,5 persen Ketua Umum Partai Gerindra, 10,5 persen mengingatnya sebagai calon Presiden, 2,6 persen mencitrakan Prabowo ambisius, 5,4 persen menjawab tidak tahu.

Namun, 2,2 persen responden ternyata mengingat Prabowo terkait dengan tragedi Trisakti 12 Mei 1998. Sedangkan 1,7 persen responden mengingat Prabowo sebagai menantu Soeharto.

Menurut Vivi, lembaganya menggunakan metode wawancara tatap muka dan multi stage random sampling dalam survei tersebut. Sedangkan responden yang terlibat adalah masyarakat umum dengan usia lebih dari 17 tahun dan telah menikah.

Mengenai hasil survei ini, anggota Badan Komunikasi Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra Andre Rosiade buka suara. Menurutnya, kesan bahwa Prabowo merupakan otak dibalik tragedi Trisakti adalah salah besar.

Andre menegaskan pelaku penculikan pada 1998 itu bukanlah Tim Mawar Kopassus yang dipimpin Prabowo.

“Ini sudah diselidiki melalui pansus Trisakti dan pengadilan militer. Di pansus tersebut, pelaku penembakannya adalah polisi. Saya kan ada di lokasi saat itu,” terang Andre.

Andre melanjutkan, Gerindra akan terus menghalau isu-isu miring mengenai Prabowo menggunakan literatur dan publikasi pada masyarakat.

Menurutnya, munculnya isu miring ini adalah hal biasa yang akan muncul menjelang Pilpres 2019. “Ini menjelang pemilu dan masuk bulan Mei, ya goreng menggoreng isu biasa itu,” lanjutnya.

Selain itu, Andre juga menyebutkan sejumlah buku mengenai tragedi Trisakti. “Bang Fadli Zon sudah menulis buku Huru-Hara Mei 1998, Pak Kivlan Zein juga membuat buku. Saya sebagai mantan Presiden Mahasiswa Trisaksi juga ditugaskan mengcounter isu-isu ini,” ujar Andre.