Jokowi Dijamin Tak Dapat Suara di Papua, Alasannya Mengejutkan!


SURATKABAR.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijamin tak akan mendapat suara di Papua pada Pilpres 2019 mendatang. Hal ini disampaikan oleh mantan anggota Komnas HAM, Natalius Pigai.

Menurut Natalius, ada banyak hal yang menyebabkan rakyat Papua enggan memilih Jokowi dalam Pemilu. Oleh karenanya ia bisa menjamin bahwa tak ada yang mencoblos Jokowi di Papua.

“Saya yang jamin, Jokowi tidak dapat suara di Papua. Tulis kata-kata saya,” tegas Natalius saat diskusi di kawasan Buncit, Jakarta, Jumat (20/4/2018) kemarin, dilansir tribunnews.com.

Salah satu penyebabnya, menurut Natalius, adalah pembangunan infrastruktur di Papua selama Jokowi menjabat sebagai presiden. Menurutnya, Jokowi hanya membangun satu ruas jalan.

Pembangunan ini sangat berbeda jauh dengan masa pemerintahan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kala itu, SBY berhasil membangun sembilan ruas jalan. Namun, pemberitaannya tak dibesar-besarkan.

Baca juga: Jleb! Jokowi Tulis Status Soal Bandara Internasional Jawa Barat, Komentar Netizen Menohok

Disamping soal pembangunan di Papua, Natalius juga mencermati soal “amunisi” menjelang Pilpres. Menurutnya, amunisi Jokowi tak jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan calon presiden lainnya, seperti Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Oleh karena itu, Natalius mengungkapkan bahwa hampir pasti Jokowi tak dapat melanjutkan kepemimpinannya dan kembali menjadi presiden di periode mendatang.

“2019 presiden akan berganti. Jokowi sudah tidak punya lagi amunisi,” tuturnya.

Dilansir detik.com, Natalius juga mengungkapkan bahwa hanya 2 janji presiden yang terealisasi di Papua. Padahal, Jokowi memiliki 39 janji untuk rakyat Papua.

“Di tingkat nasional itu yang kami hitung itu kurang lebih 66 janji Presiden yang secara langsung dan yang tidak tercatat itu sudah lebih dari mungkin ratusan lebih dari itu. Papua saja, ini saya pakar Papua, 39 janji. Di Papua, 2 yang direalisasi. Yaitu jalan Wamena-Wamena-Duga, ruas jalan baru. kemudian sebuah pasar kecil pasar mamak mamak. Cuma dua itu,” katanya saat ditemui di Kawasan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (20/4/2018) kemarin.

Terkait pernyataan Natalius, Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Sumarsono meminta agar penilaian disesuaikan dengan data yang kuat.

“Yang jelas orang boleh menilai, tapi data bicara. Data berbicara mengenai kemajuan di tiap statistiknya, semua kan pesat dibanding sebelumnya,” tutur Sumarsono.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaJatuh di Morowali, Helikopter Ini Angkut Warga China
Berita berikutnyaPutus dengan Ariel, Sophia Latjuba Pindah Agama?