8 Fakta Museum Holocaust yang Didatangi Syahrini


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini, Syahrini yang dikenal sebagai salah satu penyanyi  tanah air melakukan aksi berfoto di Museum Holocaust alias Memorial to the Murdered Jews of Europe. Aksinya tersebut lantas viral dan menjadi sorotan. Pasalnya, dalam salah satu potret tersebut, Syahrini tampak tengah menaiki menaiki salah satu pusara yang diduga merupakan monumen penghormatan di museum itu. Tak pelak, warganet pun mengecam pelantun soundtrack film komedi berjudul “Bodyguards Ugal-ugalan“ tersebut.

Dikutip dari laporan Tempo.co, Minggu (25/03/2018) belakangan media Jerman bernama Berliner Morgenpost, juga ikut menyoroti perilaku Syahrini. Pasalnya, aksi yang dilakukan olehnya tersebut dinilai sensitif bagi banyak orang. Ini dikarenakan Museum Holocaust sebenarnya merupakan tempat untuk mengenang peristiwa genosida atau pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi oleh Partai Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler.

Tak hanya menimpa Syahrini. Sebelumnya, sejumlah pengunjung yang mengunggah foto di Museum Holocaust tersebut juga pernah ramai diperbincangkan. Beberapa tamu museum yang diketahui merupakan kumpulan mahasiswa pernah mendapat teguran dari Pemerintah Jerman. Saat itu, para mahasiswa tersebut berfoto dengan pose yang diduga tak menghormati pusara.

Sejak ramai diperbincangkan di media sosial, netizen lantas beramai-ramai mencari tahu tentang Museum Holocaust yang dimaksud. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut adalah 8 fakta Museum Holocaust yang diresmikan pada 2005 lalu.

1. Holocaust Museum dibangun di atas lahan 19 ribu meter persegi. Bangunan Museum Holocaust dirancang oleh arsitek berkebangsaan Amerika Serikat, Peter Aisenman, yang juga mendesain City of Culture of Galicia di Santiago de Compostela, Spanyol.

Baca juga: Berpose di Monumen Holocaust, Syahrini Jadi Pemberitaan Media Jerman. Isinya Menohok!

2. Sebuah lahan lapang dengan tugu-tugu berbentuk pola grid membentang di museum. Di sana terdapat 2.711 stalae yang terbuat dari beton. Tiap-tiap stalae mempunyai ukuran tinggi yang tak sama. Pengunjung bisa berjalan di antara stalae yang tak ubahnya seperti sebuah labirin.

3. Stalae yang ikonis tersebut memiliki panjang dan lebar yang sama, yakni 2,38 meter x 0,95 meter. Akan tetapi tingginya bervariasi, yakni mulai 0,2 meter hingga 4,8 meter.

4. Museum Holocaust sebenarnya bukan tempat untuk berfoto narsis. Dilansir dari laman Visit Berlin, museum ini merupakan bangunan memorial untuk berkontemplasi dan mengingat peristiwa kelam yang pernah terjadi di Jerman. Namun alih-alih melakukan dark tourism, banyak wisatawan yang datang justru buat berfoto diri, bahkan menaiki beberapa stalae.

Mengutip reportase Hipwee.com, Dark Tourism disebut juga dengan istilah ‘wisata hitam’ atau ‘wisata gelap’, dark tourism mencakup perjalanan ke tempat-tempat sisa tragedi atau tindak kekejaman.

5. Sempat terjadi perdebatan panjang di lingkungan parlemen Jerman saat perencanaan situs peringatan pembunuhan orang-orang Yahudi di Eropa dicanangkan. Termasuk soal desain dan tujuan pembangunan museum. Bahkan, saat museum diresmikan, Paul Spiegel yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Dewan Pusat Yahudi-Jerman, mengkritik museum lantaran dianggap terlalu abstrak.

6. Kontroversi berlanjut. Dalam tulisan The Washington Post, laporan pertama tentang kabar yang tak mengenakkan muncul pasca-museum Sekelompok orang dilaporkan melompat dari satu stalae ke stalae lain. Peristiwa ini membuat pemerintah berpikir, apakah museum tersebut benar-benar menjadi tempat untuk memperingati peristiwa genosida kelam yang dulu terjadi atau tidak.

7. Ironisnya tak hanya itu, laporan mengejutkan lainnya datang. Terjadi aksi vandalisme di musem. Beberapa turis dilaporkan menulis “I heart Berlin” di salah satu sisi prasasti. Turis lainnya tertangkap berfoto diri menggunakan selfie-stick alias tongsis (tongkat eksis).

8. Di Museum Holocaust, tepatnya di Taman Tiergarten, terdapat monumen serupa untuk mengenang Sinti dan Roma.  Dalam situs A View On Cities, disebutkan bahwa monumen itu dibangun untuk mengenang kaum homoseksual yang turut dianiaya di bawah rezim Nazi.