PSI Bertemu Presiden, Fahri Hamzah: Ngapain Ngomongin Strategi Pemenangan di Istana


SURATKABAR.ID – Pertemuan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan Presiden RI Ir. Joko Widodo pada Kamis (01/03/2018) di Istana Negara rupanya tak hanya menjadi sorotan publik tapi juga menimbulkan polemik. Beberapa politisi ikut mengomentari dan tak jarang bahkan melontarkan kritik.

Salah satunya datang dari Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Ia mengaku tak mempermasalahkan kedatangan ketua umum partai politik ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Namun, Fahri mempermasalahkan jika partai terkiat membahas strategi pemenangan Pemilu 2019 di Istana Kepresidenan.

Diberitakan sebelumnya, PSI membicarakan strategi pemenangan Pemilu 2019 dengan Presiden di Istana Kepresidenan, “Cuma kalau ngomong, ‘Kami membicarakan strategi penantang’, kan ngawur itu. Iya kan. Ngapain ngomongin strategi pemenangan di Istana,” ujar Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (05/03/2018). Demikian sebagaimana dikutip dari laporan Kompas.com, Selasa (06/03/2018).

Fahri menyatakan, Presiden tak hanya merupakan seorang kepala negara tapi juga kepala dari pemerintahan. Itulah sebabnya Presiden seyogyanya tidak diajak membahas pemenangan Pemilu 2019 di Istana yang menjadi simbol kenegaraan.

Kritikan juga dilontarkan Fahri kepada PSI yang saat ini belum memiliki kursi di DPR. Oleh sebab itu, partai ini tidak bisa mengusung capres. Namun demikian, mereka malah sudah membicarakan pemenangan Pilpres 2019. Menurut Fahri, hal ini tidak layak dilakukan oleh PSI.

“Enggak boleh dia (PSI) datang, tiba-tiba bilang, ‘Kami membicarakan kemenangan’. Memang siapa dia? Dia belum punya tiket juga (belum punya kursi DPR). Belum punya apa-apa juga ngomong pemenangan,” tandas Fahri.

“PSI-nya aja yang GR (gede rasa), ngomong-ngomong soal seolah dia membicarakan kemenangan segala macam, itu GR saja,” tambah Fahri yang dikenal sebagai mantan politisi PKS ini.

Di lain pihak, Sekretaris Kabinet Pramono Anung sebelumnya telah membantah bahwa pertemuan Jokowi-PSI membicarakan strategi pemenangan Pilpres 2019. Menurut Pramono, Jokowi dan PSI hanya melakukan pertemuan silaturahmi biasa.

Bamsoet: Emang yang Lain Enggak?

Sementara itu, dalam laporan Detik.com, dikatakan bahwa Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mempertanyakan hal yang dipermasalahkan dari kunjungan PSI ke Istana Negara menemui Presiden Jokowi.

Menurut Bamsoet, partai lain pun pasti berbicara soal politik praktis saat secara khusus bertemu Presiden di Istana Kenegaraan—yang notabene memang merupakan tempat tinggal resmi Presiden.

“Memang masalahnya di mana? Istana telah menerima PDIP, Golkar, Gerindra. Lalu kalau terima PSI, masalah? Memang di Istana kalau undangan yang lain enggak ngomong politik praktis?” tukas Bamsoet di Gedung DPR, Jakarta, Senin (05/03/2018).

Sebelumnya, PSI mengaku mereka membahas soal pemenangan Jokowi dalam Pemilu 2019 dalam pertemuannya dengan orang nomor satu RI. PSI sebelumnya memang telah menyatakan dukungannya pada Jokowi.

LSM ACTA Laporkan ke Ombudsman

Kritik lantas bermunculan lantaran PSI dan Jokowi dianggap tak etis membahas pemenangan Pemilu di Istana Presiden. Bahkan LSM ACTA telah melaporkan persoalan ini ke Ombudsman.

Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani juga ikut mengomentari pertemuan elite PSI dengan Presiden Joko Widodo yang memuat isu Pemilihan Presiden 2019. Serupa penilaian Fahri,  Ahmad Muzani juga menilai bahwa Istana Negara tak bisa digunakan untuk membahas topik terkait.

“Membicarakan tentang pencalonan Presiden ya Jokowi ya itu hak dia mau dengan partai mana pun dan partainya siapa pun, tapi sebaiknya tidak di Istana ya,” ungkap Muzani di Gedung DPR, Senayan, seperti dikutip dari reportase Viva.co.id.

Muzani menilai, pertemuan tersebut tidak akan menjadi masalah jika hanya membahas seputar program-program pemerintah. Sementara jika membicarakan soal pencalonan Jokowi, publik otomatis bisa berprasangka buruk.

“Sebaiknya di luar (Istana Negara) karena bisa menimbulkan sangka-sangka yang tidak baik,” tambahnya kemudian.

Lebih lanjut, menyoal sejumlah tokoh seperti Susilo Bambang Yudhoyono dan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang juga pernah bertemu Jokowi di Istana, Muzani menuturkan bahwa pertemuan itu membahas soal permasalahan negara.

Sementara itu, Ketua DPP PSI Tsamara Amani sempat membenarkan bahwa dalam pertemuan PSI dengan Jokowi ada penyampaian dukungan dalam Pilpres 2019.

“Dalam pertemuan 90 menit porsinya (bahas pilpres) cuma sedikit hanya di akhir,” ungkap Tsamara.

Sindiran Wasekjen PKB Daniel Johan

Wasekjen PKB Daniel Johan mengungkapkan bahwa langkah PSI tidak bijak dengan mengumbar pembicaraan politik praktis dengan presiden di Istana. Ia menilai, lebih baik urusan politik dibahas di lokasi lain dan bukan dalam jam kerja.

“PSI kemarin harusnya tidak membahas politik praktis di Istana,” ungkap Daniel kepada wartawan, Sabtu (03/03/2018), kutipan dari reportase Detik.com.

Daniel melanjutkan, langkah PSI justru merugikan posisi Jokowi. Ini terbukti dengan munculnya banyak kritik terkait hal tersebut, menurutnya.

“PKB juga akan minta tips sama presiden agar bisa menang pemilu nanti, sekaligus dukungan dan doanya,” imbuh Daniel seraya berkelakar.