Sering Belanja Miliaran Rupiah di Luar Negeri, Bagaimana Rekam Jejak Bayar Pajak Pengacara Novanto?


SURATKABAR.ID – Merespon pengakuan dari Fredrich Yunadi yang mengklaim sering berbelanja hingga miliaran Rupiah ketika berlibur ke luar negeri, Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menyatakan akan segera menelusuri rekam jejak pembayaran pajak kuasa hukum tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP, Setya Novanto, tersebut.

Melansir laporan Kompas.com, Rabu (29/11/2017), Ditjen Pajak menyatakannya melalui akun resmi Twitter mereka, @DitjenPajakRI, “Terima kasih untuk seluruh mention terkait video wawancara seorang pengacara. Unit kami yang berwenang akan menindaklanjuti informasi tersebut,” demikian dikicaukan pada Jumat (24/11/2017).

Secara terpisah, tim wartawan menghubungi Fredrich yang kemudian mengatakan bahwa sebagai warga negara yang baik, ia siap jika rekam jejak pembayaran pajaknya diperiksa.

“Silakan saja Ditjen Pajak telusuri, sebagai tugas dan tangung jawab mereka. Saya rakyat Indonesia yang patuh pajak dan tidak ada yang saya tutupi,” tutur Fredrich melalui pesan singkatnya, Selasa (28/11/2017).

Baca juga: KPK Blokir Rekening Setnov Sejak 2016, Pengacara Mengaku Tak Tahu Apa Alasannya

Ia mengaku, selama ini dirinya tak pernah ada masalah sehubungan kewajibannya membayar pajak. Ia juga tak pernah mendapatkan surat peringatan dari Ditjen Pajak soal pembayaran pajak.

“Tidak ada (masalah). Baik-baik saja kok,” jawabnya.

Seperti diketahui, pengakuan yang disampaikan Fredrich soal kebiasaannya yang royal  dalam sebuah acara bincang-bincang tersebut menuai banyak komentar dari netizen. Ada yang mengunggah potongan video rekaman wawancara tersebut kepada Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kemenkeu melalui akun Twitter @DitjenPajakRI.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku senang jika ada orang yang secara sukarela menyatakan kemampuan finansialnya di hadapan publik.

Ia menilai, pengakuan itu berguna dan turut membantu petugas pajak untuk memeriksa ketaatan yang bersangkutan sebagai wajib pajak (WP) di Indonesia.

Sebab, informasi seputar harta kekayaan seseorang dari publik merupakan bekal yang berguna bagi petugas pajak dalam melaksanakan pekerjaannya.

Kendati begitu, dalam menjalankan tugasnya, petugas pajak tetap menjunjung tinggi asas konfidensial dan tidak akan memberi tahu saat sedang memeriksa data keuangan seseorang.

Warisan Keluarga dan Sejumlah Usaha

“Saya suka mewah. Saya kalau ke luar negeri, sekali pergi itu minimum saya spend Rp 3 miliar, Rp 5 miliar. Sekarang tas Hermes yang harganya Rp 1 Miliar juga saya beli,” demikian pernyataan Fredrich yang menghebohkan, seperti ditayangkan dalam akun YouTube Najwa Shihab, Jumat (24/11/2017).

“Bagi saya, kalau mau lihat saya, saya seperti pengacara yang sangat top kan, Hotman Paris. Dia itu lebih dari saya, tapi saya enggak kalah dengan beliau,” lanjut Fredrich lagi.

Hal ini disampaikan Fredrich saat ditanya Najwa mengenai honor yang ia dapat sebagai pengacara.

Fredrich mengatakan, apabila menjadi pengacara suatu korporasi, maka tarifnya bisa sampai Rp 100 juta per bulan, seperti dilansir dari laman Kompas.com.

Baca juga: Jika Hotel dan Spa Alexis Buka Lagi, Anies: Kami Akan Serbu!

“Kalau ada 20 perusahaan (dalam sebulan) saya bisa hidup nikmat, nyaman,” tutur dia.

Meski begitu, Fredrich menegaskan bahwa kekayaannya saat ini tak hanya berasal dari honornya sebagai pengacara. Ia mengatakan itu semua salah satunya juga berasal dari warisan keluarga serta sejumlah usaha lain yang dimilikinya.