Pakai 1 Kilogram Emas dan Mengaku Bekerja Sebagai Kupu-Kupu Malam di Luar Negeri, Identitas Wanita Ini Bikin Heboh


SURATKABAR.ID – Seorang wanita asal Bugis mendapat julukan Hajjah Emas karena saking banyaknya emas yang dikenakan di tubuhnya.

Wanita bernama Hajjah Ondeng ini selalu mengenakan perhiasan emas kemanapun dia pergi. Penampilannya tak pernah lepas dari perhiasan emas miliknya.

Diketahui, perhiasan emas yang melekat di tubuhnya memiliki berat 1.150 gram atau lebih dari 1 kilogram. Mulai dari gelang, cincin, hingga kalung terlihat indah menghias penampilannya.

Setiap orang yang melihat penampilannya, tentu terheran-heran. Tak jarang, Hajjah Ondeng mendapat pertanyaan apa pekerjaannya hingga bisa membeli ribuan gram emas.

Baca juga: Pria Ini Punya Kemaluan Raksasa Sepanjang 1 Meter, Begini Komentarnya Setelah Dioperasi

Ketika ditanya begitu, Hajjah Ondeng selalu mengaku bahwa dirinya bekerja sebagai wanita penghibur alias kupu-kupu malam di luar negeri.

“Kalau ada orang tanyakan apa pekerjaanmu. Saya bilang saya pel*cur di luar negeri,” tuturnya seperti dalam video yang diunggah akun Facebook Andiani Andry, Kamis (26/10/2017) kemarin, dilansir tribunnews.com.

Meski mengaku bekerja sebagai kupu-kupu malam di luar negeri, Hajjah Ondeng sebenarnya merupakan istri pengusaha kayu yang terkenal di Sulawesi Tenggara.

Selain kerap ditanya soal pekerjaan, Hajjah Ondeng juga mengaku sering ditanya soal banyaknya emas yang digunakan di tubuhnya. Seperti sebelumnya, jawaban Hajjah Ondeng tak kalah unik.

“Kenapa saya simpan emas, kalau suamiku selingkuh saya tinggal bawa emasku,” katanya enteng, seraya melirik sang suami.

Meski memakai perhiasan emas berlebih, Hajjah Ondeng mengaku rutin mengeluarkan zakat emas yang dimilikinya.

Sementara itu, seorang netizen yang mengaku sebagai keturunan suku Bugis, menegaskan bahwa yang dilakukan Hajjah Ondeng bukanlah sebuah ajang pamer.

Baca juga: Peserta The Voice Lantunkan Shalawat, Agnez Mo Langsung Bereaksi Begini

Sebab, penggunaan emas oleh para perempuan di Suku Bugis telah berlangsung sejak lama. Banyaknya emas yang dikenakan pun tergantung tingkatan ekonomi.

Meski begitu, perhiasan-perhiasan mahal ini tak dipakai sehari-hari, melainkan saat ada acara atau kegiatan tertentu seperti hajatan.