Senjata Impor Harusnya Lewat Bandara Militer


SURATKABAR.ID Connie Rahakundini Bakrie pengamat pertahanan menyatakan, pengiriman senjata dan amunisi impor harus masuk melalui kargo bandara yang juga menjadi landas operasional pangkalan udara militer.

Di Jakarta contohnya adalah Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, di bandara tersebut pemakaian landas pacunya bersama dengan Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma.

Kemarin, dokumen dan foto-foto senjata personel yang diimpor dari Bulgaria beredar di media sosial. Dikabarkan pabrikan senjata itu, Arsenal dari Bulgaria, mengirimkan senjata personel mandiri Stand Alone Grenade Launcher kaliber 40 milimeter dan ribuan amunisinya.

Amunisinya diketahui juga kemudian adalah jenis pacar-wutah (fragmented), dengan prinsip kerja mirip dengan peluru senapan loop yang dibedakan untuk keperluan olahraga ataupun pasukan sipil, paramiliter, atau malah pasukan khusus.

“Yang setahu saya tidak boleh diizinkan kargo membawa senjata masuk bandara sipil,” kata dia, di Jakarta, dikutip Antaranews.com, Minggu (1/10/2017).

Baca Juga: Nama Importir Ribuan Senjata Ilegal Terbongkar, Begini Sindiran Tajam IPW Pada Polri

Hal ini membuat Conie mempertanyakan bagaimana bisa impor senjata dan amunisi memakai operator penerbangan kargo dari Ukraina itu bisa melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Conie pun menjelaskan dengan tegas dimana pesawat terbang biasa maupun pengangkut bahan berbahaya yang memasuki negara lain harus mengantongi ijin dari negara tujuan dan tidak dilakukan secara mendadak.

Pengamat pertahanan tersebut juga menambahkan pesawat terbang yang telah memiliki ijin masuk melalui udara dinyatakan legal, jika ijin itu diketahui lembaga otoritas terkait, di antaranya Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri dan Markas Besar TNI.

Terkait pengiriman senjata itu tertahan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dia menggarisbawahi pihak Badan Intelijen Strategis TNI yang belum menerbitkan rekomendasi.

Ia pun berpendapat seharusnya pihak ini bisa membatalkan sejak awal rencana pengiriman senjata dan amunisi ketika ditemukan persoalan prosedur.

Sementara itu ada hal lain yang menjadi pertanyaan besar, apakah Kementerian Perhubungan, Kementerian Luar Negeri, dan TNI menerbitkan ijin masuk dan apakah ada pos anggaran dari APBN tahun berjalan untuk mencairkan alias mengakuisisi impor senjata, yang saat ini dipermasalahkan.

Conie menambahkan, keberadaan senjata di kargo umum Bandara Internasional Soekarno-Hatta sangat rawan dan berbahaya secara politik maupun kelembagaan.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaSoal Gatot Nurmantyo, Eva Sundari: Pak Jokowi Kalem Tapi Tegas Juga
Berita berikutnyaTak Sengaja Tembakkan Rudal, 3 Prajurit Taiwan Dihukum Begini