Menelusuri Goli Otok, ‘Neraka Hidup’ Era Perang Dingin di Kroasia


SURATKABAR.IDBarron Island atau yang lebih dikenal dengan nama asli Slavia ”Goli Otok” merupakan sebuah pulau di lepas pantai Adriatik utara Kroasia. Berjarak dua mil hanya dari pantai Kroasia, Goli Otok pernah disebut sebagai “Neraka Hidup” oleh para tahanan yang pernah mendekam di sana. Benar, pulau ini lebih tepatnya merupakan tempat pembuangan dan penjara bagi tawanan perang dan pembangkang politik. Selama Perang Dunia I, Austria-Hungaria menggunakan pulau tersebut untuk menampung tentara Rusia.

Di tahun 1948, saat ketegangan Perang Dingin mulai meningkat, pemimpin Yugoslavia ketika itu, Josip Broz Tito—seorang revolusioner komunis—memutuskan hubungan dengan Uni Soviet. Dengan demikian, Goli Otok segera menjadi penjara politik dan kamp kerja paksa bagi orang-orang di Yugoslavia yang masih mendukung pemimpin Soviet—Joseph Stalin—atau yang menentang peraturan Tito.

Melansir laman Sains.Kompas.com, Jumat (8/9/2017), dokumen yang diterbitkan oleh Central Intelligence Agency (CIA) pada tahun 1970 memaparkan bahwa rezim Tito secara rutin menangkap para pembangkang politik dari tahun 1948 sampai 1955, yang mana periode tersebut adalah periode teraktif di penjara.

Di tahun 1956, diperkirakan lebih dari 15.000 orang yang telah dikirim ke pulau mungil tersebut. Sekitar 600 orang meninggal di sana, yang diantaranya diduga menjadi korban penyiksaan.

Baca juga: Merisaukan! Mentan Khawatir Ada Jutaan Orang Tinggalkan Pertanian Lantas ‘Lari’ ke ISIS

Laporan CIA secara terang-terangan menggambarkan pulau tersebut sebagai “Pulau Iblis” milik Tito dan menjadi penjara bagi pendukung Stalin.

Penjara ini akhirnya tidak beroperasi lagi sejak akhir 1980an, ketika Tirai Besi mulai runtuh di Eropa Timur. Pada waktu yang bersamaan, Tembok Berlin juga runtuh dan Uni Soviet berada di ambang kehancuran.

Sekarang, pulau tersebut hanya berisi reruntuhan. Sejak ditinggalkan, Goli Otok tetap berdiri sebagai pengingat rezim totaliter Tito yang mencekam. Vegetasi kecil tumbuh pada 1,5 mil persegi, dan seekor domba sesekali terlihat berkeliaran di pulau ini.

Dark Tourism

Satu-satunya alasan keberadaan manusia di pulau ini adalah kunjung para wisatawan yang ingin menjelajahi reruntuhan penjara—melakukan dark tourism. Dark tourism alias wisata hitam, atau wisata gelap, merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kunjungan orang-orang yang tertarik menelusuri berbagai tempat kejadian suatu bencana, medan perang, kecelakaan, pembantaian dan kematian tertentu guna mengenal sejarahnya dan mengalami pembelajaran introspektif dan spiritual—bukan magis—terkait suatu tempat yang menjadi saksi bisu dari peristiwa gelap tersebut.

Tercatat, Bob Thissen sebagai kreator film asal Belanda memiliki gairah tinggi untuk mendokumentasikan dan mengeksplorasi hal historis seperti yang ada di Goli Otok. Pada tahun 2016, Bob Thissen melakukan perjalanan dengan feri pribadi ke pulau itu dan memfilmkan reruntuhan bangunan kuno tersebut.

“Berjalan di antara reruntuhan sangatlah menyeramkan. Anda bisa melihat dinding yang tinggi, dengan sel-sel yang masih ada,” tutur Thissen dalam sebuah wawancara dengan National Geographic, mengutip reportase NationalGeographic.co.id.

Video-videonya menunjukkan bahwasanya kerangka baja bangunan abad pertengahan tersebut kini tinggal reruntuhan. Peralatan dan meja kerja masih teronggok di beberapa sudut, sehingga tersirat jelas seperti apa dan bagaimana kondisi para tahanan yang dipaksa bekerja saat itu.

Baca juga: Terlalu! Militer Myanmar Tanam Ranjau untuk Cegah Muslim Rohingya Kembali

Thissen berkemah di pulau tersebut selama semalam. Ia mengungkapkan bahwa kurangnya flora dan fauna di sekitar menjadikan suasana terasa mencekam dan sepi. “Untungnya tidak ada hantu”, imbuhnya sambil terbahak-bahak. Tertarik untuk menelusuri kekelaman reruntuhan penjara tersebut? Siakan klik tautan ini.