Tragis! Sudah Diusir Bangladesh dan Rumahnya Dibakar, Pengungsi Rohingya Pun Dibunuhi Penyakit

    Bagaimana Nasib Pengungsi Rohingya Setelah Permukiman Mereka Ludes Dibakar?


    SURATKABAR.ID – Para pengungsi tambahan dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar tak diterima di Bangladesh. Pemerintah Bangladesh tak bersedia menerima mereka. Seperti diketahui, sejak Senin (28/8/2017), ada 550 orang etnis Rohingya yang dikembalikan ke Myanmar atau diusir sebelum mereka mendarat di Bangladesh. Selama ini, Bangladesh selalu menjadi tujuan pertama etnis Rohingya ketika terjadi konflik di Rakhine. Namun, pemerintah setempat juga terkesan setengah hati membantu mereka.

    Disitir dari pemberitaan JPNN.com, Rabu (30/8/2017), pemerintah Bangladesh beralasan mereka kewalahan menampung para pengungsi Rohingya tersebut. Sejak konflik di Rakhine terjadi pada awal 1990-an, Bangladesh terhitung telah menerima 400 ribu pengungsi Rohingya.

    Walau pun Bangladesh enggan menerima, namun diperkirakan sejak situasi di Rakhine kembali memanas akhir pekan lalu, sudah sekitar 5 ribu orang pengungsi Rohingya yang berhasil masuk ke negara yang berbatasan langsung dengan Myanmar itu.

    Sekalipun demikian, kondisi mereka saat ini tak lebih baik dari di rumah sendiri. Karena tak diterima di kamp-kamp pengungsian, sebagian besar pengungsi Rohingya mendirikan tenda seadanya di area yang belum pernah dihuni sebelumnya.

    Baca juga: Lawan Militan Rohingya, Bangladesh Tawarkan Bantuan Operasi Militer Pada Myanmar

    Alih-alih mati tertembus peluru Myanmar, mereka kini satu per satu tewas lantaran sakit. Setidaknya, ada enam orang yang dikonfirmasi sakit hingga berujung kehilangan nyawa setelah sampai di Bangladesh.

    ”Ini disebabkan karena mereka terkatung-katung di perbatasan sebelum bisa masuk (Bangladesh). Mayoritas perempuan dan anak-anak,” ungkap salah seorang relawan yang tidak mau namanya disebutkan. Menurutnya, masih banyak pengungsi yang sakit. Dibutuhkan aksi cepat untuk mengatasinya.

    Sementara itu, Sekjen PBB Antonio Guterres sudah meminta Bangladesh menerima etnis Rohingya yang mencari suaka. Karena pasalnya, mayoritas pengungsi adalah perempuan dan anak-anak. Bahkan, sebagian dari mereka tengah terluka.

    Ia pun menyatakan bahwa PBB siap memberikan semua bantuan yang diperlukan untuk Bangladesh maupun Myanmar. Sayang, seruan itu tak terlalu digubris.

    Myanmar Saling Tuding dengan ARSA

    Rumah-rumah etnis Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar, pun kembali rata dengan tanah. Berdasarkan data satelit yang dirilis Human Rights Watch (HRW) dalam laporan Aljazeera.com, kemarin, Selasa (29/8/2017), terdapat sepuluh titik api di Rakhine.

    Bila dikalkulasi secara keseluruhan, panjang wilayah yang terbakar mencapai 100 kilometer. Itu lima kali lipat jika dibandingkan dengan pembakaran rumah etnis Rohingya yang terjadi pada Oktober–November tahun lalu. Saat itu, 1.500 rumah terbakar. Sehingga dengan demikian, bisa dibayangkan betapa masifnya pembakaran permukiman di Rakhine saat ini.

    Human Rights Watch (HRW) mengungkapkan, pembakaran dilakukan dua kali. Pembakaran pertama terjadi pada Jumat (25/8/2017) di Desa Zay Di Pyin dan Koe Tan Kauk, Rathedaung. Itu adalah saat Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) menyerang 30 pos polisi. Saat itu, titik api mulai muncul menjelang sore.

    Baca juga: Dipecat dari Jabatan Anggota Dewan Pengawas LKBN Antara, Begini Reaksi Boni Hargens

    Api kembali muncul pada Senin (28/8/2017) di 8 lokasi sejak pagi hingga sore. Gambar satelit itu sesuai dengan laporan media, saksi, dan pernyataan etnis Rohingya. Para aktivis dan penduduk di area terdampak tersebut menuding pasukan Myanmar yang membakar permukiman mereka. Namun, militer Myanmar menuding ARSA sebagai pelakunya.