Buya Syafii Beberkan Bahaya Arabisme Sesat di Depan Puluhan Uskup


SURATKABAR.ID– Di depan para uskup itu, Buya Syafii, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah  mengungkapkan pandangannya tentang penyebab Indonesia menjadi salah satu negara tempat tumbuh suburnya intoleransi, terorisme dan juga radikalisme.

Syafii menjadi salah satu pembicara dalam acara alam dialog lintas iman yang dihadiri uskup-uskup di kawasan Asia. Acara Asian Youth Day ke-7 itu berlangsung di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, (Kamis 3/8/2017)

Dilansir dari tempo.co pada Jumat (4/8/2017), Syafii mengungkapkan ada beberapa faktor yang melatarbelakangi tumbuhnya radikalisme itu. Salah satunya ketidakadilan sosial ekonomi yang terjadi di Indonesia juga korupsi yang masih marak.

“Hal itu ditambah parah akibat masuknya ideologi impor yang saya sebut misguided Arabism (Arabisme sesat),” ujar Syafii

Syafii menambahkan, Arabisme sesat itu berwujud  seperti gerakan Negara Islam di Irak Suriah (ISIS) dan juga Boko Haram di Afrika. Tetapi, terpengarunya muslim Indonesia dengan ideologi tersebut  karena meyakini bahwa arabisme adalah bagian dari Islam.

“Dan orang orang Arab dianggap lebih mengerti Islam dibandingkan bangsa kami, padahal itu tidak benar, ” ujar Syafii dengan tegas

Kepada para uskup itu, Syafii kembali menuturkan, bahwa Al Quran sebenarnya adalah kitab suci paling toleran di dunia. Asal dipahami dan ditafsirkan dengan benar. Pernyataan Buya itu mengacu pada Surat Yunus ayat 99 yang tak dimiliki oleh kitab suci apa pun.

Baca Juga:  Bagi Anggota HTI yang Ingin Bergabung dengan PKS, Ini Persyaratannya

Syafii juga mengatakan inti dari surat tersebut adalah “sekiranya Tuhanmu menghendaki, maka akan berimanlah seluruh penduduk bumi, apakah engkau Muhammad, ingin memaksa manusia agar beriman? Itu bukan tugasmu!’ ujar Syafii.

Selain Ketua Umum Pengurus pusat, Syafii Maarif adalah seorang ulama, ilmuwan dan pendidik Indonesia juga Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan juga dikenal sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi.