Mengejutkan! Survei Ini Buktikan Instagram adalah Medsos Terburuk bagi Kesehatan Mental


SURATKABAR.ID – Temuan mengejutkan datang dari survei terbaru yang diambil dari 1.500 responden remaja dan orang dewasa muda di Inggris. Instagram, aplikasi untuk berbagi foto, dianggap sebagai media sosial yang paling buruk bagi kesehatan mental dan jiwa. Diluar dugaan, meskipun platform medsos ini banyak disukai karena bisa digunakan untuk menampilkan ekspresi diri, namun Instagram juga berkaitan dengan tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, bullying, dan fomo (fobia ketinggalan berita di jejaring sosial).

Melansir liputan dalam laman National Geographic, Senin (17/7/2017), dari 5 media sosial yang dimasukkan dalam survei ini, YouTube mendapat nilai tertinggi untuk kesehatan dan kesejahteraan mental. Aplikasi berbagi video ini juga satu-satunya yang mendapat nilai positif dari para responden.

Sedangkan yang berada di urutan kedua adalah Twitter, diikuti oleh Facebook, kemudian Snapchat, dan terakhir Instagram.

Survei #StatusOfMinde yang dipublikasikan oleh United Kingdom’s Royal Society for Public Health ini melibatkan masukan dari 1.479 orang muda (usia 14-25) dari seluruh Inggris Raya.

Baca juga: Bocah SD Digampar Polisi Hingga Gigi Hampir Tanggal, Pengamat Hukum: Itu Tindakan Pidana Murni!  

Survei tersebut dilakukan pada Februari-Mei 2017. Para responden menjawab pertanyaan tentang perbedaan dari pengaruh sosial media pada 14 isu yang terkait dengan kesehatan fisik dan mental.

Tak dipungkiri ada beberapa manfaat dari jejaring sosial. Hampir semua media sosial itu mendapat nilai positif dalam hal menunjukkan ekspresi diri, identitas diri, membangun komunitas, dan juga dukungan emosional.

YouTube juga mendapat nilai tinggi untuk memberi kesadaran pada banyak orang mengenai pengalaman menyehatkan karena mampu menyediakan akses pada informasi kesehatan terpercaya. Selain itu, YouTube juga dianggap dapat menurunkan level depresi, kecemasan, dan kesepian.

Di lain pihak, ditemukan sisi negatif dari lima platform media sosial itu, terutama menurunnya kualitas tidur, bullying, citra tubuh, dan fomo. Namun tak seperti YouTube, keempat media sosial lainnya kerap dikaitkan dengan meningkatnya depresi dan kecemasan para penggunanya.

Sebabkan Berbagai Tekanan Psikologis

Penelitian sebelumnya menyebutkan, orang muda yang menghasikan waktunya lebih dari dua jam sehari untuk berselancar di media sosial cenderung mengalami tekanan psikologis—yang rata-rata disebabkan oleh kecemburuan sosial.

“Sering melihat teman atau orang yang selalu berpergian atau bersenang-senang, bisa membuat orang muda merasa ketinggalan karena orang lain seperti sedang menikmati hidup. Perasaan ini akan membuat mereka selalu membandingkan dan merana,” tulis hasil survei itu.

Media sosial juga bisa memberi harapan yang tidak realistik dan menciptakan perasaan ketidakcukupan serta kepercayaan diri rendah.

Hal itu bisa menjelaskan mengapa Instagram mendapat nilai terburuk dalam hal citra tubuh dan kecemasan.

Salah satu responden menulis, “Instagram dengan mudah membuat gadis dan wanita merasa tubuh mereka kurang ideal sehingga banyak orang mengedit fotonya agar mereka tampak sempurna.”

Semakin sering orang muda membuka media sosial, makin besar pula mereka merasa depresi dan cemas.

Usulkan Notifikasi Tertentu

Untuk mengurangi efek buruk media sosial pada orang muda, the Royal Society meminta pembuat media sosial untuk melakukan perubahan. Mereka merekomendasikan agar ada notifikasi jika penggunaan media sosial sudah terlalu lama. Sekitar 71 persen responden medukung ide tersebut.

Baca juga: Viral Video Mahasiswa Bully Rekan Berkebutuhan Khusus, Begini Reaksi Gunadarma

Bukan hanya itu, pencipta media sosial juga sebaiknya membuat cara untuk menunjukkan sebuah foto yang terlalu banyak manipulasi digital demi untuk menghindari dampak rasa insecurity yang diakibatkan oleh foto-foto yang tampak ‘terlalu sempurna’.