Pakai Rok Mini, Tarifnya Rp 50 Ribu, Mainnya di Semak-Semak


SURATKABAR.ID – Jalan tersebut nampak sepi ketika malam, tak seperti siang hari yang cukup padat. Akan tetapi, dibalik kesunyian itu ada banyak cerita mengenai para penjaja kenikmatan.

Jika siang, jalan yang tembus Kali Acai, Kelurahan Waimhorock, Distrik Abepura, Jayapura, Papua, ini sangat padat. Namun ketika malam, terutama pada pukul 23:00 hingga menjelang subuh, lokasi tersebut menjadi tempat nongkrong beberapa orang untuk menawarkan jasa pemuas nafsu.

Seperti dilansir jpnn.com, di lokasi tersebut banyak para waria yang duduk secara terpisah dan berkelompok. Mereka memanfaatkan bibir jalan untuk duduk, namun ada juga yang berdiri. Mereka yang berjumlah sekitar 10 orang tersebut saling becakap dengan gaya bicara yang cukup khas.

Baca Juga: Pria Ini Sudah Beberapa Kali ‘Begituan’, Tapi Tak Tahu Jika Pacarnya Waria

Dengan dandanan yang cukup menor. Mengenakan rok mini, mekap yang tebal serta mengenakan wig warna warni. Terlihat ada yang mengenakan rambut palsu berwarna merah, kuning keemasan, coklat dan lainnya.

Ketika ditemui oleh wartawan, mereka mencerikan aktifitas mereka sekaligus mencurahkan keluh kesahnya selama menjalani profesi tersebut.

Aleksa, waria berusia 24 tahun mengaku telah lima tahun mangkal di lokasi tersebut untuk mencari pelanggan. Ia tak pernah pidah dari Kali Acai.

Ia mengaku menjalani pekerjaan tersebut karena faktor lingkungan dan juga ekonomi.

“Sebenarnya ini beban untuk Eike, karena kurang tidur, malam melayani tamu. Tamu Eeike kebanyakan usianya hampir memasuki usia senja,” jelasnya Aleksa

Aleksa menjelaskan jika selama ini dia memasang tarif Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung tingkat kepuasan pelanggan. Ia melayani tamunya di semak-semak disekitar tempatnya mangkal.

Berdasarkan pengakuannya, pelangganya usianya beragam. Ada yang masih berusia belasan hingga ada yang telah renta.

Baca Juga: Parah! Sepasang Kekasih Ini ‘Anunya’ Tak Bisa Lepas Saat Indehoi di Hotel

Ia kemudian menceritakan pengalaman pait selama menjalani pekerjaan haram itu. Tak jarang ia mengalami kekerasan dari pelanggannya yang merasa tak puas dengan pelayannya.

“Kadang saya dipukul ketika mereka tak puas, wajah saya dikencingi, mereka tak membayar setelah saya layani, terkadang Hp saya dicuri. Biasanya mereka yang sudah mabuk seperti itu, kalau yang masih dalam kondisi normal mereka baik-baik saja,” curhatnya.

Selain melayani tamu saat malam, Aleksa menjelaskan jika dirinya juga bekerja di salon ketika siang.

Ia bercita-cita di kemudian hari tabungannya cukup untuk membuka salon sendiri. Aleksa menyatakan ingin berhenti dari pekerjaannya tersebut.

“Siapa sih yang mau hidup seperti ini, tidak enak rasanya. Saya selalu dipandang sebelah mata. Ini hanya untuk bertahan hidup, makan sehari-hari dan bisa membayar kos, setidaknya saya tidak menganggu siapa pun,” tuturnya.

Tak jauh beda dengan rekan Aleksa yang lain, Nurmala. Waria berusia 30 tahun tersebut juga mengatakan jika tarifnya sekali main Rp 50 ribu.

Waria yang telah tujuh tahun mangkal tersebut mengatakan jika pelangganya banyak yang dari kalangan muda.

“Namanya juga pekerjaan, tapi saya selalu berusaha memuaskan pelanggan saya sehingga mereka terus datang dan mencari saya ketika membutuhkan,” tandasnya.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaNovel Baswedan Disiram Air Keras, Panglima TNI Akan Berikan Ini Kepada Penyidik KPK
Berita berikutnyaWow Tidak Disangka! Legenda Penerbangan Dunia Ini Ternyata Kelahiran Blitar Jawa Timur