Penembakan Tuban Dikritik, Kepala BNPT: Kalau Nggak Ditembak, Anggota yang Mati


SURATKABAR.ID – Enam terduga teroris ditembak mati petugas Polisi dalam perburuan teroris di Siwalan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu (8/4/2017). Satu diantara terduga teroris telah diamankan pihak Kepolisian setelah mereka melarikan diri dan meninggalkan kendaraannya di jalanan. Terkait penembakan, aparat lantas menjelaskan sebabnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius, menjawab kritikan sehubungan penembakan enam terduga terorisme di Tuban, Jawa Timur yang melanggar Hak Asasi Manusia.

Dikatakan Suhardi, penembakan enam terduga teroris tersebut dikarenakan posisi aparat kepolisian saat itu sudah terpojok, sehingga menembak mati keenam orang tersebut merupakan satu-satunya pilihan, demikian sebagaimana direportasekan dalam Tribun, Senin (10/4/2017).

“Anggota juga dalam posisi terancam jiwanya. Kalau nggak ditembak, anggota yang mati. Kan begitu,” tandas Suhardi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (10/4/2017).

Baca juga: Politisi PKS Mendadak Diamankan Densus 88, Ada Apa?

Suhardi menambahkan, dari laporan yang ia terima bahwa saat itu tidak ada isyarat menyerah dari keenam orang terduga teroris itu.

“Kalau mereka bersenjata, ada nggak opsi untuk menyerah? Kan susah juga,” lanjut Suhardi.

Suhardi juga meminta agar persoalan ini dipandang secara obyektif. Tidak setiap kondisi akan sama ketika aparat kepolisian melakukan penindakan terhadap terduga terorisme.

“Kecuali seperti di Banten. Dari delapan cuma satu [yang tewas]. Gitu ya. Mari kita obyektif dalam melihat itu semuanya,” tegas Suhardi.

Sebelumnya, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) merespons peristiwa polisi menembak mati enam orang terduga teroris di Tuban, Jawa Timur.

Judicial Killing

Komisioner Komnas HAM Maneger Nasution menyayangkan peristiwa itu.

“Kebijakan pemerintah lewat penegak hukum dalam penanggulangan terorisme di Indonesia sudah menyimpang,” papar dia melalui pesan singkat, pada Minggu (9/4/2017).

“Densus 88 Polri cenderung menerapkan konsep strategi ‘perang’ dengan cara pembunuhan dan pembantaian terhadap terduga teroris, bukan preventif,” tambah dia.

Baca juga: Google: Kami Akan Buat Alat-Alat Baru untuk Atasi Teroris Online

Menurut Maneger, insiden penembakan itu mencerminkan bahwa Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri sudah melakukan praktik judicial killing (pembunuhan di luar proses peradilan).

“Penembakan enam orang terduga teroris di Tuban, Jawa Timur oleh Densus 88 diduga tidak berbasis HAM, bertentangan dengan prinsip HAM,” ungkap Maneger.