Djarot: Jihad Itu Bukan B***h-Bunuhan


SURATKABAR.ID – Djarot Saiful Hidayat sebagai Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut dua mencium gelagat sejumlah pihak yang mengibaratkan Pilkada DKI Jakarta seperti sebuah jihad. Segala cara dilakukan untuk mengalahkan lawan serta memenangkan calon yang didukung, sampai ada keluar kata b***h-bunuhan segala.

Dikatakan Djarot, Jihad zaman sekarang seharusnya diartikan untuk melawan kemiskinan dan kebodohan. Bukan untuk menjatuhkan orang lain apalagi sampai mengeluarkan perkataan b***h-membunuh.

“Kalau mau jihad fisabilillah untuk melawan kemiskinan, melawan kebodohan, membantu saudara kita yang lemah, membantu rumah rumah yang tidak layak huni. Jihad itu bukan b***h-bunuhan, itu dulu zaman perang, sekarang bukan zaman perang,” beber Djarot di kawasan Condet, Jakarta Timur, Minggu (2/4/2017), sebagaimana diterbitkan dalam Merdeka.com.

Djarot menyampaikan, serangan terhadap dia dan pasangannya Basuki Tjahaja Purnama begitu deras selama Pilkada DKI Jakarta berlangsung. Djarot pernah diusir saat menghadiri Haul Soeharto di Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu (11/3/2017) malam. Namun, Djarot mengaku saat itu dirinya tak marah sedikitpun.

Baca juga: Djarot Bicara Soal Jihad Fisabilillah, Begini Katanya

Djarot melanjutkan, setiap hal yang dilakukan oleh manusia selalu dicatat oleh Allah SWT. Dia juga menambahkan, setiap manusia diminta untuk bersikap sabar dalam setiap keadaan.

“Sabar, makanya ketika saya diadang-adang itu saya senyum, nggak apa-apa, sabar, sabar,” tutup Djarot.

Akan Mengumrohkan 200 Orang

Pada kesempatan sebelumnya, Djarot mengatakan, DKI Jakarta adalah ibu kota negara yang harus membumikan Islam Rahmatan Lil Alamiin. Islam yang toleran dan bukan Islam yang menebar kebencian.

Untuk tujuan inilah, maka berbagai kegiatan pengajian menyambung ukhuwah Islamiah ini diselenggarakan di sejumlah kawasan ibukota.

Baca juga: Terungkap! Inilah Alasan Djarot Mengenakan Kopiah Pada Pilkada Putaran Kedua

Sebagai bagian dalam membumikan Islam yang toleran, Djarot bersama Basuki Tjahaja Purnama membuat program untuk memberikan perhatian penuh kepada imam masjid, takmir masjid, marbot masjid, guru ngaji, ustaz dan habib untuk diumrohkan.

“Tahun ini 200 [orang peserta] akan diumrohkan dan tidak memakai dana APBD. Syaratnya adalah tekun mengajarkan Islam yang rahmatan lil alamiin yang sejuk, penuh perdamaian dan aktif membangun ikhuwah Islamiah,” pungkas Djarot.