Setelah Dituding Penggelapan, Sandiaga Uno Kembali Dilaporkan Karena Ini


SURATKABAR.ID – Sandiaga Uno yang merupakan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta kembali dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait kasus dugaan pemalsuan kwitansi. Dengan rekan bisnisnya, Andreas Tjahyadi, mereka dilaporkan oleh Fransiska Kumalawati Susilo yang diberi kuasa oleh Djoni Hidayat.

Dilansir dari Tribun, Fransiska melaporkan Sandiaga dengan laporan dengan nomor LP/1427/III/2017/PMJ/Dit.Reskrimum pada Selasa (21/3/2017), perkaranya pemalsuan. Ini merupakan kali kedua Fransiska melaporkan Sandiaga dan Andreas.

Berhubungan dengan laporan sebelumnya, laporan ini menyangkut penjualan aset tanah di Jalan Curug Raya KM 3.5, Tanggerang Selatan.

“Terkait dengan laporan pertama. Jadi kita menemukan dari notaris bahwa ada tanda terima pembayaran yang palsu,” demikian penjelasan Fransiska saat dihubungi wartawan, Rabu (22/3/2017).

Baca juga: Sandiaga Uno Dilaporkan Polisi Terkait Kasus Penggelapan

Fransiska menerangkan, terdapat kwitansi tanda penerimaan uang yang ditandatangani Djoni Hidayat.

“Yang mana Pak Djoni Hidayat tidak merasa pernah menerima uang tersebut dan menandatangani kwitansi sebagai tanda terimanya,” sambung Fransiska.

Sebelumnya, Fransiska juga telah melaporkan Sandiaga dengan kasus dugaan penggelapan.

Dalam surat laporan polisi bernomor LP/1151/III/2017/PMJ/Dit.Reskrimum, Djoni menuduhkan pelapor dengan dugaan pelanggaran Pasal 372 KUHP tentang penggelapan dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara.

Kasus ini berawal saat Sandiaga dan Andreas Tjahyadi berencana menjual aset tanah PT Japirex seluas sekitar 6 ribu meter persegi yang berlokasi di jalan Curug Raya KM 3.5 Tangerang Selatan.

Di belakang tanah aset PT Japirex itu terdapat tanah seluas 3 ribu meter persegi milik Djoni Hidayat. Diketahui Djoni Hidayat juga tercatat sebagai manajemen di PT Japirex.

Tanah 3 ribu meter milik Djoni itu ialah tanah titipan dari mendiang Happy Soeryadjaya yang tak lain adalah istri pertama dari konglomerat Edward Soeryadjaya.

Sandiaga dan Andreas mengajak Djoni untuk ikut menjual tanahnya dengan iming-iming akan ada keuntungan dengan penjualan itu. Akhirnya lahan seluas 9 ribu meter persegi itu terjual seharga Rp 12 miliar pada tahun 2012 lalu.

Tapi tak sesuai janji, Djoni hanya menerima Rp 1 miliar hingga pihaknya membuat laporan ke Polda Metro Jaya.

Baca juga: Diperiksa Polsek Tanah Abang untuk Kasus Ini, Sandiaga Uno Tetap Tenang

Pihak mendiang Happy Soeryadjaya mengaku tak pernah menerima pembagian uang hasil penjualan tanah tersebut.

Diketahui, Djoni yang diwakili oleh Fransiska Kumalawati Susilo melaporkan Sandiaga dan Andreas Tjahyadi pada 8 Maret 2017 lalu.