Kapal Earthrace 2 Siap Jalankan Misi Melawan Penagkapan Ikan Ilegal di Laut Lepas


Kapal Earthrace 2 yang disiapkan untuk membantu memberantas penangkapan ikan secara ilegal di lautan lepas

SURATKABAR.ID – Earthrace telah beroperasi mengelilingi bumi pada tahun 2006 untuk menjalankan misi pencurian ikan. Sejak kapal Earthrace ini diluncurkan pertama kali tahun 2006, telah mendapatkan penghargaan dunia sebelum akhirnya rusak karena ditabrak dengan sengaja oleh kapal pemburu ikan paus milik Jepang. Tim mencoba menciptakan trimaran baru menurut panduan hukum untuk misi laut lepas.

Seperti dilansir newatlas.com, Earthrace 2 yang tetap becermin pada Earthrace asli akan menggunakan bahan bakar dapat diperbarui. Ketika menyaksikan kapal ini pada siang hari akan menjadi kapal berbasis operasi bagi tim dengan misi melawan kejahatan alam liar di seluruh dunia.

Kapal ini juga dapat menampung 26 penumpang dan memiliki perahu lebih besar dari yang sebelumnya sehingga dapat bertahan sampai 28 hari dengan rentang perjalanan laut sejaun 18.520 kilometer pada kecepatan 22 km/jam.

Jika sedang dalam mode pengejaran, kapal mampu melaju hingga kecepatan sekitar 46 km/jam. Sebagai alternatifnya, 9 meter perahu Sealegs Amphibious dan kapal kecil Zodiac akan disembunyikan di lambung kapal, siap digunakan sewaktu-waktu jika tim membutuhkan perahu tambahan saat sedang menjalankan misi.

“Kami telah berkelana ke sejumlah negara, sekarang saatnya berfokus pada pencurian ikan yang dilakukan oleh kapal asing. Namun kami telah membatasi penerjunan langsung di lautan lepas karena kekurangan perahu untuk lintasan panjang”, kata kapten Pete Bethune.

Dengan demikian Earthrace 2 ini digunakan untuk berpatroli di lautan biru dan sebagian besar membantu kapal lokal untuk menangkap nelayan liar.

Tim kapal earthrace saat ini menjalankan kampanye awal untuk memperoleh Rp670 juta demi melanjutkan desain trimaran baru yang sedang dalam tahap penyelesaian. Menuju empat hari sebelum penggalangan dana ditutup, sumbangan telah terkumpul bahkan melebihi target sekitar berlebih Rp40 juta.

Proyek pembangunan ini telah dijalankan pada Januari lalu dan setelah proyek rampung akan digunakan untuk menjalankan misi konservasi selama setahun 8 bulan.