Didemo Agar Mundur, Bupati Katingan Malah Bicara Begini


    katingan-bupati

    SURATKABAR.ID – Bupati Katingan Ahmad Yantenglie mendapat banyak tekanan dari masyarakat untuk mengundurkan diri. Hal tersebut terkait dengan kasus yang sedang menimpanya belakangan ini, di mana dirinya ketangkap basah sedang berduan dengan istri sorang polisi di sebuah rumah kontrakan.

    Seperti yang diwartakan oleh jpnn.com, masyarakat yang menginginkan Yantenglie lengser dari jabatannya melakukan unjuk rasa di depan gerbang kantor DPRD Katingan, Senin (9/1/2017) sekitar pukul 10.00 WIB.

    Puluhan orang yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Katingan Bersatu (AMKB) menyerukan agar Yantenglie dicopot dari jabatannya.

    Meski demikian, Bupati Katingan menanggapi demontrasi tersebut secara biasa. Secara diplomatis ia mengatakan jika ujuk rasa adalah hal wajar dalam dunia demokrasi.

    “Itu (demo) hal lumrah saja. Dalam dunia demokrasi kan setiap orang boleh menyampaikan pendapat. Pendapatnya begini dan pendapatnya begitu, wajar saja. Bagi kita tidak menjadi masalah,” sebutnya, Senin (9/1/2017), dikutip dari jpnn.com.

    Ia meminta semua pihak memahami masalah yang sebenarnya. “Orang boleh menuduh siapapun, boleh. Tapi duduk masalahnya seperti apa? Inikan kita lihat saja nanti,” jelasnya.

    Mengenai tuntutan untuk mundur, ia mempertanyakan dasarnya serta mempertimbangkan dampak politiknya.

    “Bagi saya secara pribadi urusan mundur atau maju itu adalah hal yang gampang dan lumrah saja. Tapi yang jelas kita lihat saja nanti seperti apa,” terangnya.

    Bahkan ketika misalnya ada desakan dari DPRD Kabupaten Katingan, Gubernur Kalteng, hingga Kemendagri agar dirinya mundur, ia mempertanyakan mengenai landasan yang membuat dirinya harus lengser dari jabatannya.

    “Dasar meminta (Mundur) itu apa? Kan harus jelas dulu. Kita hargai masing-masing lembaga punya kewenangan dan fungsi. Harus ada kejelasan faktualnya seperti apa? Apakah bisa melakukan pemutusan tanpa ada kejelasannya seperti apa? Sebab setiap keputusan harus berdasarkan fakta, kan begitu,” tegasnya.

    Sementara itu, para demonstran dengan berbagai macam poster menyuarakan apresianya. Diantara poster yang dibawa oleh pengunjuk rasa berbunyi ‘Masyarakat Kabupaten Katingan Menolak Dipimpin Bupati Zina-Cabul’. Ada juga berbunyi ‘Copot dan Berhentikan Bupati Katingan dari Jabatannya’.

    “Kami meminta DPRD Katingan melakukan pemberhentian atau pemakzulan terhadap Ahmad Yantenglie sebagai Bupati Katingan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku dan Kapolda Kalteng tetap memproses kasus yang dilakukan Ahmad Yantenglie dengan Farida Yeni,” ujar koordinator aksi damai Menteng Asmin.

    Sementara itu, Ketua DPRD Katingan Ignatius Mantir L Nussa menyatakan akan menghimpun aspirasi tersebut dan akan dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan kedepannya.

    “Kami saat ini sedang rapat. Rapat terpaksa kami skors menemui para warga yang sedang melakukan aksi,” ujar Mantir.

    Meski demikian, Mantir mengaku jika pihaknya belum menerima surat penetapan tersangka dari Polda Kalteng dan bukti pernikahan Ahmad Yantenglie dan Farida Yeni.

    “Kami belum mendapat data dari Polda Kalteng. Dia (Yantenglie, Red) ditetapkan menjadi tersangka kami belum dapat suratnya. Dia dikatakan sudah menikah siri, tapi kami belum pegang surat fotokopinya. Kami harus mempunyai surat-surat itu, karena itu merupakan lampiran digunakan menyampaikan ke Mahkamah Agung (MA) nantinya kalau memang sepakat harus dilengserkan,” ucap Mantir.