Terkuaknya Fakta Mencengangkan Tentang Candi Borobudur


borobudurSURATKABAR.ID Temuan baru oleh arkeolog tentang sebuah peradaban memang selalu menarik diperbincangkan. Begitu pun dengan temuan ilmiah tentang jejak peradaban kuno yang sangat dibanggakan oleh bangsa Indonesia, Candi Borobudur.

Sekilas tentang asal usul, Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang berada di Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Letaknya berada sekitar 15 km arah selatan kota Magelang. Candi ini berada di dataran berbukit yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh gunung. Adapun gunung yang mengelilingi candi ini antara lain Gunung Merbabu (sebelah timur), Gunung Merapi (sebelah Barat laut), Gunung Sumbing (sebelah Selatan) dan Gunung Sindoro (sebelah Utara).

Tak banyak yang tahu bagaimana asal usul sebenarnya mengenai Candi Borobudur yang hingga saat ini bangunannya bisa dilihat dengan jelas oleh semua orang. Candi yang begitu megah itu berdiri kokoh tanpa ada satu paku pun juga tertancap di dalam bangunan. Meskipun demikian, Candi Borobudur tetap kokoh bangunan termasuk fondasinya.

Peneliti Indonesia dari Bandung Fe Institut menjelaskan, Candi Borobudur dibangun dengan geometri fraktal. Pendirian megastruktur kuno tersebut adalah dengan menyusun batuan menggunakan pola pengulangan tertentu. Ternyata kesan rumit Candi Borobudur mengacu dari konsep sederhana. Berbeda dengan membangun konstruksi seperti zaman sekarang yang diduga tanpa gambar sketsa. Sehingga bangunan Candi Borobudur tetap awet dan kokoh meskipun pada tahun 2006 sempat diguncang gempa yang melanda kota Jogjakarta.

Adapun beberapa temuan lain di Candi Borobudur yaitu Danau purba. Di kawasan Candi Borobudur ditemukan danau purba yang memiliki lebar sekitar 8 kilometer. Dan diperkirakan usianya mencapai 10 ribu tahun atau Kala Plistosen Akhir.

Danau itu hilang akibat proses alamiah dan non-alamiah karena mengalami proses pendangkalan. Dapat diamati dari material penutup endapan danau yang merupakan hasil dari aktivitas vulkanik, tektonik, gerakan masa tanah dan batuan, serta aktivitas manusia.

Bahkan jejak lingkungan danau juga dapat ditelusuri dari relief candi dan troponin yang menunjukkan adanya lingkungan danau.

Dosen Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta, Helmy Murwanto menjelaskan,  keberadaan danau purba di sekitar candi Borobudur dapat diteliti melalui singkapan endapan danau berupa lempung hitam yang tertutup.

Endapan danau yang tertutup ini diakibatkan oleh proses geomorfologi. Penyebaran endapan lempung hitam cukup luas itu ditemukan di lembah sungai pacet yang berada di kaki Bukit Tidar, Mertoyudan, yang diduga sebagai bagian utara danau, hingga mencapai lembah sungai Sileng kaki pegunungan Menoreh sisi selatan danau.

“Kedua singkapan itu mempunyai jarak sekitar 8 kilometer,” kata Helmy dalam ujian promosi doktor di Fakultas Geografi UGM 9 April 2015. Dikutip dari dream.co.id

Menurut Helmy, dari hasil penelitiannya mengungkapkan material penutup endapan danau berasal dari material vulkanik dan sedimen dari pegunungan Menoreh.

Hasil interprestasi citra satelit menunjukkan, beberapa tempat merupakan lembah yang menyerupai alur sungai. Lembah tersebut sangat subur sehingga dimanfaatkan masyarakat untuk bercocok tanam dan lahan pertanian. Lembah ini terdapat di sekitar desa Bumisegoro, Pasuruhan, Saitan dan Deyangan.

Helmy menambahkan, Pendangkalan danau menjadi dataran lakustrin tidak berlangsung dalam satu waktu, namun berkali-kali. Selain itu, perubahan pola aliran sungai yang mengalir ke danau purba Borobudur juga terbentuk akibat proses pendangkalan dan pengeringan danau.

Adanya jalan penghubung yang lurus antara Candi Mendut, Pawon dan Borobudur kemungkinan terbentuk setelah danau mengalami pengeringan sedikit demi sedikit.

“Aktivitas manusia di sekitar candi Borobudur dipengaruhi oleh keberadaan danau. Hal ini terefleksikan dalam relief Candi Borobudur dan troponin di sekitar candi Borobudur,” ucapnya.

Dari hasil pemetaan spasiotemporal, danau ini dibagi menjadi tiga periode yakni Kala Plistosen Akhir, Kala Holosen dan Kala Resen. Pembagian waktu ini didasarkan pada hasil uji umur batuan.

Pada masing-masing Kala tersebut mempunyai luasan danau yang sangat berbeda-beda. Kala Plistosen Akhir atau di atas 10 ribu tahun yang lalu.

“Danau ini sangat luas dan saat itu masih belum terdapat peradaban dan bahkan Candi Borobudur saja belum dibangun,” katanya.