Rakyat Kaget, Agus Meroket


agus-harimurti

Agus Harimurti Yudhoyono masuk panggung politik dan harus mengakhiri karier militernya yang konon sedang gemilang. Tentu saja, munculnya putra mahkota Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut mengejutkan banyak pihak, karena sebelumnya tidak termasuk tokoh yang punya peluang besar untuk bisa melawan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Agus yang berpasangan dengan Sylviana Murni menyingkirkan nama-nama yang sebelumnya sudah digadang-gadang akan masuk dalam pertarungan memperebutkan kursi gubernur DKI Jakarta. Tokoh yang harus terpental dalam percaturan politik Ibu Kota antara lain Yusril Izha Mahendra, Tri Rismaharini, Rizal Ramli dan beberapa yang lainya.

Saat Poros Cikeas yang terdiri dari Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Amanat Nasional (PAN) menetapkan Agus sebagai jagoannya dalam pilgub Jakarta 2017 mendatang, banyak yang menilai sosok ini tidak bisa berbuat banyak untuk mengalahkan Ahok yang sejak awal memiliki popularitas yang cukup tinggi.

Akan tetapi, sehari setelah penetapan Agus-Sylvi, pergolakan dimulai. Nama Agus banyak menghiasi pemberitaan media masa dan menjadi bahan perbincangan publik, terutama di media sosial.

Agus dianggap tidak cukup populer pada awalnya, informasi tentang dirinya tidak begitu banyak tersaji. Dia selama ini dikenal “hanya” sebagai anak SBY dan suami dari mantan artis Anisa Pohan, selebihnya tidak banyak yang mengetahuinya.

Namun ternyata dititik tersebut sisi keuntungannya. Masyarakat akhirnya lapar informasi mengenai anak muda ini dan kemudian mencoba untuk mencarinya. Pengorbanan dirinya untuk mengakhiri karier militernya menjadi bumbu penyedap yang lantas memberikan efek luar biasa pada masyarakat kita yang kadang menyukai drama-drama seperti ini.

Di berbagai media, kabar mengenai Agus menjadi berita terpopuler. Segala macam mengenai Agus, mulai dengan perjalanan kariernya, hubungan keluarganya hingga soal kisah asmara dengan istrinya mendominasi pemberitaan di banyak media.

Agus juga tidak banyak memiliki catatan buruk, hingga akhirnya yang dominan muncul dipemberitaan adalah hal-hal positif mengenai putra sulung Ani Yudhonono tersebut. Faktor fisik dan wajah yang enak dilihat juga menjadi poin tambahan yang meningkatkan ketertarikan masyarakat mengenai pemuda ini.

Hal inilah yang kemungkinan besar membuat pupularitas Agus bisa meroket dalam waktu singkat, bahkan dalam beberapa survey menyebutkan jika pasangan Agus-Sylvi mampu mengungguli Ahok-Djarot.

Survey yang dilakukan oleh suratkabar.id yang dilakukan pada tanggal 23-29 September 2016 menghasilkan sesuatu yang cukup mengejutkan, dimana Agus-Sylvi mendapatkan 41 persen suara. Sementara Ahok-Djarot berada di posisi ke dua dengan perolehan suara 32,1 persen. Sedangkan yang berada pada posisi buncit adalah Anies-Sandi dengan 26,9 persen.

Survey tersebut dilakukan kepada para netizen yang memiliki ketertarikan kepada informasi mengenai Pilkada DKI Jakarta. Jumlah warga internet yang mengikuti polling tersebut adalah sebanyak 4.305 orang.

screen-shot-2016-09-30-at-8-32-25-am

Hasil seperti itu juga ditunjukan oleh beberapa survey yang lainnya, seperti yang dilakukan oleh Partai Golkar. Akun twitter Partai Golkar @Golkar5 sempat juga mengadakan survey. Hasilnya juga demikian, Agus-Sylvi berada diposisi puncak, meninggalkan dua pasangan lainnya.

Meski demikian, hal tersebut tidak bisa menjadi gambaran mutlak mengenai suara real di lapangan nantinya, mengingat polling-polling yang ada di media internet saat ini sifatnya terbuka. Artinya mereka yang ikut voting sangat besar kemungkinan berasal dari orang luar Jakarta yang tidak memiliki hak pilih nantinya.

Survey semacam itu hanya menjadi gambaran mengenai penerimaan masyarakat Indonesia secara keseluruhan mengenai seseorang tokoh. Meski Pilkada Jakarta ini sifatnya lokal, namun pergerakan politiknya sifatnya sudah nasional dan diikuti oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Bahkan Pilkada DKI dianggap sebagai barometer kontelasai politik nasional. Tentu kita masih ingat, Joko Widodo bisa menjadi Presiden Indonesia setelah “dikenalkan” ke rakyat Indonesia melalui Pilkada DKI Jakarta 2012 silam, bukan?