Terungkap! Ternyata Aidit Punya Peran dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia


aiditHanya sedikit orang yang mengetahui bahwa orang pertama yang mengajukan Ir. Soekarno sebagai Presiden RI pertama adalah Dipa Nusantara (DN) Aidit. Hal ini terbukti dalam buku Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945.

Buku karya seorang pemuda yang ikut dalam persiapan proklamasi kemerdekaan RI dan gerakan bawah tanah melawan pendudukan Jepang, Sidik Kertapati, sajian yang terkandung dalam buku tersebut adalah dokumen yang sangat penting tentang gerakan perlawanan bawah tanah.

“Pada umumnya, uraian Sidik mengenai gerakan bawah tanah itu adalah paling lengkap dan memuaskan di antara buku-buku yang berbahasa Indonesia,” kata Ben Andeson, seperti dikutip dalam bukunya Revoloesi Pemoeda, halaman 70 yang dikutip dari sindonews.com.

Lanjut Sidik, ketika mengetahui Jepang kalah, DN Aidit bersama para pemuda revolusioner saat itu menggalang kesatuan untuk menjadi sebuah aksi berbentuk kelompok-kelompok revolusioner yang ada di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Kemudian pada 15 Agustus 1945 sore, Aidit bertemu beberapa kawannya di asrama Badan Perwakilan Pelajar Indonesia (Baperpi) di Cikini 71, Jakarta Pusat. Di sana, Aidit menghubungi Wikana untuk mengikuti rapat tertutup di Institut Bakteriologi Pagangsaan, kebun jarak.

Rapat tertutup itu berlangsung pukul 19.00 Wib yang dihadiri oleh perwakilan pemuda dari berbagai kelompok antara lain Chairul Saleh, Wikana, Aidit, Djohar Nur, Pardjono, dan lainnya.

“Dalam pertemuan itu, Aidit mengajukan usul yang berpandangan jauh, yaitu agar Bung Karno ditetapkan sebagai Presiden Indonesia yang pertama,” kata Sidik, dikutip dari buku Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, halaman 77.

Kemudian, hasil rapat tertutup itu disampaikan oleh Wikana, Aidit, Subadio, dan Suroto Kunto. Mereka pergi ke rumah Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur 56 hingga pukul 21.00 WIB.

Setiba di rumah Bung Karno, Wikana sebagai juru bicara mendesak Bung Karno supaya proklamasi kemerdekaan Indonesia segera di laksanakan pada 16 Agustus 1945. Lantas Bung Karno menjawab, keputusan itu harus melibatkan pertimbangan dengan tokoh lain.

Ditengah perbincangan dengan Bung Karno berlangsung, datang bersama sejumlah tokoh tua lainnya seperti Bung Hatta, Mr Subardjo, Mr. Iwa Kusumasumanti, Djojopranoto, Mbah Diro, Dr Samsi, Dr Buntaran, dan beberapa tokoh lainnya

Bung Hatta yang mengetahui Soekarno sedang didesak oleh para pemuda terkait proklamasi kemerdekaan. Bung Hatta mengatakan, Keduanya (Bung Karno dan Bung Hatta) tidak bisa dipaksa untuk melakukan proklamasi mengikuti pemuda yang kepala dan hatinya sedang panas.

Setelah mendengar penyampaian Hatta yang dirasa mengecewakan, para pemuda itu akhirnya kembali ke titik kumpul mereka di Cikini 71. Di sana, telah hadir Chairul Saleh dan teman-temannya sedang menunggu dan rapat evaluasi pun dimulai.

Rapat evaluasi itu menghasilkan, para pemuda tetap menginginkan proklamasi kemerdekaan harus segera dilakukan dan tidak bersedia mengikuti pendapat Bung Karno dan Bung Hatta untuk menunggu janji kemerdekaan dari Jepang.

Adam Malik menjelaskan dalam bukunya Proklamasi Agustus 1945, pada saat itu para pemuda sepakat untuk segera membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke luar daerah. Kesepakatan itu juga didukung oleh Singgih yang mewakili tentara Peta.

“Putusan terhadap Bung Karno dan Bung Hatta, mereka harus dibawa menyingkir keluar kota, di daerah di mana rakyat dan tentara siap untuk menghadapi segala kemungkinan.. jika proklamasi sudah dinyatakan,” jelasnya, di halaman 46.

Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya dibawa ke luar kota. Perjalanannya dilaksanakan di pagi hari menuju desa Rengasdenglok. Saat itu, Bung Karno dibawa beserta istrinya Fatmawati dan anaknya Guntur yang baru berusia 9 bulan.

Sedangkan Bung Hatta diangkut bersama Sukarni dengan pengawalan ketat tentara Peta yang dipimpin oleh Singgih. Sedangkan Chairul Saleh membubarkan teman-temannya yang berada si Cikini 71.

Setelah mereka bubar, para pemuda revolusioner ini kembali ke pos rahasia masing-masing. Rombongan Bung Karno dan Bung Hatta sampai di Rengasdenglok  pukul 06.00 WIB dan disambut teriakan “merdeka!”

Pada saat itu, suasana Rengasdenglok dan sekitarnya dalam kondisi panas dan diselimuti ketegangan. Bupati Pandu dan Patih Djuarsa ditangkap oleh para pemuda. Bahkan, senjata tentara Jepang mulai dilucuti, dan rakyat angkat senjata.

Hingga para tentara Jepang, Pangreh Praja, dan Wadena akhirnya ketakutan. Rakyat berkumpul dengan membawa senjata tajam dan bambu runcing, serta meminta mereka untuk membebaskan tahanan untuk diserahkan kepada rakyat pribumi.

Perginya Bung Karno dan Bung Hatta pada saat itu membuat gempar masyarakat Jakarta dan langsung tersebar. Namun, para pemuda telah mempersiapkan kemungkinan terburuk untuk mengatasi kondisi itu.

Tokoh pemuda revolusioner saat itu antara lain, Aidit, MH Lukman, Sjamsudin, Suko, Pradjono, Darwis, Armunanto, Cornel Simanjuntak, Armansyah, AM Hanafi, Djohar Nur, Sidik Kertapati, dan lain-lain.

Kesepakatan para pemuda saat itu, apabila Bung Karno dan Bung Hatta tetap menolak memproklamasikan kemerdekaan dalam waktu dekat, maka akan dibentuk suatu Presidium Revolusi.

Setibanya di Rengasdenglok, Bung Karno dan keluarganya dipindahkan ke rumah yang lebih baik, milik seorang China tua bernama I Siong. Kemudian, para pemuda menjelaskan situasi dan keadaan yang terjadi kepada Soekarno-Hatta kepada I Siong.

Setelah mendengar penjelasan pemuda, Bung Karno dan Bung Hatta memahaminya. Namun, keduanya tetap enggan menyetujui keinginan pemuda memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pagi itu.

Lalu pada 16 Agustus 1945 sore, sekitar pukul 16.00 WIB, terjadi pertemuan perwakilan para pemuda dengan Soekarno-Hatta oleh Mr Subarjo dan rombongannya untuk menjemput Soekarno-Hatta, Sukarni, dan Sutardjo.

Pertemuan itu pun membuahkan hasil. Setelah Soekarno-Hatta mendengar persiapan pemuda untuk melakukan aksi revolusi, proklamasi kemerdekaan Indonesia akan diumumkan malam itu juga.

Diterimanya usulan pada pemuda itu membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari Jepang. Selanjutnya, Bung Karno dan Bung Hatta kembali dibawa ke Jakarta dengan pengawalan ketat dari tentara Peta.

Peristiwa itu memberi kesan tersendiri bagi Bung Karno dan terekam dalam buku Cindy Adams yang berjudul ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’. Penjelasan Bung Karno kepada Cindy Adams dalam buku tersebut terkesan negatif.

Bung Karno bahkan mengkambing hitamkan Sutan Syahrir atas peristiwa itu. “Dialah orang yang harus bertanggung jawab atas hasutan untuk menentangku dan atas segala peristiwa yang kemudian terjadi pada malam itu,” ungkap Bung Karno.

Perlu diperhatikan, tuduhan Bung Karno tersebut tidak sepenuhnya salah. Karena, dalam kelompok pemuda yang terlibat dalam perencanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia, juga terdapat Sutan Syahrir, Sudarsono, Sugra, dan sebagainya.

Meskipun kinerja kelompok Syahrir tidak terlihat nyata dan hanya berupa dorongan kepada Sukarni. Atau bisa dikatakan, sikap Syahrir sama dengan Soekarno-Hatta yang ragu dengan keputusan para pemuda.

“Apakah sunguh-sungguh siap organisasi kita bersama mengatur penyambutan proklamasi itu? Dan sampai di manakah tenaga dan atau kekuatan rakyat menyambut proklamasi itu,” ungkap Syahrir, dalam buku Adam Malik, halaman 32. Dikutip dari seranaunews.com

Pada 16 Agutus 1945 malam, Sutan Syahrir tidak menghadiri undangan saat para pemuda berkumpul di rumah Sukarni dan Maruto Nitimihardjo. Dalam situasi yang genting itu, Syahrir tiba-tiba menghilang dan tidak berada di tengah  para pemuda.

Sedangkan Bung Karno yang telah berada di rumahnya, langsung mengantar Fatmawati dan Guntur ke rumah Laksamana Maeda, Miyakodori, di Jalan Imam Bonjol I yang telah berkumpul sejumlah golongan tua lainnya di sana.

Chariul Saleh mewakili pemuda menyatakan penolakan ajakan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan. Menurutnya, badan itu sangat berunsur Jepang. Akhirnya, usul Saleh itu diterima oleh Bung Karno.

“Rapat ini bukanlah rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan, rapat ini adalah rapat wakil-wakil bangsa Indonesia,” terang Bung Karno, seperti dikutip dalam buku Sidik Kertapati, Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, hal 94.

Awalnya, proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan pada pukul 00.00 WIB. Namun, setelah melewati perdebatan panjang, pembacaan proklamasi akhirnya dilakukan pada pukul 05.00 WIB.

Lokasi pembacaan proklamasi awalnya di Ikada, namun rencana ini bocor. Sehingga, dipindahkan ke halaman Pegangsaan Timur No. 56 dan baru pukul 10.00 WIB, proklamasi kemerdekaan Indonesia dapat dilaksanakan.

Pembacaan proklamasi kemerdekaan berlangsung selama 15 menit, termasuk di dalamnya pidato pembukaan dan penutupan oleh Bung Karno. Demikianlah Indonesia merdeka bukan karena mengemis hadiah dan janji dari Jepang.

Sehari setelah pembacaan proklamasi kemerdekaan, 18 Agustus 1945, diselenggarakan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan terletak di sebuah gedung Pejambon No 1. Dalam rapat ini, hadir kelompok pemuda yang diwakili Wikana, Chairul Saleh, dan Sukarni.

Dalam rapat tersebut, Usul DN Aidit pada rapat di Institut Bakteriologi Pegangsaan pun terwujud. Bung Karno dan Bung Hatta terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama secara aklamasi.

Sebenarnya, terpilihnya Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama itu bukanlah hanya karena usul Aidit. Apalagi saat itu tidak ada calon saingan .

Pemilihan Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama berdasarkan usul dari Oto Iskandar Dinata. Usul ini, menurut Tan Malaka, sesuai dengan kemauan Jenderal Terauchi, Saigon.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaJokowi Salah Pilih Menteri, Yusril: Amatiran Mengurus Negara
Berita berikutnyaSalut! Pasca Penembakan Imam Masjid, Masyarakat Amerika Lakukan Aksi Simpatik Ini