Heboh! Demi Percepat Pembangunan Kim Jong – Un Paksa Para Pekerja Konsumsi Sabu-Sabu


North Korean leader Kim Jong Un pays a visit to the construction site of a terminal at Pyongyang International Airport in this undated photo released by North Korea's Korean Central News Agency (KCNA) in Pyongyang on July 11, 2014. REUTERS/KCNA (NORTH KOREA - Tags: POLITICS TRANSPORT BUSINESS CONSTRUCTION) ATTENTION EDITORS ? THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. REUTERS IS UNABLE TO INDEPENDENTLY VERIFY THE AUTHENTICITY, CONTENT, LOCATION OR DATE OF THIS IMAGE. FOR EDITORIAL USE ONLY. NOT FOR SALE FOR MARKETING OR ADVERTISING CAMPAIGNS. NO THIRD PARTY SALES. NOT FOR USE BY REUTERS THIRD PARTY DISTRIBUTORS. SOUTH KOREA OUT. NO COMMERCIAL OR EDITORIAL SALES IN SOUTH KOREA. THIS PICTURE IS DISTRIBUTED EXACTLY AS RECEIVED BY REUTERS, AS A SERVICE TO CLIENTS - RTR3Y5S5

Pembangunan kini menjadi fokus utama rezin Kim Jong-Un untuk meningkatkan citra mereka di mata dunia. Mirisnya, demi mengejar tenggat waktu berbagai mega proyek pembangunan, kabarnya pemerintah Korea Utara (Korut) memberikan narkoba jenis sabu-sabu pada para pekerja bangunan, yang diyakini mampu membuat mereka bisa ngebut bekerja.

Kim Jong-Un memang menginginkan berbagai proyek yang ada, khususnya yang berada di Ibu Kota Pyongyang bisa selesai sebelum musim dingin tiba. Sehingga salah satu strategi untuk bisa meningkatkan etos kerja para pekerja konstruksi adalah dengan memaksa mereka menggunakan crystal meth atau yang dikenal di Indonesia dengan sabu – sabu.

Hal ini diungkapkan oleh seorang manajer proyek di kota Pyongyang kepada  Telegraph, Rabu (10/8).

Dia mengaku terpaksa memberikan para pekerja narkoba jenis metamfetamina itu karena berada dalam tekanan untuk menyelesaikan proyek tepat waktu. Metamfetamina yang diberikan memiliki nama julukan “ice” di pasaran Korut karena bentuknya yang seperti kristal.

Jika ice dihirup melalui hidung atau mulut, maka akan memberikan efek euforia, meningkatkan energi dan menekan nafsu makan. Efek ini bisa berlangsung hingga 12 jam.

Ada ratusan ribu pekerja konstruksi di Korut yang harus menyelesaikan berbagai proyek pembangunan besar, termasuk gedung pencakar langit 70 lantai dan lebih dari 60 blok apartemen.

Proyek pembangunan itu disetujui tahun ini oleh Kim Joung- Un kendati negara itu tengah melarat akibat diganjar sanksi internasional karena menggarap senjata nuklir.
Namun cara ini rupanya mulai menuai resistensi di negeri yang dikenal paling misterius di dunia tersebut. Belum lama ini, seperti dilansir dari Radio Free Asia, para pekerja bangunan yang tidak terima dengan cara kejam tersebut, membuat berbagai graffiti bersifat sindira di berbagai sudut bangunan yang mereka kerjakan.

Salah satunya berbunyi: “Kecepatan Pyongyang adalah kecepatan narkoba,”

Bahkan atas situasi ini  banyak krititus dan praktisi tentang Korut, kini menjuluki para pekerja di sana dengan ‘pasukan narkoba’.

Tidak terima dengan sindirian tersebut, pejabat Kota Pyongyang berjanji akan melacak dan menangkap siapa-siapa saja yang bertanggung jawab atas graffiti tersebut. Mereka berjanji para pelaku akan dihukum dengan sangat berat.

“Penyidik memperingatkan para pekerja konstruksi bahwa mereka akan berat  karena peristiwa ini,” papar salah satu sumber internal Korut.

Namun oleh The Mirror, ancaman pejabat teras Pyongyang tersebut dianggap sia-sia, karena di sana saat ini jumlah graffiti dan vandalisme serupa sudah bermunculan sangat banyak, bak jamur di musim hujan.

“Sudah ada banyak graffiti dengan konten cabul di lokasi konstruksi atau di toilet umum, dan bahkan jika graffiti ini bernada politik,” lanjut sumber tersebut, seperti dikutip dari Mirror, Jumat (12/8/2016).